Lele Idola si Thole


Lha umumnya bocah kecil yang masih dalam masa pertumbuhan kan begitu aktif dan enerjik. Setiap hari, setiap saat, setiap waktu, penciladan, lari sana lari sini, tendang depan tendang belakang, lompat kanan lompat kiri, main bola, sepedaan, petak umpet, seolah tidak ada lelahnya. Ibaratnya mesin yang mengkonsumsi catu daya energi, baterai sosok bocah seolah tak kenal ada habisnya.Radya Lele

Sebagaimana hukum kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan energi tidak dapat dimusnahkan, tentu saja aktivitas enerjik seorang bocah sekalipun senantiasa membutuhkan asupan energi yang memadai. Tatkala usia seorang bocah masih di bawah tiga atau lima tahun, mungkin susu menjadi asupan penyedia energi yang utama bagi seorang bocah kecil. Pelan-pelan tentu saja asupan susu semakin dilengkapi dengan menu makanan yang lain, seiring perkembangan usia si kecil. Tajin, bubur, biskuit, pisang raja, jus buah, jus wortel, kemudian berkembang menjadi jenis makanan sebagaimana dikonsumsi anak yang berusia lebih tinggi, bahkan manusia dewasa. Nasi, sayur, lauk-pauk, buah-buahan menjadi variasi makanan anak remaja, manusia dewasa hingga orang tua dan lanjut usia.

Meskipun secara logika, semakin seorang bocah energik dalam beraktivitas tentu saja semakin ia menyerap atau mengkonsumsi asupan energi yang semakin banyak pula. Hal ini berarti semakin energik, seorang bocah semestinya juga menjadi semakin butuh banyak makan ataupun minum. Namun demikian, tidak jarang kita jumpai dalam masa pertumbuhan yang sangat pesat dan penuh enerjik tersebut, seorang bocah justru sulit makan alias kurang doyan makan.

Hal yang demikian termasuk terjadi terhadap si Thole. Di masa batita memang dia seolah doyan dengan makanan tambahan yang diberikan. Namun justru semakin usia bertambah, kok malah sulit makan nasi, terlebih lauk dan sayur. Nasi hanyalah menjadi menu selingan bagi si Thole. Menu utama hingga kini ya tetap susu. Makan nasi bisa jadi hanya 3-4 hari sekali. Telur dadar yang digoreng dengan cetakan kecil-kecil super mini si Thole lumayan mau. Dan ia seringkali hanya nyikat telur dadar mini itu dengan kecap. Nyam-nyam…..nyam!

Jenis makanan modern, sejenis kue dan roti-roti juga mana mau si Thole menyentuhnya. Apalagi pizza, hotdog, hokben, susi, ramen, bahkan ia seperti alergi. Sekedar ayam goreng ala fried chicken ataupun kremesan, ya hanya kremes dan tepung pembalut daging itu saja yang di-thithili dan dikunyah-kunyah. Kalau dagingnya yang suwir-suwir jelas ogahlah ia. Edan tenan bocah satu ini.

Yang sedikit agak lebih progesif dalam menu si Thole ya lele. Ia kini ketahuan sangat gemar dengan lele goreng. Hanya lele goreng lho ya! Kalau lele dimangut, iapun tetap geleng kepala. Soal lele goreng itupun, ia menspesialiskan diri hanya menyantap bagian ekor saja. Potongan ekor lele, nasi putih plus kecap sudah cukup mewah bagi si Thole. Meskipun kemudian ibune sering membeli lele mentah untuk dimasak sendiri, namun si Thole nampak kurang begitu suka.  Lele yang digoreng di rumah katanya tidak enaklah, pahitlah! Intinya tidak suka! Ia lebih nggathuk dengan lele yang dijual penjual pecel lele di seberang Masjid Al Mubarok. Jadilah setiap sore hari tertentu, si Thole selalu rutin meminta sholat maghrib di Al Mubarok dan meminta bonus lele dan es teh manis hingga mas-mase penjual jadi hafal sama si Thole.

Radya Bapak

Ketika pada suatu ketika secara iseng saya tanyakan kenapa si Thole sangat hobi makan lele. Secara berseloroh pula ia menjawab, “karena bapak sering manggil aku “thole“. Lele kan hewan yang laki-laki. Kalau hewan perempuan ya yuyu Pak!” Woalah, jagad dewa batara.

Tidak hanya sebatas soal makan. Si Thole ini bila diajak jalan-jalan kemanapun juga menampakkan gejala tidak sewajarnya anak kecil yang senantiasa merengek-rengek minta dibelikan mainan lah, jajanan lah, es cream lah, dll. Si Thole melihat itu semua paling klecam-klecem tok. Bahkan tidak jarang sebagai bapaknya saya malah trenyuh dan berusaha menawari si Thole untuk membeli sesuatu yang diinginkannya. Namun yang sering terjadi justru si Thole geleng kepala.

Jika memperhatikan hal ini, saya melihat jauh lebih dalam ke kedalaman batin si Thole. Saya mulai paham, mungkin si Thole memang tipologi bocah yang memiliki katuranggan wong pasa.  Ibarat dalam silsilah keluarga Pandawa di dunia pewayangan, diantara lima bersaudara tersebut, Raden Janaka si penengah adalah simbolisasi orang yang suka berpuasa. Ia terkenal sangat sering melakukan tapa brata, berlaku prihatin dan menahan hawa nafsu. Karena kebiasaan bertapa brata itu tingkah laku dan sifatnya sangat lembut nan halus. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian banyak para wanita dan putri yang gandrung dan terpikat kepadanya sehingga ia mendapat julukan sang lelananging jagad.

Adalah sikap dan sifat orang puasa yang tidak suka melampiaskan setiap keinginan terlebih sekedar godaan dan iming-iming kenikmatan sesaat, semisal makanan maupun mainan tadi. Makanan, mainan, atau apapun yang ada di hadapan dunia hanya dikonsumsi sebatas pemenuhan terhadap kebutuhan hidup. Bukan untuk sebuah kesenangan sesaat, terlebih melampiaskan hasrat ataupun berhura-hura. Apakah ke depannya setelah dewasa si Thole tetap mampu menjadi pribadi yang sederhana makan lele, tidak neko-neko, kalem, sumeleh, nrimo ing pandum dan sederhana dalam setiap tingkah laku dan gaya hidupnya? Ya, sebagai orang tua saya hanya bisa berdoa dan berpengharapan kepada Gusti Allah.

Lor Kedhaton, 9 Januari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Lele Idola si Thole

  1. Bahtiar berkata:

    podo karo lintang
    susah maem
    karo pak de ne digoreng ne iwak kerapu renyah

    tetep ngomong mung lele buatan warung kakilima seng paling enak 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s