Jet-jetan, Permainan Tradisi Bersendi Syahadat


Manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk yang berbudaya. Sebagai makhluk sosial yang senantiasa memerlukan peran orang lain untuk saling berinteraksi dan berbagi dalam memenuhi segala kebutuhan hidup, baik jasmani maupun rohani, manusia memerlukan tata nilai atau norma untuk mengatur unggah-ungguh serta tata krama dalam pergaulan. Norma dapat berupa ajaran agama, tata kesopanan dan kesusilaan, serta hukum yang berlaku di tengah masyarakat. Penerapan nilai yang terkandung dalam norma tersebut tertanam dalam budi pekerti manusia yang luhur. Maka dari itu penanaman budi pekerti kepada manusia, bahkan semenjak usia dini, menjadi sangat penting dan strategis dalam menopang tegaknya kebudayaan dan peradaban manusia. Salah satu sarana yang dipilih oleh nenek moyang bangsa kita adalah penanaman budi pekerti yang luhur kepada para bocah atau anak-anak kita melalui aneka ragam dolanan atau permainan tradisional.

Meskipun tidak merumuskan secara pasti, para orang tua di masa lalu seolah sepakat dengan semboyan “bocah kudu dolanan, bocah dudu dolanan”. Anak harus bermain, anak bukan alat permainan yang bisa dimain-mainkan oleh orang yang lebih dewasa. Setiap bocah lahir dengan hak asasi yang melekat pada dirinya. Diantara hak tersebut adalah kesempatan bertumbuh kembang sesuai dengan minat dan bakat dalam lingkungan yang harmonis, tenang, damai dan tenteram. Terkhusus di lingkungan masyarakat Jawa yang saya ketahui, sebagai hasil dari proses dialektika evolusi kebudayaan, terciptalah bermacam jenis dolanan tradisional, seperti congklak, gobak sodor, petak umpet, benthik, dakon, jet-jetan, dan lain sebagainya.

Jet-jetan, permainan atau dolanan anak yang disebut terakhir dikenal di seputaran kampung halaman kami yang terletak di seputar Tepi Merapi, Jawa Tengah. Beberapa teman di wilayah lain menyebut jenis dolanan ini, antara lain sebagai betengan atau dos-dosan. Disebut jet-jetan barangkali karena pada saat ngejet, berhasil menguasai beteng lawan, dilakukan dengan mejet atau menyentuh dengan tekanan yang sedikit keras. Adapun penyebutan betengan berkaitan dengan inti permainan yang berupa saling mempertahankan beteng atau benteng dari serangan dan rongrongan lawan.

Jet-jetan biasa dimainkan di tanah yang agak lapang ataupun halaman rumah. Permainan ini dilakukan oleh dua kelompok bocah yang seimbang kekuatannya, katakanlah kelompok A dan B. Penentuan anggota dari masing-masing kelompok biasanya ditentukan dengan cara pingsut. Pemenang pingsut masuk menjadi anggota kelompok A, sedangkan yang kalah ikut ke kelompok B. Masing-masing kelompok memiliki beteng, sarang, atau pangkalan pertahanan yang dapat berupa sebatang pohon, tiang, ataupun tonggak. Semua anggota kelompok pada awalnya berpegangan pada tonggak tersebut. Beteng inilah yang harus dipertahankan oleh setiap anggota kelompok.

Tata Permainan

Permainan diawali oleh salah seorang anggota kelompok yang menang pingsut dengan lari meninggalkan betengnya, katakanlah si A1. Sejurus kemudian anggota dari kelompok lawan (B1) keluar dari betengnya untuk mengejar A1 tadi, kemanapun ia berlari. Selanjutnya A2 keluar beteng juga mengejar B1. Pemain B2 keluar kandang untuk mengejar A2, demikian seterusnya. Status masing-masing pemain yang keluar duluan dari betengnya disebut lebih tua dibandingkan dengan pemain lawan yang keluar beteng dalam urutan waktu sesudahnya.

Pemain yang berhasil dikejar dan disentuh oleh pemain lawan yang lebih muda, maka ia harus menjalani hukuman dengan menjadi tawanan pihak lawan. Para tawanan akan ditampung di tempat hukuman, semacam “penjara”, yang terletak beberapa meter dari beteng lawan. Para tawanan dapat dibebaskan apabila ada teman sekelompoknya yang berhasil menyentuh tangan para tawanan tersebut tanpa terhalang oleh hadangan kelompok lawan. Semakin banyak suatu kelompok mampu menawan anggota kelompok lawan, maka akan semakin besar peluang kelompok tersebut untuk menguasai dan menduduki beteng lawan.

Penguasaan beteng lawan atau ngejet tadi, terjadi apabila salah seorang anggota kelompok berhasil menyentuh beteng pihak lawan tanpa sebelumnya tersentuh anggota dari kelompok lawan. Ngejet dapat dilakukan dengan strategi diam-diam, melalui cara penyusupan dan persembunyian untuk secara tiba-tiba ngejet dalam kesempatan yang tidak terduga-duga. Bisa juga penakhlukan beteng berlangsung sangat ketat dan alot, setelah semua anggota kelompok beteng lawan tertawan. Dalam kondisi ini, satu atau dua orang lawan yang masih bertahan, maka penakhlukan beteng dilakukan dengan teknik pengepungan. Dalam cara ini penakhlukan hanya tinggal soal waktu. Kelompok yang mampu merebut dan menguasai beteng lawan, merekalah yang memenangkan permainan dan mendapat score satu. Selanjutnya terjadilah peralihan atau pertukaran beteng, dan dimulailah siklus permainan berikutnya dengan cara atau aturan yang sama. Tidak ada ketentuan khusus mengenai lamanya permainan, tergantung kesepakatan diantara dua kelompok yang saling bermain tadi, atau sampai para pemain merasakan kelelahan fisik.

