Detik-detik Menentukan


NadyaSeminggu telah berlalu dari detik-detik menentukan itu. Kelahiran adalah sebuah proses yang senantiasa dinantikan di ujung penantian sembilan bulan sepuluh hari masa kandungan sang jabang bayi dalam kandungan. Sebuah masa penantian yang cukup penuh perjuangan dan mencatatkan kenangan susah-bungah alias suka duka yang cukup mengharu-biru. Kelahiran menjadi titik peralihan perjalanan anak manusia dari alam rahim menuju alam dunia, sekaligus menjadi satu penggalan masa dalam sangkan paraning dumadi atas takdir seseorang. Demikian halnya dengan kelahiran Nadya, putri ke dua keluarga kecil kami di Padhepokan Ngisor Blimbing.

Sembilan bulan masa kandungan bukanlah masa yang ringan bagi si ibu sang bayi. Muntah dan mual-mual menjadi bagian keseharian. Seolah si ibu suka tidak suka, mau tidak mau, harus menjalani sebuah lelakupuasa” yang menjauhkan dari segala kenikmatan aneka makanan yang lezat sarwa mirasa. Terlebih keseharian si ibu juga menjalani jejibahan pekerjaan yang cukup menyerap tenaga dan pikiran. Namun demikian dengan keyakinan dan doa pengharapan yang senantiasa tidak terputus, masa-masa tidak ringan itu pasti akan dapat dilalui dengan sebuah kelulusan proses pendewasaan batin manusia.

Rasa khawatir sempat menghantui tatkala di masa kandungan delapan bulan, dokter mengabarkan hasil pemeriksaan bahwa si jabang bayi dalam posisi sungsang, alias kepala berada di bagian atas rahim. Padahal dalam cek rutin yang tekun dilakukan setiap bulan, posisi si jabang bayi dalam kondisi normal dan berada di jalur yang sudah benar sehingga tinggal menunggu proses turun ke saluran kelahiran yang semestinya. Selanjutnya dokter menasihatkan untuk melakukan berbagai usaha dan ikhtiar untuk menormalkan posisi si jabang bayi. Namun demikian, dari sini pulalah kami harus bersiap mental dengan kemungkinan terpahit, operasi caesar!

Pada masa usia kandungan 35 minggu, kontrol terakhir mengindikasikan posisi si jabang bayi masih dalam kondisi sungsang. Dokter menasehatkan agar seminggu kemudian dicek ulang dan apabila posisi tidak berubah, maka operasi kelahiran harus segera dijadwalkan. Sabtu dini jari sebelum hari kontrol yang telah dijadwalkan itu, si ibu bayi terlelap dalam tidur yang nyenyak. Tidak ada rasa ataupun firasat, apalagi kontraksi dan mules-mules di dalam rahim. Namun lewat lingsir wengi, pada sekitar pukul 03.00 si ibu bayi merasakan basahnya air ketuban.

Dengan bergegas si bapak bayi segera mengetuk pintu tetangga untuk sekedar meminjam kendaraan roda dua untuk membawa si ibu bayi ke rumah sakit. Detak jantung tentu saja dag-dig-dug tidak karuan. Adrenalin melaju kian cepat, meski rasa sumeleh terhadap semua garis kehendak Yang Punya Hidup terus ditiupkan di relung hati yang terdalam. Sempat dua tetangga yang diketuk pintunya, baru tetangga ke dua berhasil mendapatkan pinjaman kendaraan untuk segera mengantarkan si ibu bayi ke rumah sakit.

Dengan pengalaman putra pertama yang lahir kebrojolan dan tidak sempat mendapatkan pertolongan medis yang selayaknya sehingga si ponang jabang bayi terlahirkan secara alamiah di rumah, maka tatkala si ibu bayi diboncengkan di sadel sepeda motor dalam posisi miring ke kiri, kedua kakinya terpaksa ditali dengan selendang agar jangan keprocotan.

Ndilalah kersaning Gusti, dini hari itu jalanan menuju rumah sakit yang sehari-harinya padat dan macet dalam kondisi lengang nan sepi. Dinginnya hawa pagi seakan tidak terasa di tubuh kami. Perlahan namun pasti sepeda motor berpacu dengan waktu, melewati detik-detik yang sangat menentukan keselamatan dua jiwa anak manusia sekaligus, jiwa si ibu dan jiwa si bayi.

