Aqiqah alias Kekahan


Kelahiran adalah momentum yang sangat penting bagi perjalanan hidup manusia. Bagaimanapun, kelahiran menjadi titik pijakan awal seorang manusia ketika hadir ke muka bumi. Betapapun demikian, sebagaimana jodoh, rejeki dan maut, kelahiran adalah kuasa penuh yang telah digariskan Yang Maha Kuasa. Kapan kita lahir, dari ibu yang mana kita dilahirkan, kepada siapa kemudian kita menyapa bapak, dimana kita dilahirkan, memiliki rambut kriting, ngombak, ataupun berkulit sawo matang, putih mulus, negro hingga albino, adalah di luar batas pilihan kita selaku si jabang bayi. Seratus persen, semuanya terserah kreasi dan kersaning Gusti Allah.

Aqikah1  Aqikah2

Namun demikian, pada umumnya setiap kelahiran selalu disambut dengan senyum kebahagiaan. Kelahiran menghamparkan keluasan harapan hidup. Sebagaimana munculnya fajar matahari di kala pagi, laksana tumbuhnya tunas baru pada pucuk tanaman, bagaikan terbitnya terang selepas gelap, kelahiran membawa nafas baru. Kelahiran membawa energi baru, semangat baru, kekuatan baru, dan segala kemungkinan hal baru yang senantiasa menjadi harapan manusia. Kelahiran menghadirkan daya hidup kehidupan.

Kelahiran selanjutnya identik dengan datangnya anugerah dan kenikmatan dari Tuhan Yang Esa. Selayaknya sebagai anak manusia yang serba lemah, sudah sepantasnyalah apabila anugerah dan kenikmatan tersebut harus disikapi dengan sikap penuh rasa syukur ke hadirat-Nya. Bangsa Jawa diantaranya memiliki tradisi brokohan dalam rangka mengungkapkan rasa syukur tersebut. Keluarga yang ketambahan anggota baru atas hadirnya si jabang bayi membuat sekedar among-among nasi putih yang dipenuhi balutan sayur urap dengan bumbu parutan kelapa yang sedap, lengkap dengan lauk-pauk sekedar tempe, tahu ataupun rempeyek kedelai. Uba rampe brokohan tersebut terbungkus rapi dalam sehelai daun pisang warna hijau yang bersih mengkilap. Nasi brokohan itupun kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga kiri-kanan di sekitar keluarga yang kelahiran. Inilah wujud berbagi kebahagian kepada seluas-seluasnya lingkungan sekitar.

Ada juga tradisi jajanan. Jajanan merupakan istilah seperangkat makanan yang dijajakan khususnya kepada kalangan anak-anak kecil dari keluarga yang kelahiran jabang bayi. Jajajan juga bermenu dasar nasi putih. Nasi tersebut kemudian dilengkapi dengan sayuran kentang-buncis, mihaun goreng ataupun rebus, irisan tempe goreng kecil-kecil, serundeng, plus irisan kelapa yang digoreng kering, serta acar ketimun. Uniknya jajanan tersebut ditempatkan pada sehelai daun yang dibentuk membentuk pincukan yang disebut thakir.

Aqikah3Meskipun namanya jajanan, namun makanan tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada anak-anak. Jika brokohan diberikan kepada keluarga tetangga, untuk jajanan sengaja dijajakan dengan cara menempatkannya di atas baki yang disunggi oleh penjajanya sambil meneriakkan “jajananjajanan”. Anak-anak kecilpun dengan segera akan merubungi si tukang jajanan. Terkadang anak-anak yang sangat antusias menjadi berebut jajanan karena di balik lipatan thakiran seringkali diselipi dengan uang koin sekedar lima puluh atau seratus perak.

Kedua tradisi yang berhubungan dengan momentum kelahiran tersebut mungkin di masa kini sudah semakin sulit ditemukan. Jangankan di lingkungan daerah perkotaan, di desa-desapun saya yakin sudah menjadi tradisi yang semakin langka. Di lingkungan perkotaan, bahkan pedesaanpun, seiring dengan pengetahuan dan ketaatan ajaran agama, masyarakat Islam sudah familiar dengan amalan agama yang disebut aqiqahan. Sebagian masyarakat Jawa seringkali menyebut aqikahan menjadi kekahan.

Aqiqah memang amalan yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad. Tidak berbeda dengan inti dari tradisi brokohan maupun jajanan tadi, aqiqah dimaksudkan melakukan sedekah berupa makanan kepada sanak kerabat ataupun tetangga sekitar untuk berbagi kebahagiaan dan kegembiraan atas lahirnya anggota keluarga yang baru. Ada sebagian ulama yang mengatakan aqiqah hukumnya wajib, namun ada pula sebagian yang lain menghukuminya sunnah muakad.

Aqikah4Menurut pengarang Muhtar Shahih, makna al aqiqah atau ‘iqqah adalah rambut makhluk yang baru lahir. Pada saat seorang bayi muslim lahir, maka Kanjeng Nabi mengajarkan ummatnya untuk mencukur rambut si bayi dan kemudian menimbangnya.  Seberapa berat timbangan potongan rambut tersebut, selanjutnya keluarga yang bersangkutan dianjurkan untuk bersedekah seharga perak yang beratnya setara dengan rambut tadi. Adapun maksud dilaksanakannya aqiqah, di samping berbagi kebahagiaan tadi adalah juga dalam rangka membuang segala gangguan yang menyertai kehadiran anak ataupun yang kelak dapat menghambat masa depan.

Amalan aqiqah kini sudah semakin dipahami dengan baik oleh ummat Islam. Beberapa saat setelah kelahiran bayi, banyak keluarga yang sesegera  mungkin menyembelih kambing ataupun domba, satu ekor untuk bayi perempuan dan dua hewan untuk bayi laki-laki. Daging itupun selanjutnya dimasak dengan aneka menu, ada yang sate, gulai, tongseng, ataupun dendeng. Dilengkapi dengan nasi putih, sayur, lauk dan beberapa menu lain siap dihidangkan kepada para tamu ataupun dibagikan dengan cara diantarkan ke rumah-rumah tetangga. Hidangan tersebut terkadang diistilahkan dengan bancakan.

Aqikah5  Aqikah6

Namun sebelum penghidangan atau pembagian  bancakan dilakukan, biasanya terlebih dahulu seorang ustadz atau kiai memimpin rangkaian dzikir dan doa, beserta sholawatan. Sambil mengumandangkan sholawat, semua hadirin berdiri penuh rasa hikmat. Sang bayi selanjutnya digendong mengelilingi lingkaran kalangan. Satu per satu hadirin secara bergantian menggunting sedikit bagian rambut sang bayi. Pada titik inilah puncak sebuah upacara ritual aqiqahan mencapai momentum sakralnya. Dan diantara doa yang dipanjatkan adalah:

 

“Aku lindungkan engkau kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaiton dan malapetaka, serta dari mata yang jahat”. (HR. BUkhari)

Lor Kedhaton, 27 Desember 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Aqiqah alias Kekahan

  1. Evi berkata:

    Sekali lagi selamat atas aqiqahnya Nadya ya Mas. Berkat doa dan harapan dari orang-orang yg mencintainya semoga Nadya jadi anak sholehah yang membanggakan keluarga

    Suka

    • sang nanang berkata:

      amien-amien-amien…..terima kasih banyak atas doa-doanya yang tulus ikhlas, semoga keluarga mbak Evi juga senantiasa dilimpahi rahmat dan hidayah-Nya

      Suka

  2. nikitomi berkata:

    weess,, pokmen mugo-mugo aku gek ndang ketularan…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s