Dongeng Ki Ageng Mangir


Suharjiyo Homestay Stories(1):

Tembi9

Home stay nomor 16 itu terletak di sisi selatan padukuhan Tembi. Berada di deretan rumah yang langsung menghadap ke area persawahan yang tersisa, tepat di sisi utara jalan masuk dari Jalan Parangtritis. Suharjiyo Home Stay, demikian rumah tersebut dijuluki karena memang di dalamnya tinggal Mas Suharjiyo sebagai kepala keluarga. Di rumah sederhana khas padukuhan tersebutlah saya dengan beberapa rekan blogger dari Bojonegoro, Jakarta, juga Kediri diinapkan pada saat Kopdar Blogger Nusantara 2013 digelar di Jogjakarta 30 November hingga 1 Desember 2013 yang lalu.

Suharjiyo Home Stay merupakan bagian tidak terpisahkan dari wilayah Desa Wisata Tembi yang digagas sebagai padukuhan untuk singgah dan menginap para wisatawan yang ingin menghirup udara desa dengan segala kesehariannya yang senantiasa menyatu dengan alam. Desa Wisata Tembi sendiri secara terpadu menjadi kesatuan titik pengembangan wisata strategis di Kabupaten Bantul yang sering dikenal sebagai GMT, yaitu Gabusan, Mlandhing, dan Tembi. Gabusan menjadi sentra berbagai kerajinan rakyat, Mlandhing di tenggara merupakan sentra industri kerajinan kulit, sedangkan Tembi menjadi pusat persinggahan dan penginapan wisatawan yang unik dan khas.

Di samping Mas Harji, di rumah tersebut juga tinggal Mbah Soma, bapak dari Mas Harji. Meskipun kedatangan kami sudah menjelang waktu tengah malam, namun Mbah Soma sangat antusias menyambut kedatangan kami di malam itu. Dengan senyum dan keramahannya yang tulus, Mbah Soma bahkan banyak berkisah mengenai berbagai hal hingga waktu dini hari. Salah satu kisah sangat menarik yang khas mBantulan yang dibabar Mbah Soma di malam itu adalah kisah mengenai Ki Ageng Mangir.

Tembi10  Tembi11

Mangir adalah salah satu keturunan Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Tatkala pemerintahan Majapahit runtuh dan digantikan dengan Demak dan selanjutnya Pajang, Mangir menempati wilayah di sisi Kali Progo sebagai sebuah tanah perdikan. Tanah perdikan tersebut kemudian terkenal sebagai daerah Mangir.

Tatkala Panembahan Senopati mendirikan kedaton Mataram Islam di Kota Gede dan bergelar sebagai Ngabehi Loring Pasar, masyarakat di wilayah pesisir selatan menganggap bahwa Panembahan Senopati masih kalah sakti dibandingkan Ki Ageng Mangir. Di samping itu, status Mangir sebagai tanah perdikan juga menjadikan Mangir tidak memiliki ikatan politik terhadap Mataram. Mangir adalah sebuah wailayah merdeka. Dengan demikian, Mangir dianggap sebagai klilip dari dinasti raja yang baru memerintah. Mangir secara tidak terbuka dinyatakan sebagai musuh negara yang harus ditundukkan.

Sesungguhnya jauh di lubuk hati Panembahan Senopati juga terdapat keraguan apakah ia memiliki kesaktian dan kewibaan melebihi Mangir. Desas-desus anggapan masyarakat sangat jelas dirasa merongrong kewibawaannya sebagai narendra gung binathara. Kalaupun Senopati harus turun tangan bertempur langsung satu lawan satu dengan Mangir, ia tidak memiliki keyakinan sepenuhnya bahwa ia akan unggul. Seandainya pertarungan itu terjadi dan Senopati justru menderita kekalahan, dimana ia harus menyembunyikan muka dan rasa malu sebagai seorang raja yang dikalahkan oleh kalangan rakyat biasa. Maka Senopati harus mengupayakan taktik dan strategi yang halus untuk menakhlukkan Mangir.

Tembi16  Tembi15

Atas nasehat Patih Mandaraka, dipakailah siasat penakhlukan Mangir secara halus dengan “mengumpankan” Putri Pembayun yang menyamar sebagai penari tledhek atau tayub. Pembayun adalah putri sulung Panembahan Senopati.

