Jalan Dirawat, Manusia Diruwat


Pagi itu mentari hadir dengan senyum lebarnya. Setelah lebih dari dua pekan, mega dan mendung terus menyelimutinya, kali itu matahari kembali hadir  menyinari pagi. Pagi yang cerah memang membuat manusia lebih bergairah dalam memulai aktivitasnya. Demikian halnya dengan si Kenyung dan Bapake. Meskipun hari itu hari Minggu tidak menyurutkan semangat mereka berdua untuk sepagi mungkin melakukan kegemaran dolan-dolan dan dolanan sambil berkelana di sekitaran kampung tinggal mereka.

Jalan Lobang

Dengan sepedah susah (lawan dari funbike), bapak-anak tersebut nampak serasi berboncengan. Bapake di depan memegang kemudi stang dan mengayuh pedal dengan perlahan namun pasti. Sementara si Kenyung kecil duduk santai di boncengan belakang dengan senyum lebar penuh arti keriangan. Dengan suara lirih seolah ia tengah bersenandung:

Pada hari minggu kuturut ayah bersepeda,

Naik speda istimewa ku duduk diboncengnya,

Di belakang ayah yang sedang bersepeda,

Mengendara speda supaya baik jalannya,

 

Kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring,

Kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring,

Swara bel sepeda.

 

Tatkala stang sepeda dibelokkan ke arah kiri, keluar dari pinggiran sebuah akses jalan keluaran pintu tol, mulailah pengembaraan yang sesungguhnya. Selepas menyelinap pada celah kecil pada tembok pembatas jalan, ketemulah mereka dengan genangan air keruh sisa-sisa curahan hujan pada beberapa hari sebelumnya. Genangan itupun satu per satu menyusul dan berderetan sepanjang akses jalan yang beralas aspal tipis dan konblok tersebut. Meskipun jalan tersebut hanyalah sebuah lorong yang melingkari sebuah perkampungan yang makin terhimpit oleh gusuran perumahan elit, namun dulunya jalan itu sangat berjasa bagi warga kampung di sekitarnya. Namun setelah kini di bekas penggusuran kampung tersebut berdiri kawasan megah, justru jalanan tersebut juga terpinggirkan dan menyisakan jalanan yang sepi nan lengang karena pembatasan akses. Maka yang tertinggal hanyalah jalanan berlobang-lobang dengan genangan air keruh di hampir seluruh ruasnya yang tersisa.

Pergerakan si roda dua yang semakin sulit dan berat justru dimaknai oleh si Kenyung sebagai sebuah petualangan yang sebenar-benarnya petualangan. Ia nampak sangat menikmati dan beberapa kali berteriak lantang memberikan semangat kepada Bapake untuk lebih kuat menggenjot pijakan pedal. Bahkan tatkala kedalaman lubang sempat membenamkan kedua kakinya dalam air coklat nan keruh, si Kenyung semakin tertawa keasyikan.

Dengan nada serius bahkan ia berkomentar, “Jalan itu kan harusnya dirawat ya Pak! Jalan kan punya perasaan, masak orang-orang nggak tahu sich! Kasihan kan jalannya bolong-bolong.”

Sejurus kemudian tatkala menjumpai tumpukan sampah menggunung di tepian jalan yang sama, dengan bijak si Kenyung juga ngomyang, “Tanah juga punya perasaan juga ya Pak! Orang-orang sich sembarangan buang sampah! Tuh lihat, kan jadi kotor sembarangan kan?

Suara anak kecil memang senantiasa mewakili sebuah kejujuran. Bisa jadi apa yang diungkapkan seorang bocah dengan lugu bin lucu justru merupakan perwakilan suara Tuhan yang sedang secara langsung menegur manusia. Meskipun hanya sekedar suara si Kenyung yang seolah hanya sedang nglindur di pagi hari, tetapi bagi Bapake suara itu benar-benar mengandung pesan yang sangat mendalam dan penuh makna. Bagaimanapun juga, manusia saat ini memang cenderung mengeksplotasi sesuatu tanpa memikirkan perasaan sesuatu yang dieksploitasinya tersebut. Ha? Apakah setiap sesuatu itu memiliki perasaan? Memang hanya teori kecil yang seringkali diungkapkan si Kenyung bahwa setiap makhluk Tuhan pasti mempunyai perasaan. Tapi bukan tidak mungkin, jika dipikir-pikir secara nalar, rasa pangrasa anak kecil tersebut masuk akal juga sih.

Sambil terus mengayuh si “asepe tidak ada”, Bapake jadi malah melayangkan ingatannya kepada Ki Dalang Mantep Sudharsono yang sehari sebelumnya sempat nongol di sebuah tv swasta. Dalang kondang yang terkenal sebagai dalang ruwat tersebut tentu saja mbabar cerita mengenai hal ihwal peruwatan. Tindakan meruwat menusia bisa dianalogikan dengan tindakan untuk melakukan upaya pembersihan diri, baik jiwa maupun raga, jasmani, terlebih ruhaninya manusia. Hanya dengan jiwa raga yang suci, manusia baru bisa terhindar dari segala macam bencana dan malapetaka.

Ruwatan memang sekedar sebuah ungkapan bahasa tradisi dan budaya nenek moyang kita. Dalam ajaran berbagai agama, tindakan meruwat diri bisa dipersamakan dengan tindakan penyucian diri manusia yang diiringi dengan tindakan pertobatan untuk secara sungguh-sungguh tidak akan melakukan tindakan dosa yang pernah dilakukannya.

Manusia memang telah melakukan banyak kesalahan dan dosa. Hutan dibabat habis, bumi digali, gunung-gunung diratakan, rawa-rawa ditimbun tanah, sawah-sawah digusur, hingga yang tersisa hanyalah kerusakan lingkungan hidup yang semakin parah. Bahkan Tuhanpun telah mewanti-wanti kepada ummatnya dalam sebuah firman, “Telah nampak dengan jelas tanda-tanda kerusakan dunia akibat ulah manusia.” Semua akibat keserakahan manusia! Sampeyan sependapatkah?

Tidak terhenti hanya dengan tindakan pengrusakan lingkungan hidup, manusia juga mencuri, merampas, merampok, menipu, juga mengkorupsi harta benda dan hal milik orang lain. Segala tatanan nilai dan norma yang telah digariskan melalui agama, hukum, bahkan tata pergaulan diinjak-injak tanpa rasa berdosa. Peradaban agung yang selalu diperjuangkan oleh manusia-manusia mulia sepanjang masa, kini tercabik-cabik dan menyisakan pergaulan hidup yang penuh tindakan bar-barisme. Dunia sudah menjelma menjadi rimba raya. Siapa yang kuat dia yang akan memangsa yang lemah. Yang besar kembali memakan yang kecil. Yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin akan semakin abadi dalam kemiskinannya. Yang pintar hanya bisa minteri yang bodoh. Hukum sudah dibolak-balik menurut kepentingan para pemiliki modal. Manusia sudah sedemikian penuh dengan noda dan dosa.

Jika demikian yang tengah terjadi, salahkah jika memang jalanan harus dirawat maka manusiapun harus diruwat juga? Akh, sampeyan semua tentu sangat tahu dengan jawabannya. Masak kalah dengan daya nalar si Kenyung kecil tadi! Bukankah kita semua masih memiliki perasaan?

Ngisor Blimbing, 25 Januari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jalan Dirawat, Manusia Diruwat

  1. Ping balik: Sepeda Lintas Kota Lintas Provinsi | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s