Pasir Digali, Harap Merapi Tetap Lestari


Kaliputih1Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan gunung api teraktif di dunia. Kalangan ilmuan, peneliti hingga para pelaku ajaran religi mempercayai bahwa Merapi senantiasa menyimpan sejuta misteri. Sangat tergantung bagaimana masyarakat memperlakukan Merapi, demikian halnya Merapi akan berlaku kepada mereka. Merapi adalah sahabat dan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat hingga di empat arah lima pusarnya yang meliputi gunung Merbabu, Andong, Sumbing, Sindoro dan pegunungan Menoreh.

Sebagai sebuah gunung api yang aktif, Merapi merupakan saluran keluaran material dalam bumi melalui aktivitas erupsi maupun efusifnya. Materi gas, uap, hingga debu, pasir, krikil, krakal, dan batuan mengalir dari kawah Merapi yang berbentuk kerucut strato. Batuan dan pasir Merapi terkenal sebagai material dengan kualitas nomer wahid. Struktur dan bangunan candi Borobudur merupakan salah satu bukti kualitas batuan Merapi yang masih gagah berdiri seolah tak lapuk ditelan jaman.

Abu vulkanik Merapi menebarkan pupuk alamiah yang tidak pernah diproduksi oleh teknologi manusia manapun. Kelebatan hutan di selingkaran Merapi juga merupakan daerah serapan air yang menghadirkan banyak mata air maupun sungai yang berhulu di sisi atas Merapi. Paduan antara pupuk vulkanik alami dengan kelimpahan air menjadikan Merapi sebagai kawasan yang sangat subur untuk kegiatan pertanian, perkebunan, maupun kehutanan. Merapi menyimpan sejuta sumber daya alam yang akan mampu menopang kehidupan manusia di sekitarnya.

Keberadaan material vulkanik hasil proses erupsi Merapi memang memiliki potensi risiko yang membahayakan penduduk di selingkaran Merapi dikarenakan kemungkinan terjadinya guguran lava, awan panas, hingga aliran lahar dingin. Namun demikian, di samping sisi bahaya, material-material tersebut juga menjadi berkah tersendiri bagi para penambang pasir dan batu Merapi. Pasir dan batu Merapi sangat terkenal memiliki kualitas terbaik untuk bahan bangunan. Tidak sedikit penduduk yang menggantungkan hidup dari aktivitas menambang pasir dan batu tersebut. Pada uraian selanjutnya, pemaparan lebih dikhususkan kepada perkembangan penambangan pasir di wilayah Kabupaten Magelang.

Pada awalnya kegiatan penambangan pasir hanya dilakukan secara tradisional dan terbatas di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi, seperti kali Gendol, Bebeng, Krasak, Putih, Blongkeng, Lamat, Senowo, hingga Pabelan. Dengan peralatan sederhana, seperti cangkul, linggis, dan slenggrong, para penambang hanya mencari peruntungan dengan mengumpulkan endapan pasir yang terbawa air. Praktis material yang ditambang hanyalah material yang turun di bagian hilir sungai sebagai lahar dingin. Dengan demikian, pola penambangan pasir Merapi hanya dilakukan dalam skala terbatas dan dengan metode atau cara tradisional oleh para penambang perorangan.

Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan pernanan pemerintah menggagas proyek “damisasi” sebagai upaya untuk mengurangi bahaya akibat dampak yang bisa ditimbulkan oleh terjadinya banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai, di samping memperkuat tanggul sungai, di sisi atas aliran sungai juga banyak dibangun bendungan pengendali yang dikenal sebagai check dam. Pembangunan check dam mengadopsi teknologi sabo yang digagas ilmuan dari negeri Jepang. Hal tersebut dilakukan pada dekade akhir tahun 80-an, semasa pemerintahan orde baru.

Kaliputih5Keberadaan bendungan-bendungan pengendali lahar dingin yang mampu menampung ribuan meter kubik pasir dan batu menjadikan material tersebut tertampung atau terkonsentrasi di dalam bendungan-bendungan yang terdapat di sisi atas aliran sungai. Perlahan-lahan aktivitas penambanganpun beralih ke sisi hulu sungai yang sudah bersentuhan langsung dengan kawasan hutan lindung dan wilayah konservasi. Di samping hijrahnya para penambang pasir ke sisi atas, beberapa pengusaha besar mulai masuk untuk turut melakukan aktivitas penambangan dengan menggunakan peralatan berat, seperti traktor dan big hoe.

Sesuai dengan ruang lingkup pengaturan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan-bahan Galian, material hasil aktivitas gunung Merapi tergolong sebagai bahan galian kelompok C. Meskipun tidak secara strategis atau vital bersinggungan langsung dengan kepentingan negara, tetapi aktivitas penambangan bahan galian kelompok ini juga sangat rentan menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Demikian halnya yang terjadi di wilayah lereng gunung Merapi.

