Solo, So Pasti Istimewa di Hati


Solo, Sala, Surakarta, atau lebih lengkapnya Surakarta Hadiningrat sudah pasti tidak begitu asing di telinga rakyat Nusantara. Keempat nama yang disebut di depan tentu saja merujuk kepada satu nama tempat yang sama, salah satu kota besar di Jawa Tengah sebagai salah satu pewaris kebesaran Dinasti Mataram Islam.

Sluku-sluku bathok. Bathoke ela-elo. Si Rama menyang Solo. Leh-olehe payung motha. Tak jenthit lolo-lobah, wong mati ora obah. Yen obah medeni bocah. Dari lagu bocah inilah pertama kali saya mengenal kata “solo“.

Meskipun antara wilayah Solo dan Magelang, kampung halaman saya, hanya terpisahkan oleh bentangan gunung Merapi, namun jujur saya sampaikan bahwa semenjak kanak-kanak, anak-anak hingga usia remaja, saya begitu serba terbatas mengenal Kota Solo. Selanjutnya lewat lelagon Bengawan Solo dari Mbah Gesang, Walang Kekek dari Budhe Waljinah, ataupun Putri Solo-nya Mbakyu Sundari Sukotjo kira-kira saya mulai membayangkan nama Solo lebih jauh. Ada juga nama Sanggar Sakuntala yang di masa sekolah dasar dulu begitu akrab di radio melalui serial sandiwara berbahasa Jawa, seperti Ajian Macan Kembar, Jaka Sungsang, dan entah apalagi yang juga mengkaitkan memori dengan Kota Solo.

Di masa SMA, justru saya mulai ngangsu kawruh di Kota Gudeg Jogjakarta. Namun justru di masa itu pula saya mulai ngutak-atik pesawat radio FM yang menghantarkan perkenalan dengan SAS FM dan PTPN Rasisonia FM(bener nggak ya nulisnya), dua buah stasiun radio favorit saya di Kota Solo. Salah satu siaran yang paling terekam kuat dan melekat di hati adalah Konser Kantata Taqwa pada sekitar tahun 1995 dalam rangka 50 tahun HUT Kemerdekaan RI yang digelar di Stadiun Manahan Solo.

Kasunanan Surakarta Balai Kota Solo Masjid Agung Solo Pasar Klitikan

Dalam periode waktu-waktu selanjutnya, Solo hanya saya kenal selintas persinggahan ataupun bahkan hanya kulo nuwun nderek langkung sekali dua kali pada saat menuju ataupun kembali dari wilayah timur daratan Jawa. Hingga akhirnya selepas masa remaja, bersama rombongan tetangga dusun, kami berdarma wisata ke Grojokan Sewu di Tawangmangu dan di saat pulang singgah di Taman Curug tepat di tepian Kali Bengawan Solo. Itulah momentum pertama kali kaki saya menginjakkan diri di Kota Solo.

Bayangan Kota Solo menjadi bertambah melekat di hati tatkala dalam kurun waktu selanjutnya mengenal tembang Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi-nya Mas Didik Kempot sebagai sebuah gebrakan kreasi musik campur sari modern yang nyampleng dinikmati telinga setelah genre-nya Pakdhe Manthous dari Gunung Kidul.

OnthelDalam lintasan catatan sejarah yang pernah saya baca mengenai Jogjakarta, tentu saja tidak bisa dilepaskan keberadaannya dengan Solo. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayojokarta Hadiningrat merupakan satu kesatuan kadang sinorowedi yang terpisahkan semenjak ditandatanginya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Dari sanalah saya menjadi sedikit paham bahwa Solo, sebagaimana juga Jogja, adalah pusat pusering budaya Jawa sehingga sama-sama berhak menyandang sebagai Kota Budaya.