Dalam perjalanan menuju Mangir, rombongan tledhek tersebut singgah pada sebuah sendang di sisi barat daya kotaraja. Sendang dengan umbul air jernih tersebut dipercaya dapat memberikan daya pengasihan kepada siapapun yang mandi ataupun sekedar membasuh muka. Jika ia perempuan, maka wajahnya akan nampak berseri-seri, cantik laksana bidadari yang turun dari kahyangan, dan siapapun lelaki yang ditemuinya sudah pasti akan gandrung dan nandhang wuyung, alias tergila-gila oleh daya asmara. Wilayah dimana sendang pengasihan tersebut berada kelak di kemudian hari dikenal sebagai daerah Kasihan, salah satu kecamatan di wilayah utara Kabupaten Bantul.

Singkat cerita, tipu daya Putri Pembayun terhadap Ki Ageng Mangir mencapai hasilnya. Mangir benar-benar terpesona dan jatuh hati terhadap penari tledhek yang singgah di wilayahnya. Dan sesungguhnya Putri Pembayunpun jatuh hati pada pandangan pertama karena kegagahan dan ketampanan Ki Ageng Mangir. Tanpa mengetahui asal-usul dari penari tersebut, Mangir kemudian mempersuntingnya sebagai istri yang syah. Keduanyapun hidup rukun sebagai suami-istri yang saling mengasihi.

Beberapa bulan berselang, Pembayun mulai mengalami masa ngidam. Secara perlahan-lahan Pembayun menceritakan mengenai asal-usulnya yang sesungguhnya. Tentu saja pada awalnya Mangir merasa tertipu, akan tetapi kemudian dengan pertimbangan kasih cintanya kepada Pembayun dan anaknya kelak yang saat itu tengah di dalam kandungan, Mangir merasa bahwa kisah hidupnya tidak terlepas dari pepestening urip yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka tatkala Pembayun mengajaknya untuk sowan kepada Panembahan Senopati, baik sebagai putra menantu sekaligus sebagai bawahan yang takhluk, Mangir tidak merasa berkeberatan.

Tembi12  Tembi14

Dalam perjalanan menuju Kota Gede, sempat terbersit kebimbangan yang mendalam di hati Mangir. Benarkah ia harus takhluk kepada kekuasaan Mataram yang baru? Antara meneruskan perjalanan untuk menyatakan diri manembah kepada Senopati atau ia harus mengangkat senjata untuk mempertahankan tanah perdikannya. Pikiran yang bimbang dan ragu inilah yang bagi masyarakat Jawa diistilahkan ngembat-mantul, ngembat mantul. Maka kelak di kemudian hari tempat di mana Ki Ageng Mangir merasakan kebimbingan hati yang mendalam itu diberi nama mBantul.

Akhirnya tibalah Ki Ageng Mangir di depan kedaton Kota Gede. Atas perintah protokoler istana, Mangir harus menanggalkan semua piyandel dan senjata yang disandangnya pada saat menghadap sang raja. Apalagi raja tersebut sekaligus adalah mertuanya sendiri. Tatkala Mangir menghadap Senopati dan laku dhodhok sungkem, berlutut menyembah kepada Senopati, justru dengan cepat kepala Mangir di-jedhuk-kan atau dibenturkan ke watu gilang yang berada di sisi singgasana raja. Kejadian yang begitu cepat menyebabkan Mangir menemui ajalnya seketika itu juga.

Betapa Pembayun kemudian merasa kesedihan yang teramat sangat mendalam atas kematian suaminya terkasih.  Selanjutnya jasad Mangir dikuburkan di kompleks makam keluarga istana. Hanya saja status Mangir masih setengah-setengah, setengah dianggap menantu raja, tetapi juga setengah dianggap sebagai musuh negara. Maka jasad Mangir dalam penguburannya, separuh badan dikebumikan di dalam area makam, sedangkan separuhnya lagi di luar pagar makam keluarga istana. Keadaan makam tersebut masih bisa disaksikan hingga saat ini.

Ketika salah satu diantara kami berkomentar betapa liciknya cara Senopati memberdayai Ki Ageng Mangir, mBah Soma punya pandangan yang berbeda, “Saged diwastani cara wau licik, ning saged ugi diwastani ngginakaken cara limpad ing penggalih.” Bisa dibilang licik, tetapi bisa juga dianggap pintar berstrategi.

Akh, entahlah. Cara permainan politik semenjak di jaman bahula hingga kini nampak tidak berbeda jika sudah didasari nafsu angkara murka. Kotor dan sangat menjijikkan. Menghalalkan segala macam cara. Mengabaikan tata krama lan unggah-ungguh. Bukankah demikian?

Kepripun, menarik bukan dongengan dari Mbah Soma yang menjamu kami tersebut. Masih penasaran dengan dongengan Simbah yang lainnya? Ditunggu saja edisi lanjutannya.

Ngisor Blimbing, 15 Desember 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s