Pak Slamet Tukang Pijet


Sore itu, sebagaimana hari-hari biasa yang lainnya, suasana lalu lintas di jalanan sangat padat. Selepas pulang ngglidhik di tempat kerja, seperti biasanya juga saya naiki sebuah angkot kecil di sela-sela kendaraan pribadi yang berjubel memperebutkan celah jalanan. Sebuah suasana keseharian yang sangat membosankan, bahkan mungkin juga sudah sampai pada taraf memuakkan.

Angkot yang saya masuki tinggal menyisakan sisa tempat duduk di dekat pintu. Dengan sedikit menganggukkan kepala kepada para penumpang lain yang bersesakan, sayapun kemudian mengambil tempat yang tersisa tersebut. Belum berapa lama duduk, terdengar kasak-kusuk seorang bapak yang duduk di sebelah pojokan sisi dalam. Lelaki setengah baya itu terlihat membawa bawaan yang sebagian dibungkus dengan karung bagor dan beberapa barang yang diikat erat. Rupanya ia tengah mencari-cari bagian tertentu dari barang bawaannya yang dirasakan kurang.

Waduh, batang penyangga kipasnya malah nggak ada. Ketinggalan di angkot yang sebelumnya berarti. Ealah…….”, gumam si bapak yang nampak sangat gelisah dan merasa kehilangan sesuatu.

Selintas kemudian sayapun baru nyadar bahwa ternyata si Bapak tersebut adalah saudara kita yang menderita tuna netra. Beberapa penumpang merasa simpati dengan si Bapak. Beberapa diantaranya kemudian turut membantu mencari dan mengamati barang yang dibawa si Bapak. Seorang penumpang perempuan berseragam putih abu-abu di sampingnya menunjukkan sebuah benda yang sekiranya tengah dicari-cari. “Lha yang ini apa Pak?”, tanya si anak perempuan.

Lelaki tuna netra itupun kemudian mengulurkan tangannya ke arah yang ditunjukkan si anak perempuan putih abu-abu. Sejurus kemudian ia berkata, “Ooo iya ini Mbak. Syukur alhamdulillah, tidak ketinggalan di tempat lain.”

Akhirnya suasana angkot sedikit lebih tenang dari kasak-kusuk kecil sebelumnya.

Ketika mobil angkot menikung di belokan Warung Mangga, si Bapak tuna netra berpesan kepada Bang Sopir, “Bang, nanti turun di bengkel Haryanto ya!” Suasana kesibukan jalanan yang riuh rendah dengan kemacetan membuat suara bapak tersebut tertelan suara sekitar yang menyisakan bunyi samar-samar bagi sebagian penumpang, termasuk saya.

Bergerak maju beberapa ratus meter, keadaan kemacetan mulai terurai dan angkot tersebut dapat bergerak lebih leluasa. Kesempat tersebut telah mendorong Bang Sopir menginjak pedal gasnya lebih dalam. Walhasil laju kendaraanpun bertambah cepat. Dengan gesit Bang Sopir mencari celah-celah yang memungkinkan angkotnya dapat bergerak secara lebih cepat. Hal ini membuat Bang Sopir lalai dan lupa dengan pesan si Bapak tuna netra tadi. Para penumpang lainnya juga terasa tidak ngeh, dengan pesan si Bapak tuna netra sebelumnya mengenai tempat dia mesti turun.

Laju angkot yang cepat seolah dibawa oleh Bang Sopir yang tengah kesetanan dan melampiaskan rasa kesalnya atas kemacetan sore itu. Bahkan tatkala angkot direm secara tersendat-sendat, tidak sedikit para penumpang yang sedikit kehilangan keseimbangan duduknya. Seorang penumpang bahkan sempat memperingatkan agar angkot berjalan lebih pelan dan berhati-hati mengingat keselamatan manusia yang berada di dalamnya. Terkesan oleh para penumpang, Bang Sopir memang ugalugalan, zigzag kanan-kiri, tancap gas dan main rem mendadak dalam mengendarai angkotnya. Intinya para penumpang merasa kurang nyaman hingga merasa mangkel dan menjadikan orang-orang mangkel.

Menjelang sebuah minimarket saya menyampaikan kepada Bang Sopir bahwasanya saya akan turun tepat di depan minimarket tersebut. Dengan satu hentakan rem yang mendadak, angkotpun terhenti di depan minimarket sebagaimana yang saya request. Bersamaan dengan itu, barulah para penumpang dan si Bapak tuna netra tersadar bahwa ia sudah keplantrang alias kebablasan. Seharusnya ia sudah turun sekitar 500 meter sebelum melewati minimarket tempat saya turun.

Dengan entengnya dan merasa tidak memiliki kesalahan serta dosa, Bang Sopir berkata yang jelas ditujukan kepada si Bapak tuna netra, “Turun di sini saja Pak. Jalan lagi ke arah belakang. Tidak jauh kok tempat tujuan Bapak tadi!” Pernyataan sopir tersebut benar-benar meledakkan emosi para penumpang yang lain yang sudah semenjak awal perjalanan merasa mangkel karena ulah ugalugalan Bang Sopir. “Dekat sih dekat Bang. Tetapi mbok yak dilihat, lha Bapake keadaannya khusus serta tidak ada satu orangpun  yang menemani perjalanannya.

Dengan sangat terpaksa si Bapak tuna netra akhirnya turun dari angkot, tentu saja ia sambil ngedumel dan mengumpat lepas. Saya yang turun bersamaan, akhirnya tidak tega juga. Dengan lirih saya sampaikan sebuah tawaran, “Sudah Pak nggak papapapa. Bapak turun di sini nanti saya antar jalan ke belakang sampai tempat Bapak.”

