Meriah Kumpul Bocah


Sampeyan sudah pernah mendengar tagline sakralnya Tlatah Bocah? Ya, sampeyan memang joss gandos kotos-kotos!Bocah kudu dolanan, bocah dudu dolanan”. Tentu saja konteks dolanan yang dimaksudkan bukan sebatas “games” yang kini banyak dicekokkan kepada anak-anak kita, baik mulai melalui peralatan sederhana hingga yang paling canggih dan modern, seperti handphone, gadget, ipad, hingga mini komputer dan super komputer. Bagi para orang tua yang mau berpikir kritis tentang baik-buruknya permainan games bagi anak-anak kita, memang games semangkin membuat gemes. Bukankah demikian?

Sedulur, bagaimana games tidak semakin membikin gemes? Bagi anak-anak yang semenjak cindil abangnya alias usia balitanya sudah disarana dan prasaranai dengan beragam permainan di dalam peralatan yang sedemikian canggihnya, justru dari hari ke hari semakin kecanduan dan nggathok dengan dunia autisnya tersebut. Baginya dunia tidak lebih dari sebuah lingkungan kesendirian yang tidak perlu memikirkan ataupun sekedar berempati dengan kehidupan orang lain. Memang tidak semua games tadi berefek demikian. Tentu saja tidak dapat digebyah-uyah begitu saja. Konon ada juga permainan games yang bersifat dapat mendidik kecerdasan anak-anak. Akan tetapi tentu saja harus disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu yang tepat serta proporsional, tanpa nggege mongso. Ada saat dan tempat serta dalam ukuran yang tepat, karena yang serba terlalu tentu saja tidak akan mendatangkan kepada kebaikan. Tentu ada saat yang pas dan tepat untuk memperkenalkan ataupun memainkan games bagi anak-anak sesuai dengan tahapan perkembangan kedewasaan pikirnya.

Akan tetapi para sedulurku semua, di jaman sekarang ini justru kita seringkali terkungkung memaknai soal kecerdasan hanya sebatas kemampuan otak untuk berpikir. Semua hal dilihat dari sudut pandang logika, rasionalitas, kebenaran nalar dan selanjutnya. Kita kurang serius dalam rangka mengasah kepekaan roso, soal olah rasa yang bersendikan hati nurani. Ya, ini memang soal rasa pengrasa yang sangat halus dimensinya. Dimensi  rasa pangrasa atau nilai hidup sebenarnya justru menjadi sangat penting sebagai pondasi budi pekerti yang selanjutnya akan melandasi akhlak manusia. Bukankah demikian ajaran luhur dari para simbah di masa silam?

Ingatlah betapa para leluhur telah banyak menciptakan berbagai ragam permainan tradisional yang tentu saja sangat berbeda dengan genre ”games-games” tadi! Nenek moyang kita memberikan gambaran dan cerminan ajaran betapa kebersamaan itu sangat penting. Lihat saja dalam aneka permaian tradisional semacam gobak sodor, petak umpet, betengan, benthik, sudamanda, kenekeran, jirak dan lain sebagainya. Di dalam kebersamaan terdapat bermacam nilai-nilai sosial kehidupan yang harus dipelihara untuk mencapai keharmonisan dan kebahagiaan hidup yang lebih hakiki, semisal kedisiplinan, kerja sama, kesabaran, kejujuran, ketaatan asas, hingga sportivitas. Bandingkan dengan games yang lebih mengarah kepada pencapaian kesenangan dan kemenangan, meski sebenarnya hanya sebuah kesenangan yang sesaat. Segala seolah bisa dihalalkan untuk mencapai kesenangan dan kemenangan tersebut.