Saat nganggur dan lontang-lantung ngalor-ngidul sesaat setelah menggenggam selembar ijazah dari salah satu padhepokan di Jogjakarta, sayapun sempat terseret arus mencari peruntungan kerja di Kota Surakarta. Bermodalkan uji coba dan iseng-iseng berhadiah, meskipun tanpa relasi dan koneksi, saya memberanikan diri mendaftar sayembara CPNS pemerintah kota setempat. Tes ujian saringan masukpun saya jalani di sebuah sekolah di pinggiran Jalan Ahmad Yani. Perasaan lancar-lancar saja menjawab soal-soal yang ditanyakan. Namun jika memang bukan rejeki dan jodohnya, sayapun tidak pernah dipanggil sebagai abdi dalem pamong praja di Kota Surakarta. Era itu, tentu saja sebelum sosok Jokowi muncul sebagai Walikota “paling sukses” di Solo.

Tatkala diri ini mulai terbawa arus sensasi jagad perbloggeran, secara kebetulan saya diperkenalkan dengan Pakdhe Blontank, Kang Andi MSE, Kang Ciwir dan beberapa rekan lain yang tergabung dalam Komunitas Blogger Bengawan Solo. Secara kebetulan pada sekitar Mei 2010 diselenggarakan agenda blogger bertajuk SOLO: Sharing Online lan Offline. Saat itulah baru saya sedikit benar-benar mulai mengenal Kota Solo secara nyata dan kasat mata. Tidak lagi hanya sekedar dari berita, buku cerita maupun dongeng sejarah.

Bis Werkudoro  Jaladara2

Jaladara4  Jaladara3

Setelah masa itu, saya begitu mengangeni Kota Solo. Dalam satu kesempatan saya pernah mengkhususkan diri untuk angon bocah alias mengantarkan si Ponang yang sangat ingin menyambangi Masjid Agung Kota Solo. Dengan kereta Prameks, keluarga kecil kami akhirnya sedikit menikmati jalan-jalan di pusat Kota Solo. Gladag, Alun-alun Lor, Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat, Alun-alun Kidul, Pasar Klewer, dan sudah pastinya Masjid Agung. Perjalan kala itu sangat terkesan mendalam di ingatan kami sekeluarga, terlebih si Ponang Kecil.

Penari Srikandi1 Penari Srikandi Penari Janoko Penari Sodrat Penari Buto

Ndilalahnya, di tahun inipun ternyata Tuhan berkenan memperjalankan saya untuk kembali menyambangi Kota Solo melalui ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI 2013). Tidak tanggung-tanggung 4 hari 3 malam, kami benar-benar tenggelam dalam aura nafas tradisi Jawa yang sangat kental. Mulai dari andrawina di Loji Gandrung, berseminar-ria di Kusuma Sahid, menikmati kemegahan sajian pentas Mangkunegaran Performing Arts, ngonthel pagi hari di jalanan utama, gojek kere dengan beberapa pedagang di Serambi Masjid Agung, berdiplomasi nyang-nyangan baju lurik dengan mbok-mbok di Pasar Klewer, menengok saudara tua di Museum Sangiran, menikmati goyangan kereta Kluthuk Jaladara, dan terakhir menikmati sajian tari dan kuliner khas Keraton Kasunanan yang sungguh termasyur.

Bersama Mas DidiSatu hal yang sama sekali tidak terduga justru pada suatu malam, sekembalinya dari Loji Gandrung, pada saat menapaki loby Hotel Sahid tempat kami diinapkan, secara tidak sengaja saya kepethuk dengan Mas Didi Kempot. Tentu saja ini Didi Kempot yang asli bukan palsu apalagi imitasi. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Maka tidak saya sia-sia momentum tersebut untuk sekaligus minta foto bersama. Bagaimanapun dot ai di, Didi Kempot idolaku.

Semua sungguh sangat berkesan dan membekas tak akan pernah terlupakan di dalam kalbu. Maka tidak berlebihan jika saya menyatakan Solo, so pasti istimewa di hati.

Ngisor Blimbing, 28 November 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Solo, So Pasti Istimewa di Hati

  1. Bahtiar berkata:

    solo,
    pernah hancur lahir batin di medio 98 😦

    Suka

  2. indrijuwono berkata:

    halo mas Nanang, aku menemukanmu lewat google lho. 😉 salam kenal yang dari kereta..

    Suka

  3. Agus Mulyadi berkata:

    Eh mas, bocah sing gek melet-melet ng kulit sepur kae sopo tho? kok ketoke bagus tur berwibawa.. hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s