Nilai Luhur

Sebagaimana semua hal dalam masyarakat kita yang selalu memiliki makna dari simbolisasi suatu wujud fisik, dolanan jet-jetan juga banyak menyimpan nilai dan ajaran luhur. Diantara nilai utama sebagaimana diyakini oleh sebagian masyarakat terhadap permainan yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ini adalah pemaknaan hakekat dua kalimat syahadat. Dua kalimat syahadat yang menjadi Rukun Islam pertama merupakan pengikraran pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah.

Sebagaimana diajarkan dalam agama Islam, barang siapa telah mengucapkan kedua kalimat syahadat, seseorang telah menyandang sebagai orang Islam. Syahadat merupakan kata sakti yang apabila diyakini dan dipegang erat-erat sebagai penyuluh hidup seorang muslim, maka dijamin ia akan masuk surga kelak di kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Dua kalimat syahadat sebagai pegangan hidup-mati seorang muslim dalam dolanan jet-jetan ini disimbolkan dengan dua tiang, tonggak, ataupun pohon yang menancap di bumi dan dijadikan pangkalan pertahanan hidup atau beteng itu tadi.

Sikap istikomah atau konsisten dalam memegang nilai syahadat disimbolkan dengan kegigihan seluruh unsur anggota kelompok dalam mempertahankan betengnya masing-masing. Namun sebagai sebuah sunatullah, keimanan dan ketaqwaan ummat Islam senantiasa diuji melalui godaan yang selalu dibisikkan oleh iblis dan setan, musuh manusia yang kekal nan abadi. Maka sebagian dari ummat Islam ada yang sempat tergoda oleh bisikan setan, lupa diri, dan terlepaslah ia dari tali syahadat Allah dan Rasul-Nya tadi. Ia kemudian terbawa nasib kian kemari, kehilangan pegangan hidup, terlepas dari induk betengnya. Kehidupan manusia yang tidak lagi berpegang dengan dua kalimat syahadat banyak dilumuri oleh dosa-dosa, sehingga ia harus menjalani berbagai penderitaan hidup dan harus mendapatkan hukuman peleburan dosa. Namun setelah manusia sadar kembali kepada tali syahadat, maka ia akan kembali menemukan “kemenangan-kemenangan” hidup.

Di samping simbolisasi dua kalimat syahadat, dua tonggak dan dua kelompok juga menunjukkan dualisme segala sesuatu yang ada di jagad raya, ada siang-malam, baik-buruk, lelaki-perempuan, kaya-miskin, atas-bawah, utara-selatan, desa-kota, jiwa-raga, lahir-batin, dunia-akhirat, dll. Semua hal yang senantiasa berpasangan tersebut mengandung tamsil adanya keseimbangan hidup di dunia ini. Maka tugas manusia sebagai kalifatullah di muka bumi adalah dalam rangka memakmurkan dunia dengan cara sedapat mungkin menata keseimbangan-keseimbangan dimensi kehidupan.

Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasai membutuhkan orang lain di sekitarnya. Sebuah perjuangan untuk menata keseimbangan dunia harus dilakukan dengan kerja sama, gotong-royong dan penuh rasa keguyuban, lepas dari sikap individualisme. Pengenalan atau ta’aruf yang baik diantara sesama kelompok akan memperkuat tali silaturahmi dan semakin memperkokoh kekompakan kelompok dalam mempertahankan beteng atau paugeran alias tuntunan hidup. Hanya dengan demikian, keselarasan dan keharmonisan hidup dalam kedamaian dan ketentraman dapat menjadi kenyataan.

Dunia memang semakin dinamis akibat pengaruh globalisasi. Di masa kini aneka jenis permainan atau dolanan anak di masa lalu dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Anak-anak kini begitu asyik dalam kungkungan individualisme permainan berteknologi canggih semacam game video online dan lain sebagainya yang semakin mudah diakses lewat handphone. Teknologi memang semakin maju dan canggih, namun bukan berarti teknologi bebas dari pengaruh buruk, seperti sikap individualis, malas berpikir, kurang gerakan fisik, egoisme, dan banyak sifat asosial yang lain.

Dengan mencermati makna yang mendalam terhadap setiap jenis permainan tradisional yang telah diwariskan nenek moyang, maka sudah semestinya semua pihak kembali menggali nilai kearifan lokal dari permainan tersebut dan sedapat mungkin melestarikannya dengan mengajari anak-anak kita untuk memainkannya kembali. Dalam tingkatan masyarakat yang lebih luas, mungkin perlu wadah-wadah para bocah untuk menunjukkan dan mengekspresikan dolanan tradisional tersebut dalam wujud lomba maupun festival-festival yang rutin digelar.

Gelaran dolanan tradisional yang dilakukan secara massal bukan tidak mungkin juga dapat dikembangkan menjadi suatu ajang event wisata yang menarik banyak orang. Bukankah manusia modern di dunia modern ini justru tengah mengalami alienasi dan kekosongan jiwa, kegersangan batin, kesunyian di tengah keberlimpahan harta dan benda. Manusia gelisah menggelisahkan kehampaan kedalaman ruh batinnya. Dolanan tradisional mungkin dapat menjadi pengisi kehampaan tersebut. Wisata dolanan, tentu sangat menantang dalam menemukan kembali kedirian manusia. Dengan promosi yang gencar melalui Indonesia Travel, bukan tidak mungkin manusia mancanegarapun akan lebih tertarik untuk berguru kepada Indonesia tentang spiritualime dengan berwisata kepada dolanan tradisional kita.

Lor Kedhaton, 17 Juli 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s