Tak lebih dari lima belas menit, rumah sakit di pinggiran kota itupun berhasil dicapai. Segera para paramedis melakukan tindakan-tindakan untuk mempersiapkan proses persalinan. Dikarenakan diagnosis dokter yang jelas mengantisipasikan kelahiran dengan proses operasi, maka segala persiapan operasi segera dilakukan dengan gerak cepat. Setelah memasuki ruang operasi, semua perawat bergerak dengan cepat dan cekatan sesuai dengan standar prosedur yang semestinya mereka lakukan.

Saat dicek posisi si jabang bayi, suster mengindikasikan kondisi pada bukaan ke lima. Dalam kondisi tersebut si ibu bayi merasa tidak tahan dengan mules pada kandungan di perutnya. Ia terus memekik menahan rasa sakit yang luar biasa. Suster menyatakan bahwa posisi si jabang bayi masih agak lama untuk bisa keluar. Dokter masih dalam perjalanan. Suster terus berusaha menenangkan si ibu bayi. Mereka menganjurkan si ibu bayi untuk tarik nafas sedalam-dalamnya. Kami semua yang berada di ruang bersalin itupun sangat tegang dan khawatir, tentu saja karena posisi si jabang bayi yang sungsang itu. Hanya perasaan pasrah dan sumeleh dengan segala kehendak Tuhan yang bakal terjadi.

Dalam kondisi yang heroik bin panik, akhirnya si ibu bayi tidak kuasa lagi menahan rasa mules. Meskipun suster sudah wanti-wanti melarang si ibu bayi agar tidak ngeden, namun rasa sakit itu seolah sudah tidak kuasa lagi untuk ditahan-tahan. Beberapa saat kemudian, seorang suster berusaha memeriksa, dan tatkala jalan bayi itu sedikit terbuka, maka langsunglah mak prucut pantat dan bagian badan jabang bayi keluar dengan seketika. Posisi sungsang dengan lilitan tali pusar di leher sedikit menyulitkan posisi kepala untuk segera keluar. Dengan menahan nafas, dua suster kemudian bergerak cepat untuk berusaha meperlancar jalan bayi. Akhirnya dengan sedikit usaha lebih keras, jalan bayi itupun berhasil diperlebar dan si bayi berhasil melewatinya.

Pada saat keluar dari rahim, si bayi dalam kondisi pasif. Ia seolah tenggelam dalam diam di tengah kepanikan ruang bersalin yang memanas di dinginnya pagi dini hari itu. Kondisi tubuh yang masih terbungkus dengan lendir dan lapisan tipis menampakkan si bayi berwujud pucat pasi dalam diamnya. Dengan bergegas, tali pusar si bayi segera dipotong dan ia segera ditempatkan di meja tindakan.

Segera dua orang suster dengan dikomando dokter jaga yang ada, segera melakukan tindakan penyelamatan. Tubuh si bayi segera dibersihkan dari lapisan lendir tipis yang menyelimutinya. Dengan bantuan selang-selang tipis yang dilewatkan pada kedua lubang hidung, dilakukanlah penyedotan lendir di dalam saluran pernafasan, sembari menghembuskan aliran oksigen ke paru-paru si kecil. Beberapa saat kemudian barulah terdengar tangis si bayi memecahkan ketegangan kami semua di ruang bersalin tersebut. Hmmm…..plong, semua menarik nafas dengan lega. Puji syukur ya Allah!

Sepanjang proses yang mendebarkan itu, kondisi si ibu senantiasa sadarkan diri dan merekam setiap titik proses yang terjadi. Semua tahapan kejadian itu terasa sangat cepat, tidak lebih dari sepuluh menit.

Dini hari itu Sabtu Kliwon, 7 Desember 2013, bertepatan 3 Safar 1435 H atau 3 Safar 1947 Jawa, tepat pukul 03.35 WIB terlahirlah putri kami yang kemudian kami beri peparab NADYA NARINDRA AYUDYANINGRUM. Semoga Gusti Allah senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepadamu Nduk, Bocah Ayu.

Ngisor Blimbing, 13 Desember 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Detik-detik Menentukan

  1. zan berkata:

    Alhamdulillah akhir nya happy ending… saya sampai ikut tegang membaca nya, salam kenal mas…

    Suka

  2. nikitomi berkata:

    Wuiiih. selamat datang Nadya Narindra Ayudyaningrum di alam dunia. semoga jadi anak yang shalehah ya! 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s