Sayapun akhirnya mbopong karung bagor dengan sesuatu isi di dalamnya. Sementara si Bapak tuna netra mengangkat ikatan semacam besi-besi dan kemudian menyunggi di atas kepalanya. Salah satu tangan dipergunakan memegang ikatan di atas kepalanya, sementara tangan yang satunya lagi memegang pundak saya yang kemudian berjalan beriringan sedikit di sebelah sisi depannya. Kamipun selanjutnya berjalan menyusuri tepian selokan di pinggiran jalanan, menuju arah balik.

Di tengah perjalanan yang bisa dibilang dekat tetapi juga jauh, si Bapak ngudarasa lebih panjang lebar. Ia menceritakan bahwa ia tinggal bersama istri dan ketiga orang anaknya. Meskipun ia menderita tuna netra namun ia pantang menjadi peminta-minta. Melalui kursus, ia mendapatkan ketrampilan pijat-memijat. Pemijat itulah profesi yang kini tengah ditekuninya. Ia sangat terkenal sebagai Pak Slamet si Tukang Pijat sebagaimana plang yang terpampang di muka gang kecil yang menuju rumah tinggalnya.

Akan tetapi mengandalkan hidup dari pekerjaan pemijat ternyata belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, ia rela bekerja keras, membanting tulang dan memeras keringat dengan memperbaiki kipas angin bekas. “Sakniki kan kipas angin gampang dan cepet rusaknya Mas. Banyak yang kemudian hanya dibuang saja, padahal onderdil atau perangkatnya masih bagus. Lha wong paling yang rusak hanya bagian mesinnya saja. Makanya saya mengumpulkan kipas angin yang masih bisa dipakai tersebut. Saya othak-athik sendiri, saya rangkai kembali, saya ganti bagian motornya yang sesuai, bisa dipakai kembali dech kipas tersebut. Ya, etung-etung saya modal beli mesin kipas angin. Saya jual kembali 70-80 ribu. Lumayanlah Mas buat penghasilan”, tuturnya dalam campuran bahasa Jawa yang medhok karena ia memang asli orang Jawa.

Dalam hati saya hanya mbatin, betapa luar biasanya si Bapak ini. Keterbatasan fisik yang dimilikinya tidak menyudutkannya kepada sifat putus asa. Ia tidak mau hanya sekedar kridha lumahing asta, alias megadahkan tangan dengan menjadi peminta-minta sebagaimana banyak dilakukan teman-teman senasibnya. Ia sangat meyakini bahwa setiap manusia telah dijatah rejekinya oleh Tuhan. Siapapun manusia yang mau berusaha dan bekerja keras, Tuhan pasti akan memberikan kemudahan teraihnya rejeki yang halal. Betapapun sulitnya, ia sangat bertanggung jawab terhadap keluarga, terhadap istri dan terhadap anak-anaknya.

“Mpun sampai di sini saja Mas”, suara Pak Slamet membuyarkan lamunan saya tatkala kami telah tiba di bawah plang bertuliskan Pijat Tuna Netra Pak Slamet. Meski samar atau mungkin sama sekali tanpa terlihat, Pak Slamet dapat menandai atau lebih tepatnya merasakan bahwa ia sudah di depan gang yang menuju rumah tinggalnya. Ia minta saya cukup mengantarkannya di bawah plang. Iapun menyalami saya dan berucap terima kasih yang terdalam.

Ternyata di samping Pak Slamet tukang pijat tuna netra di pinggiran selokan Kampung Potrosaran Magelang, ada juga Pak Slamet tukang pijat tuna netra yang lain, yang tinggal di pinggiran ibukota. Terima kasih bin matur nuwun atas mutiara hikmah kehidupan yang luar biasa untuk pembelajaran hidup yang luar biasa yang saya dapatkan di senja yang semakin remang kala itu. Semoga senantiasa keselamatan tercurahkan kepada Pak Slamet dan keluarga.

Ngisor Blimbing, 17 Januari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Pak Slamet Tukang Pijet

  1. Evi berkata:

    Pak Slamet yang luar biasa. Semoga dimudahkan rejekinya dalam menghidupi keluarga, amin

    Suka

  2. ikhsan berkata:

    Salut dengan kegigihan pak Slamet di tengah ketidak sempurnaanya. seharusnya pemerintah memberi perhatian lebih kepada orang-orang seperti pak Slamet ini agar bisa bekerja denga layak.

    Supir angkot gak di Jakarta gak di Magelang sama aja. sering ngebut kalau di ingatkan malah marah2, udah tau salah ngeyel tidak mau minta maaf. Harusnya para pemilik Angkot, bus dll agar mentraining para supirnya bagaimana cara melayani penumpang dengan baik dan mematuhi rambu2 di Jalan raya

    Suka

    • sang nanang berkata:

      betul mas, kisah ini semestinya menjadi cermin bagi kita yang dianugerahi kesempurnaan fisik tetapi masih terus mengeluh dan lupa bersyukur

      Suka

  3. Agus Mulyadi berkata:

    Le marai kepikiran ki kok yo iso beliau ndandani kipas ngganti mesin lan onderdil segala macem mung modal nrgogoh-ngrogoh… Duh, Pancene Gusti Alloh ki maha adil…

    Suka

    • sang nanang berkata:

      ya memang nggak pernah kebayang juga kan orang buta bisa mengenal bahasa, nama benda, bahkan mengenal sistem kerja berbagai peralatan….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s