Nilai Kearifan di Makam Pangeran Diposono


Suharjiyo Homestay Stories(2)

MakamTembiMakam, disebut juga sebagai kuburan, jaratan, ataupun kerkov. Dalam struktur masyarakat padusunan atau pedesaan, setiap padusunan merupakan satuan masyarakat tradisi yang otonom. Termasuk dalam hal urusan pemakaman. Hampir dapat dipastikan pada setiap dusun memiliki area pemakaman tersendiri. Makam tersebut biasanya dipergunakan untuk mengebumikan jenazah anggota masyarakat setempat secara turun-temurun. Hampir dapat dipastikan mereka merupakan satu asal-usul dari sumber trah atau leluhur yang sama, yaitu sang cikal bakal dusun tersebut.

Jika pada umumnya sebuah dusun memiliki area pemakaman tersendiri khusus untuk dusunnya, namun di beberapa tempat juga tidak menutup kemungkinan sebuah pemakaman yang cukup luas dipakai secara bersamaan untuk beberapa dusun sekaligus. Nah, sesuatu berkaitan dengan keberadaan makam, sempat saya perhatian pada saat mengikuti perhelatan Kopdar Blogger Nusantara 2013 di Desa Wisata Tembi.

Mbah SomaPada malam kedatangan kami di Tembi, Mbah Soma di home stay  tempat saya menginap, sempat menyinggung mengenai keberadaan beberapa makam leluhur di dusunnya. Di sisi timur, tengah dan utara terdapat tanah pemakaman. Meskipun hanya sebuah cerita biasa, namun ketika hal itu disampaikan Simbah pada jam-jam lewat tengah malam, saya tentu merasakan sebuah nuansa yang sedikit wingit hingga sedikit mendirikan bulu kuduk.

Di dusun Tembi yang berada di wilayah Desa Timbulharjo, terdapat setidaknya ada tiga area makam sekaligus. Hal ini tentu saja menjadi sedikit di luar kebiasaan adat sebuah padusunan sebagaimana telah saya singgung di muka. Bahkan keberadaan tiga makam tersebut masih ditambah dengan sebuah makam yang tersendiri di tengah-tengah perkampungan. Jika sampeyan peserta BN2013 yang berkesempatan mengikuti acara di Tembi, apakah sempat memperhatikan keberadaan sebuah makam tepat di depan Pendopo Sentono dimana digelar sesi seminar nilai kearifan lokal?

Tepat di depan Pendopo Sentono, terdapat tembok dinding sebatas dada manusia dewasa bercat putih bersih. Tembok tersebut mengelilingi sebuah batu nisan memanjang. Keberadaan makam tersebut tepat berada di bawah sebuah pohon beringin tua yang cukup besar yang dengan kekekaran dahan rantingya seolah selalu menggapai angkasa raya. Hal yang lebih aneh lagi, pohon beringin tua tersebut dijaga oleh beberapa ekor kera coklat yang dirantai. Makam siapakah gerangan? Apakah tokoh yang dimakamkan tersendiri tersebut merupakan tokoh yang istimewa?

MakamTembi2Sebenarnya tidak terlampau sulit untuk mengetahui siapakah tokoh kharismatik yang dimakamkan di tempat terpisah tersebut. Di sisi depan dan belakang dinding makam tertulis dengan jelas pada sebuah papan kayu, “Makam Pangeran Diposono”. Nah, siapakah sosok Pangeran Diposono tersebut? Adalah hubungan khusus dengan Pangeran Diponegoro?

Dari kisah yang disampaikan oleh Mbah Soma saya masih ingat pasti. Nama Diposono sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Diponegoro. Pangeran Diposono konon adalah nama dari salah satu pangeran putra Prabu Brawijaya V yang pada saat keruntuhan Majapahit dan pemerintahan berpindah ke Keraton Demak Bintoro, ia memilih mengembara sambil menyebarkan agama Islam di wilayah pantai selatan. Ia pada akhirnya sampai di dusun Tembi dan menetap hingga akhir hayatnya. Maka Pangeran Diposono dipercaya oleh warga setempat sebagai cikal bakal leluhur dusun Tembi.

Lalu kenapa keberadaan makamnya justru terpisahkan dari tiga area makam yang ada? Konon masih menurut cerita Simbah, keberadaan makam semenjak awal tidak pernah berubah maupun dipindahtempatkan. Jangankan memindahkan tempat, beberapa orang yang pernah mencoba memangkas dahan pohon beringin yang memayungi makam Pangeran Diposono, justru orang tersebut diprimpeni (didatangi dalam mimpi) oleh Sang Pangeran. Mereka dilarang untuk melanjutkan niat atau maksudnya memangkasi pohon beringin.

MakamTembi3Ketika peringatan tersebut diabaikan, setelah nekad melakukannya, percaya atau tidak, orang-orang tersebut mengalami sakit dalam ketidaksadaran diri selama beberapa hari. Setelah diusadani oleh orang pinter, konon hal tersebut dikarenakan kenekatan mereka yang melanggar pesan Pangeran Diposono di dalam mimpinya. Maka setelah kejadian tersebut, tidak ada satupun warga yang berani mengutak-atik keberadaan makam Pangeran Diposono, termasuk pohon beringin di sampingnya. Warga mempercayai bahwa mereka justru harus merawat keberadaan makam sebagai wujud penghormatan mereka kepada roh para leluhur cikal bakal dusunnya.

Meskipun seolah kisah tersebut mengandung aroma bau mistik, bahkan kisah klenik, nampaknya ada sebuah maksud lebih dalam yang ingin ditanamkan oleh para sesepuh dusun Tembi. Paling tidak ada pelajaran sangat penting agar setiap anak-cucu keturunan trah Pangeran Diposono senantiasa mengingat sangkan paraning, asal-usul leluhur yang menurunkannya tinggal bersama di dusun Tembi. Rasa kesamaan asal-usul diharapkan akan terus terpelihara untuk mengikat tali kebersamaan dan kerukunan kekeluargaan diantara para warga masyarakat. Memelihara kekerabatan dan silaturahmi merupakan sendi tercapainya ketentraman dan kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pesan yang kedua tentu berkaitan dengan pelestarian alam dan lingkungan hidup. Pohon adalah penopang kehidupan. Pohon memiliki fungsi ganda, bisa sebagai peneduh sekaligus paru-paru lingkungan yang memompakan udara segar untuk pernafasan manusia. Pohon melalui akar-akar perkasa yang menghunjam ke dalam perut bumi juga memiliki kegunaan menyimpan air untuk melestarikan keberadaan setiap sumber air yang berada di seputaran wilayah dusun. Setiap orang tidak boleh sembarangan menggunduli ataupun menebang pohon yang mengakibatkan daya dukung lingkungan hidup terhadap kehidupan manusia menurun, bahkan sirna sama sekali.

Demikian pembelajaran kearifan yang sempat dibabar Simbah Soma Dimejo tepat di keheningan Ahad Wage, 27 Suro 1947 yang tentu tidak akan pernah hilang dari ingatan. Matur nuwun Mbah.

Ngisor Blimbing, 20 Desember 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s