Gas yang Semakin Gas-gasan Harganya


Gerbang tahun baru 2014 telah kita masuki bersama. Segala doa dan harapan akan sesuatu yang lebih baik di tahun yang baru tentu saja telah diungkapkan oleh hampir setiap orang. Namun apadaya, baru empat-tiga hari babak harapan baru dimulai untuk digapai, beberapa persoalan kebutuhan hidup masyarakat langsung menjadi polemik dan masalah serius yang mengguncangkan hajat hidup orang banyak. Salah satu masalah yang santer diberitakan di berbagai media massa maupun media sosial adalah kenaikan harga gas elpiji (LPG, liquid petrolium gas), atau gas alam cair.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam rangka mengurangi konsumsi energi dari bahan bakar fosil, khususnya minyak bumi yang cadangannya semakin menipis dan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kini negara kita sudah menjadi net importing country, semenjak periode pertama masa pemerintahan SBY telah dilakukan program konversi penggunaan minyak bumi beralih ke gas. Khususnya untuk sektor rumah tangga, konsumsi penggunaan gas untuk “mengepulkan dapur” telah hampir merata hingga ke daerah-daerah pelosok desa. Warga desa yang dulu banyak bergantung kepada kayu bakar untuk keperluan masak-memasak, kini sebagian besar telah beralir ke kompor gas.

Gas, kini suka tidak suka, mau tidak mau telah menjadi komoditas kebutuhan hajat hidup masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Gas bisa dibilang menjadi salah satu item dari kebutuhan pokok kita semua. Sebuah kebijakan atau perubahan layanan yang terjadi dalam sistem per-gas-an nasional tentu saja akan sangat siginifikan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat di negara kita. Persoalan gas bisa memicu gangguan stabilitas ekonomi maupun kerawanan sosial di tingkat akar rumput. Hal inilah yang kini telah menjadi persoalan yang meresahkan kita semua.

Semenjak tanggal 1 Januari kemarin, Pertamina secara resmi telah menaikkan harga gas elpiji dalam kemasan tabung 12 kg. Bukan main-main, kenaikan harga tersebut mencapai besaran lebih dari 50%. Meskipun menilik dari berat kemasannya, para konsumen atau pengguna tabung gas ukuran 12 kg lebih banyak didominasi oleh masyarakat menengah ke atas atau untuk sektor usaha kelas menengah. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa para pengguna gas elpiji  kemasan 12 kg yang terkena imbas langsung kenaikan harga akan segera beralih kepada penggunaan tabung gas 3 kg. Jika hal demikian yang terjadi, maka sesuai dengan hukum pasar dimana pada saat supply barang sedikit maka harga akan mengalami kenaikan. Maka imbas kenaikan harga nantinya juga akan merembet kepada gas elpiji dalam kemasan 3 kg, yang juga berarti menyentuh kepada kepentingan dan hajat hidup masyarakat akar rumput.

Apakah yang mendasari Pertamina melakukan tindakan penaikan harga gas elpiji tersebut? Konon dalam kegiatan pelayanan penyediaan gas elpiji kepada masyarakat selama ini Pertamina mengalami kerugian yang tiadk sedikit. Dengan menaikkan harga gas elpiji untuk kemasan tabung 12 kg, kerugian tersebut dapat lebih ditekan. Benarkah demikian? Informasi ini seolah tidak masuk akal karena Pertamina adalah pemegang monopoli urusan per-gas-an di tanah air. Tentu saja kita semua tidak akan paham apa yang terjadi secara internal di dalam Pertamina kaitannya dengan besaran harga elpiji selama ini.

Semenjak masa pemerintahan presiden yang sekarang, banyak berbagai permasalahan ekonomi  yang menyangkut hidup orang banyak diserahkan juga kepada mekanisme pasar. Artinya harga suatu komoditas barang atau jasa diserahkan kepada hukum tawar-menawar yang terjadi tanpa pemerintah melakukan campur tangan. Jika penawaran tinggi sementara permintaan rendah, maka harga akan turun. Sebaliknya jika penawaran rendah sementara permintaan tinggi, maka harga akan naik. Konon hal ini dilakukan untuk menekan anggaran subsidi energi yang seringkali dinilai tidak tepat sasaran. Dengan demikian, pemerintah hanya memposisikan diri selaku pengatur dan fasilitator. Jika demikian halnya, lalu pihak manakah yang mengemban amanat konstitusi untuk melindungi hajat hidup orang banyak?

Jikapun nantinya banyak pengguna gas elpiji yang selama ini menggunakan tabung gas kemasan 12 kg berhijrah dan pindah menggunakan gas yang berukuran 3 kg, maka sudah pasti gas kemasan ukuran 3 kg yang selama ini banyak digunakan masyarkat kelas akar rumput juga akan semakin menipis persediaannya. Keterbatasan penyediaan dan tingginya permintaan atau kebutuhan di pasaran sudah pasti akan berdampak terhadap kenaikan harga gas elpiji. Suka tidak suka akhirnya gas elpiji ukuran tabung 3 kg juga kelak harganya akan merangkak naik. Lagi-lagi rakyat kecil juga yang akan terkena imbasnya secara langsung.

Di sisi lain, keputusan Pertamina untuk menaikkan harga gas elpiji kemasan 12 kg juga terkesan sangat mendadak dan sangat kurang sosialisasinya. Masyarakat kecil sangat merasakan shock yang sangat luar biasa. Ditambah lagi hingga detik ini tidak ada campur tangan pemerintah secara langsung di tingkat kebijakan ataupun pengaturan. Ketika Wapres diperintahkan melakukan koordinasi dalam mengantisipasi dampak yang terjadi akibat kenaikan dan kelangkaan stok gas elpiji ukuran tabung 12 kg, justru belum ada kebijakan, keputusan ataupun  pernyataan yang dirumuskan pemerintah secara cepat dan tepat sasaran.

Tentu saja sebagai bagian akar rumput, kita sangat mengharapkan aparatur negara atau pemerintah yang memiliki kewenangan dan kapasitas, dapat segera turun langsung mengantisipasi dan merumuskan kebijakan yang melindungi hajat hidup orang banyak. Jika hal tersebut tidak terjadi, apakah kita masih merasakan kehadiran serta peranan negara di tengah-tengah keseharian kita? Ataukah memang benar bahwa kita kini tersudut dalam sebuah roda pemerintahan negara yang autopilot? Tidak ada pemimpin dan kepemimpinan yang mampu mewujudkan harapan serta cita-cita hidup keseluruhan warga negara. Akh, semoga segera ada solusi permasalahan tersebut di atas agar tidak merembet ke berbagai persoalan lain yang mungkin bisa jadi lebih rumit bin ruwet. Gas yang semakin gas-gasan kenaikan harganya itupun segera dapat stabil kembali sebagaimana hari-hari sebelumnya. Matur nuwun.

Ngisor  Blimbing, 4 Januari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Gas yang Semakin Gas-gasan Harganya

  1. Utroq Trieha berkata:

    Weks,
    Gak sengaja bikin jurnal kemarin dengan tema serupa…
    Iya kang jian njelehio tenanik..

    Aku sempet dicurhati oleh seorang temen yang lumayan “prasaja” hingga memiliki usaha kecil, dimana dalam usahanya menggunakan gas sebagai penunjang utamanya
    Dia bilang, “Aku ini lho wis tertib nganggo gas bersubsidi, kebutuhanku ora mung bab subsidi lan orane. Njuk nek kahanane kaya ngene kepiye. Wong cilik mung nggo permainan thok! 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s