Anehnya lagi, justru para orang tua sekarang justru semakin merasa ndeso, bahkan minder jika anak-anaknya semenjak masa usia dini tidak mengenal ataupun akrab dengan games dan peralatan semacam ipad ataupun gadget. Penguasaan anak-anak kecil terhadap games dan peralatan canggih dianggap sebuah pristise modernitas. Semakin banyak seorang bocah menguasai permainan games, dianggapnya anaknya semakin cerdas dan pintar. Tokh para orang tua tersebut juga merasa mampu dan memiliki uang untuk memfasilitasi anak-anaknya dengan perlengkapan gamesgames tadi.

Sekali-kali sudah pasti kita perlu memperbandingkan nuansa dan suasana yang sangat jauh berbeda tatkala sekelompok anak-anak sibuk sendiri-sendiri dengan gadgetnya masing-masing, dengan pada saat sekawanan anak-anak terlibat dalam sebuah permainan secara bersama-sama. Betapa akan sangat terlihat dalam permainan yang dilakukan bersama-sama tersebut lebih nampak adanya keceriaan yang lepas, juga suasana penuh canda dan tawa riang. Intinya suasana akan nampak lebih sumringah. Suasana kebersamaan yang penuh dengan semangat hidup. Sebuah suasana yang sungguh-sungguh hidup.

Apakah hidupnya suasana pada saat anak-anak asyik bermain itu begitu sulit untuk kita hadirkan kembali di tengah-tengah lingkungan kita kembali? Menurut saya, jawabannya akan sangat tergantung kepada mindset dan niat yang kita tanamkan dalam-dalam di bawah kesadaran otak dalam naungan ketulusan nurani kita.

Konsep anak harus bermain dan anak bukan alat permainan dalam konteks di Ngisor Blimbing, tempat kami berteduh, selalu kami maknai sebagai arena terbuka untuk para anak-anak dari tetangga kanan-kiri kami ataupun dari manapun untuk turut bermain dengan apa adanya. Ngisor Blimbing bisa menjadi sebuah taman bermain bagi anak-anak manapun. Dan selama ini pada jam-jama selepas pulang sekolah, beberapa anak-anak memang seringkali menyambangi si Ponang untuk kemudian bermain bersama-sama.

Permainan sebenarnya tidak harus selalu mempergunakan alat atau prasarana yang khusus. Sebenarnya Tuhan sangat luar biasa menganugerahi manusia dengan berbagai alat atau anggota tubuh yang dapat dioptimalkan untuk sebuah penciptaan kreasi permainan yang kreatif, inspiratif, dan tentu saja sangat mendidik. Lewat lagu yang dinyanyikan bersama, lewat dongengan yang dituturkan, lewat gerakan tubuh yang dilakukan, banyak hal bisa dilakukan.

Suasana sumringah, suasana riang para bocah sempat mewarnai Ndalem Ngisor Blimbing tatkala para keponakan mendapatkan masa liburan sekolah bersamaan dengan liburan akhir dan awal tahun ini. Rombongan  para cucu yang dipimpin Mbah Kakung dan Mbah Putri, dalam sepanjang hari sepanjang waktu  tidak habis-habis tenggelam dalam kebersamaan aneka ragam permainan yang terciptakan secara spontan dan alamiah. Berlarian saling bekejaran, saling bersembunyi dan mencari bergantian, mendapatkan bola yang saling dioperkan, kertas-kertas bekas yang dilipat-lipat menjadi berbagai bentuk benda, hingga sekedar bernyanyi ataupun saling tebak-tebakan kata-kata.

Meriah, sumriah, dan kemurnian keceriaan macam apalagi yang melebihi kemeriahan kumpulnya para bocah? Para bocah hadir dalam kepolosan dan kusucian nalar pikirnya. Dunia bocah adalah dunia kejujuran, tampil apa adanya tanpa rekayasa dan kepalsuan. Segala hal mengalir dengan sangat alamiah, mbanyu mili atas bisikan dari dalam dasar hati nurani yang paling suci. Kemeriahan kumpulnya para bocah adalah gambaran surga dunia yang paling indah. Sampeyan sepakat dengan saya?

Ngisor Blimbing, 26 Desember 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Raya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s