Dunia Ahmaq!


Ahmaq, ternyata bukan ahmad. Keduanya bisa ditebak sebagai kata yang berasal dari khasanah bahasa Arab. Menilik dari kemiripan susunan hurufnya, saya pada awalnya mengira bahwa makna kedua kata itu tentu hanya beda-beda tipis, alias mirip. Terus terang, kata ahmaq inipun baru beberapa waktu yang lalu mulai saya dengar dan baca.

Adalah Kenduri Cinta edisi Januari 2014 yang mengambil tema diskusi mengenai “AHMAQ”. Dalam edaran mukadimah diskusi kurang lebih disinggung bahwa ahmaq memiliki arti pandir atau bebal. Secara etimologi, kata ahmaq berasal dari akar kata “hamiqa-yahmuqu“, berarti lemah, kacau, rusak akal, pikiran atau pendapatnya. Ahmaq seringkali dipakai untuk merujuk kepada sifat seseorang yang berpikir dengan kerancuan logika, kelumpuhan akal, dan nalar yang kacau-balau.

Setelah sedikit mengenal makna kata ahmaq, tentu saja kita menjadi sangat mafhum bahwasanya fenomena “ke-ahmaq-an” justru merupakan fenomena keseharian di tengah masyarakat kita. Hal tersebut sangat tercermin dari sajian media massa kita, dari tayangan acara televisi kita, dari pentas dunia politik kita, dari cara kepemimpinan pemerintah kita, bahkan dari dalam diri kita sendiri juga banyak sifat dan sikap ahmaq ini.

Ahmaq1 Ahmaq3

Pernah menyaksikan seorang ibu-ibu setengah baya berjilbab dicorat-coret mukanya dan dengan bangga serta penuh penghayatan jejingkrak, menari, teriak meledak-ledak sambil goyang itik atau bukak sithik joss? Jilbab yang semestinya menjadi hijab seorang muslimah, tidak hanya dalam pengertian aurat fisik, tetapi juga sebagai pagar ataupun pelindung agar seorang muslimah tidak terjebak kepada tindak, tingkah laku, kata-kata, karakter, gerak-gerik, termasuk pola pikir yang dapat merendahkan derajat martabat seorang perempuan mulia.

Ataukah ingatkah kita dengan karakter seorang juragan haji er-we yang sama sekali jauh dari cermin kemabruran seseorang yang telah tuntas menunaikan kelima rukun Islam? Haji yang mabrur, yang paripurna dan sempurna sudah semestinya membuahkan sikap, sifat dan akhlakul karimah yang mulia sehingga mampu menampilkan manusia yang menjadi tumpuan tauladan para saudara muslim di sekitarnya. Namun yang terjadi justru seorang haji yang selalu jumawa, sombong, merasa paling suci, paling benar dan berhak masuk surga. Ah, memang ahmaq benar menu tontonan sinetron kita!

Ahmaq2Tidak kalah ahmaqnya juga adalah kita semua yang dengan sukarela dan suka-suka justru  banyak menyukai acara-acara tayangan pandir dan sama sekali tidak mendidik tersebut. Setiap hari kita tidak bosannya mantengin layar tivi kita pada saluran yang menyiarkan acara tersebut. Sudah begitu, kitapun sama sekali tidak mau menerapkan sikap kritis. Kita justru seringkali terlena, terbius, terhanyut dan lalu tenggelam dalam sebuah kebodohan berjamaah yang semakin menjadi-jadi. Kita terjebak kepada kesenangan-kesenangan sesaat yang sesungguhnya berdampak sangat merusak bagi keberlangsungan tata nilai, norma, susila dan budaya kita dalam jangka panjang di masa depan kita.

Bukankah semua itu sisi-sisi sebuah sikap kerancuan nalar dan logika manusia normal? Bukankah itu sebuah cermin kepandiran manusia? Ya, sifat ahmaq itu tadi.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Dunia Ahmaq!

  1. Danang btl berkata:

    Sy suka acra knduri ctanya kyai kanjeng. Atau acra2 sejenis. Aplgh klo udh ngomongin konspiratif, budaya, dialognya mengalir, jlas, tdk normatif. Cak nun menyadarkn kita bhw slma ini pikiran kita tlh diprogram utk ya ahmaq td itu.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      betul Mas Danang, banyak pemikiran kehidupan yang perlu kita dekonstruksi kembali dan itulah peranan forum-forum yang digagas Cak Nun

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s