Cupu Manik Ngasta Ipad


Akhir-akhir ini, si Kenyung bolehnya ngeyel terus minta Pakdhenya ndongeng cerita menjelang tidur. Maka sebagai sisa manusia penganut tradisi yang paham akan manfaat berdongeng kepada para bocah melalui tutur tinular, turturing atur tinularing pekerti, Pakdhe Blongkang yang suka ongkangongkang itu sudah pasti tidak mampu menolak terlebih selak terhadap permintaan prunannya tersebut.

Pakdhe, mbok saya diceritake dongeng manusia yang berubah wujud jadi kera itu lho!” pinta si Kenyung suatu malam menjelang tidurnya. Pada beberapa malam sebelumnya kebetulan si Kenyung sudah mendapatkan dongeng mengenai kisah Ajisaka dan huruf Hanacaraka-nya.

Maka sambil ngeling-eling apa yang dimaksudkan si Kenyung, Pakdhe Blongkang balik bertanya kepada prunannya, “Apa kisah si Kera Putih Anoman po Le?”

Iya, Dhe! Kisah Anoman si Kethek Putih itu. Betul, kisah Anoman!” sambil ngglepar-ngglepar di atas gelaran tikar di muka tivi ruang tengah.

Akhirnya mengalirlah sepenggal kisah dari epos besar Ramayana berkisah mengenai asal-usul si Kera Putih Anoman. Dengan pelan dan pasti, Pakdhe Blongkang memulai kisahnya, “Alkisah pada jaman pra Ramayana, hiduplah dengan damai seorang pertapa tua di tepian sebuah hutan. Ia bernama Resi Gotama. Resi Gotama beristri Dewi Indradi dan dikarunia tiga orang anak, dua laki-laki dan satu orang perempuan. Kedua anak lelaki tersebut masing-masing bernama Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi, sedangkan yang perempuan bernama Dewi Anjani.”

Sebagai seorang ibu dengan kelembutan hati perempuannya, Dewi Indradi sangat sayang kepada Dewi Anjani, meski tanpa mengurai bobot rasa cintanya kepada Guwarsa dan Guwarsi. Maka semenjak usia kecil, Dewi Indradi telah memberikan sebuah cupu untuk sarana dolanan putri tercintanya. Setiap kali Anjani menangis dan merengek, maka cupu tersebut selalu dipergunakan untuk meredakan tangis Anjani. Anjanipun senantiasa terhibur dan melupakan kesedihannya. Cupu tersebut bernama Cupu Manik Astagina yang diberikan oleh Bethara Surya.

Cupu? Cupu itu apaan to Dhe?” tanya si Kenyung penuh rasa penasaran.

Pakdhe Blongkang agak tergagap dan bingung untuk menjelaskan pengertian dari sebuah benda yang bernama cupu tersebut. Namun dengan bijak ia mencoba menjawab, “Cupu itu benda seperti wadah cincin itu lho Le. Cupu Manik Astagina itu sebuah cupu yang sangat keramat. Jika dibuka tutupnya, maka pada permukaan tutup bagian dalam tersebut, Anjani dapat melihat angkasa raya seisinya. Ada matahari, bintang-gemintang, awan dan mega, bulan, planet-planet dan lain sebagainya. Adapun bagian bawah cupu bisa memperlihatkan bumi dan segala macam isinya. Ada gunung, lautan, samudera, desa-desa, sawah-ladang, dan komplit semua hal yang ada di dunia ini. Singkat cerita dengan cupu tersebut, manusia bisa mengetahui banyak hal di alam semesta ini”

Haaaaa….!!! Kok bisa Pakdhe? Kalau jaman sekarang, cupu itu kayak apa sich?” si Kenyung meminta penjelasan yang lebih nalar dari pakdhenya.

Pertanyaan si Kenyung memang gawat keliwat-liwat. Namun demikian, Pakdhe Blongkang jadi teringat sesuatu sehingga ia segera menjawab, “Ya, bisa kayak remote tivi itu to Le! Dengan pencat-pencet tombol, manusia bisa memilih channel yang dapat memperlihatkan aneka ragam informasi dari berbagai penjuru dunia. Bahkan aneka film, game dan acara hiburan juga bisa dipilih”.

Pakdhe Blongkang melanjutkan, “Karena yang memiliki dolanan istimewa itu hanya Dewi Anjani, maka lama-kelamaan saudara-saudara yang mengetahuinya menjadi iri hati dan juga ingin memiliki cupu ajaib tersebut. Perebutan sengit terjadi, hingga cupu terlontar dan terbang melayang untuk kemudian terjatuh di dalam Telaga Nirmala. Pada saat Guwarsa dan Guwarsi terjun menyelam ke dasar telaga untuk mengambil cupu, sebuah keajaiban terjadi. Tubuh mereka berdua seketika itu malih rupa menjadi sosok kera yang sangat mengerikan. Adapun Dewi Anjani yang tidak ikut terjun ke dalam telaga, ia sempat membasuh mukanya dengan air telaga ketika ia merasa kelelahan setelah berlarian turut mengejar cupu yang terbang. Muka dan tangan Dewi Anjanipun seketika itu berubah pula menjadi muka dan tangan kera.”

Cupu Manik Astagina itu barang sangat keramat. Lebih maju dari remote tivi saat ini, mungkin cupu yang lebih sakti di samping remote tivi ya i-pad itu lho Le. Manusia jaman sekarang kan begitu gandrung dengan teknologi informasi hampir tanpa batas yang bernama internet. Nah salah satu alat pengakses internet yang sudah bisa dibawa kemana-mana secara praktis ya diantaranya i-pad itu to!” Pakdhe menjelaskan lebih panjang lebar kepada si Kenyung yang juga telah mulai mengenal i-pad dari para sepupunya.