Tatkala skala penambangan pasir dilakukan lebih masif dan mempergunakan berbagai peralatan berat yang lebih canggih, dimulailah masa keserakahan dan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi sumbar daya alam tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Yang banyak terjadi kemudian adalah penambangan secara liar, ilegal dan tanpa kendali. Tidak hanya cukup dengan menambang pasir di dalam check dam, penggalian pasir terus menerabas tebing-tebing sungai, bahkan tak sedikit yang memasuki tutupan hutan lindung. Lahan di seputaran lereng Merapi seolah telah dikapling-kapling oleh pihak-pihak tertentu sehingga mengesankan adanya mafia-mafia jahat yang tidak bertanggung jawab.

Dari sisi lingkungan hidup, yang terjadi adalah perusakan secara masif, terstruktur, dan tersistem. Hutan-hutan menjadi rusak, daerah resapan air berkurang secara drastis, mata air-mata air mulai mengering, sungai-sungai menjadi susut aliran airnya, kesuburan tanah berkurang, hingga akhirnya usaha-usaha di bidang pertanian, perkebunan, serta perikanan di seputar Merapi mengalami kemunduran yang sangat signifikan. Tidak hanya sampai di situ, sumur-sumur warga sebagai sumber air bersih yang menopang kebutuhan hidup sehari-hari juga lambat laun mengalami kekeringan. Merapi yang hijau ijo royo-royo, Merapi yang subur makmur, Merapi yang indah pelan namun pasti hilang ditelan deru mesin penambang pasir.

Degradasi daya dukung lingkungan hidup masih ditambah lagi dengan rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan akibat lalu-lalangnya ribuan truk yang mengangkut pasir Merapi setiap harinya selama hampir 24 jam tanpa henti. Lalu kendaraan angkut tersebut juga menimbulkan debu pasir dan tanah yang semakin menyesakkan akibat polusi udara yang sangat parah. Demikian halnya dengan deru mesin kendaraan angkut yang tiada henti juga menimbulkan kebisingan yang membuat warga desa semakin kehilangan ketentramannya.

Apakah hiruk-pikuk penambangan pasir masif yang serampangan tersebut benar-benar telah mempu membangkitkan ekonomi warga sekitar? Sepanjang yang saya rasakan selaku salah satu warga di pinggiran Merapi, hampir tidak berpengaruh secara menggembirakan. Para penambang pasir tradisional merasa semakin terpinggirkan akibat persaingan dengan peralatan berat. Meskipun sempat dibentuk Asosiasi Pengusaha dan Penambang Pasir Merapi (APPI), akan tetapi tetap saja yang kecil semakin terdesak sedangkan pemegang modal besar semakin kaya dan berkibar. Justru posisi warga Merapi yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas penambangan Merapi hanya turut menuai kerugian akibat dampak kerusakan lingkungan hidup yang terjadi.

Puncak dari keserakahan itu adalah semakin menipisnya pasir Merapi dan kerusakan kawasan hutan lindung serta wilayah konservasi yang sempat diperparah dengan aksi ilegal logging yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab pada masa tumbangnya orde baru. Hal-hal tersebut tentu saja memberikan dampak kerugian yang sangat luas kepada masyarakat Merapi secara keseluruhan.

Pasca terlahirnya era reformasi, menghadapi kenyataan rusaknya lingkungan Merapi menyadarkan beberapa pihak, termasuk pemerintah daerah, para penambang pasir, serta masyarakat luas untuk mulai melakukan langkah-langkah rehabilitasi alam dengan menggalakkan kembali reboisasi, serta kebijakan pembatasan izin penambangan. Meskipun pulihnya lingkungan Merapi tidak serta-merta dapat kembali dalam kurun waktu yang cepat, tetapi paling tidak laju kerusakan dan degradasi daya dukung alam Merapi tidak secepat waktu-waktu sebelumnya.

Kejadian erupsi besar gunung Merapi pada akhir tahun 2010 seolah telah membalikkan keadaan. Aktivitas erupsi telah mengembalikan jumlah cadangan pasir di puncak Merapi dan sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncaknya. Kesuburan tanah pertanian juga telah dikembalikan dengan guyuran abu vulkanik dan kembalinya cadangan air yang mencukupi kebutuhan masyarakat. Belajar dari pengalaman di masa silam, ke depan pola penambangan pasir harus dilakukan dengan sangat bijaksana dan mengedepankan langkah-langkah konservasi kelestarian lingkungan hidup. Bolehlah pasir Merapi digali, tetapi tanpa mengabaikan harapan agar Merapi tetap lestari.

Ngisor Blimbing, 1 Januari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s