Di akhir tahun beberapa waktu lalu, padepokan Tjipto Budoyo mementaskan kisah wayang orang yang mengisahkan soal Cupu Manik Astagina tersebut. Dalam pagelaran di Bentara Budaya Jakarta yang didalangi oleh Sitras Anjilin tersebut, justru Cupu Manik Astagina telah menjelma menjadi i-pad. Kemana-mana Dewi Anjani yang diperankan oleh seorang seniwati  jebolan ISI senantiasa bertemankan i-pad. Ia menari kian kemari dengan membawa i-pad. I-pad bukan saja telah menjadi trend semata, namun i-pad justru sudah menjadi bagian kebutuhan hidup yang mau tidak mau, suka tidak suka bahkan sudah setengah menggantikan Tuhan. Manusia seolah sudah sedemikain bergantung kepada benda canggih ciptaan teknologi manusia tersebut.

Internet bisa jadi merupakan teknologi pencapaian olah pikir manusia yang tercanggih saat ini. Melalui internet dunia seolah menjadi sedemikian datar dan bisa diakses setiap saat dengan cara yang sangat super cepat. Dunia menjadi kian menyempit sebatas dunia maya. Melalui pengembaraan di dunia maya, kita dapat mencapai tempat-tempat yang jauh dan terpencil di puncak gunung ataupun di kedalaman samudera sekalipun. Informasi, hiburan, berita, gambar, lagu, video, film, atau apapun seolah telah tersedia lengkap nan kumplit di dalamnya. Bahkan melalui internet juga telah terlahir sosok “ahli nujum” yang serba luas pengetahuan dan pengalamannya mengenai segala macam hal. Dialah Mbah Google yang siap menjawab setiap pertanyaan yang disampaikan kepadanya dengan lengkap, panjang lebar dan valid.

Internet memang sebuah potensi luar biasa yang semakin memajukan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi manusia di masa depan. Namun di balik segala manfaat dan daya gunanya, ibarat pedang bermata ganda, internet juga memiliki sisi negatif yang bisa merugikan ataupun merusak sendi-sendi kebudayaan manusia. Di samping menyediakan sumber daya informasi yang sangat luar biasa, internet juga banyak dicemari dengan content-content yang berbau pornografi, pornoaksi, kekerasan, SARA dan juga aksi tipu daya dengan berbagai modus dalam transaksional online. Internet bisa menjadi sarana dan alat untuk melakukan berbagai motif dan tindakan kejahatan yang jelas-jelas melanggar norma dan hukum. Istilah cybercrime sudah cukup familiar di kalangan masyarakat kita.

Sama persis dengan Cupu Manik Astagina, internet juga bisa menjadi sangat berbahaya dan menjerumuskan penggunanya. Adalah sebuah kedewasaan pikir dan kebijaksanaan dalam bersikap harus melandasi penggunaan internet. Internet harus dipergunakan secara sehat dan bijaksana dengan mengoptimalkan segala potensi positifnya dan menekan seminimal mungkin potensi merugikan yang menyertainya. Jika hal demikian tidak diindahkan, jangan heran jika justru dunia akan semakin terpuruk kepada kajahiliyahan modern yang lebih menghancurkan kehidupan manusia. Bahkan sangat mungkin manusia menjadi lebih hina-dina dibandingkan para kera yang menjelma akibat memperebutkan Cupu Manik Astagina.

Dunia memang terus bertranformasi menuju era yang lebih canggih dan modern. Namun kisah simbolik di balik dongeng-dongeng masa lalu nampaknya masih akan senantiasa relevan, kontekstual dan aktual untuk mengungkap berbagai fenomena modernitas yang terjadi. Dengan demikian kita harus mengacungkan jempol kepada ketajaman pikir para pujangga di masa silam yang mampu merumuskan berbagai hal, bahkan untuk kurun waktu yang belum datang sekalipun. Tidak akan pernah ada ruginya ketika kita melangkah lebih maju ke masa depan, kita juga sembari menengok dan mempelajari berbagai warisan pemikiran dari masa silam sebagai dasar pijakan dalam melangkah untuk menggapai masa depan yang lebih gemilang. Masa lalu, masa kini dan masa depan adalah sebuah jalinan kisah yang tidak pernah terpisahkan satu sama lain. Hanya manusia yang tetap eling lawan waspada, senantiasa mau belajar akan selamat menjalani kehidupan, baik di alam dunia ataupun hingga alam akhirat.

Ngisor Blimbing, 29 Desember 2013

Foto diambil dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Cupu Manik Ngasta Ipad

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Hahaha, judul’e ngalang Pakem… tapi tepo karo jaman saiki… nek saiki, iPad ki malah luwih sekti mbangane Cupu Manik, lha nek cupu manik kan mung iso ndelok gambaran donya langit gunung, dll. Tapi nek iPad malah ora trimo mung kuwi, wong wedok wudoh we iso didelok soko kono, hehehe…

    Suka

    • sang nanang berkata:

      lha jaman semono sing iso didelok nganggu cumu kuwi yo langit sak isine, donya yo sak isine…..termasuk wedokan barang kuwi kan isine jagad dab! dadi tetep canggih cupu manik nek didelok seko era jamane berimajinasi lho yo

      Suka

  2. Andy MSE berkata:

    avatare mas nanang pipine cupu-cupu… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s