Kejujuran di Jantung Eropa


Gratis3Sebagaimana telah kita ketahui bersama, manusia adalah makhluk sosial. Manusia senatiasa berinteraksi sosial dengan manusia yang lainnya, baik dalam skala individu maupun dalam kelompok masyarakat tertentu. Dalam proses interaksi tersebut, komunikasi memerankan peranan yang sangat penting. Selain bahasa sebagai alat komunikasi, juga diperlukan sarana atau media untuk berkomunikasi. Pada ranah komunikasi massa, maka terlahirlah berbagai bentuk media massa, baik media cetak maupun elektronik.

Media cetak merupakan pioner sarana komunikasi massa yang sudah berkembang berabad-abad. Selebaran, koran, majalah, kemudian tabloid, terus disusul dengan bentuk dan format-format media cetak yang semakin dinamis mengikuti perkembangan kemajuan teknologi dan jaman. Meskipun pertumbuhan penggunaan media elektronik, terutama dengan internetnya sangat pesat dewasa ini, tetapi media massa cetak seperti koran masih menjadi sarana yang memiliki daya jangkau paling luas, hingga ke masyarakat pedesaan.

Di samping sebagai media penyampai informasi, media koran juga menjadi sarana pembentuk opini publik yang dapat menjadi sarana penyalur aspirasi masyarakat ataupun sarana kontrol terhadap kebijakan penguasa yang menyangkut hajat hidup publik. Karena peran yang strategis tersebut, dalam tatanan negara demokrasi, koran dan lebih luas lagi pers, dianggap menjadi salah satu pilar demokrasi di samping eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Seperti sudah akrab di lingkungan kita, koran-koran harian diterbitkan setiap hari. Ada yang harian pagi, ada pula harian yang terbit pada sore hari. Semua berusaha menyajikan informasi secepat dan se-up to date mungkin. Berbagai cara dilakukan dalam penyebarluasan terbitan suatu koran, mulai dari distribusi melalui agen resmi, toko buku, kios koran, hingga loper koran dan pedagang asongan yang menjajakan koran di jalanan.

Dalam kesempatan menyusuri jalanan di tengah Kota Vienna, Austria, saya sempat menjumpai pemandangan yang sedikit unik dan belum pernah saya temukan di tanah air. Di pinggiran jalan, pada batang tiang listrik maupun telepon terdapat gantungan kertas-kertas di dalam plastik transparan. Setelah saya amati lebih dekat dan seksama, ternyata lembaran kertas di dalam plastik transparan tersebut adalah koran. Lha kenapa koran-koran digantungkan di pinggiran jalan seperti itu?

Austria adalah negeri yang terkenal dengan tingkat kedisplinan masyarakatnya yang sangat tinggi. Kedisiplinan itupun tercermin dari suasana di berbagai tempat dan sarana umum. Di jalanan, di taman, di dalam angkutan umum, dan dimanapun warga seolah sudah sangat paham dan mengerti mengenai hak serta kewajibannya selaku warga negara dalam turut mendukung mewujudkan ketertiban umum. Dari tingkah laku merekapun sangat terlihat bahwa mereka lebih mengutamakan kepentingan orang lain dan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya.

Keberadaan pedagang asongan di jalanan sudah pasti akan mengganggu lalu lintas yang akan berujung kepada ketidaknyaman masyarakat umum. Dalam hal distribusi dan penjualan koran, sistem yang ada di Vienna di samping mengandalkan jalur kios-kios resmi ataupun toko rokok yang lebih dikenal dengan “tabak”, koran-koran dijual dengan cara digantung di tiang-tiang listrik di pinggir jalanan tadi.

Gantungan plastik yang berisi koran tersebut biasanya terdiri atas dua bagian. Bagian atas berisi koran berbayar, sedangkan bagian bawah biasa diisi dengan koran, edaran, ataupun brosur gratisan. Dalam keadaan seperti itu lalu bagaimana pelanggan koran melakukan pembayaran koran yang dibelinya? Hmmm…rupanya di bagian plastik yang memisahkan koran berbayar dan koran gratisan terdapat semacam kaleng celengan yang dipergunakan untuk memasukkan uang koin lengkap dengan label harga. Jadi cara membeli koran di tiang listrik tersebut, pelanggan tinggal memasukkan sejumlah uang pas ke dalam celengan tersebut dan mengambil sendiri koran yang diinginkannya.  Cara yang sangat sederhana dan mungkin kita anggap masih sangat tradisionalis.

Tidak ada kasir, tidak ada yang mengawasi, yakin semua orang membayar? Itulah hebatnya orang Vienna. Cara penjajaan koran seperti itu sudah berjalan selama puluhan tahun, namun faktanya perusahan koran di sana masih bisa beroperasi hingga hari ini. Mereka tidak merugi, apa lagi bangkrut. Analisis secara sederhana cukup dilakukan dengan logika berpikir yang sederhana saja. Berarti semua orang yang membeli koran senantiasa membayar koran yang diambilnya. Berarti tidak ada orang yang mencuri koran dengan tidak memasukkan uangnya ke dalam “celengan” yang digantung bersamaan bungkusan plastik koran tadi. Dengan demikian dapat disimpulkan pula bahwa masyarakat dan warga Vienna adalah kumpulan manusia yang jujur.

Kita tentu saja bisa membayangkan apabila perusahaan koran tersebut memasang dagangan korannya di tiang listrik ataupun telepon di pinggiran jalanan di negara kita. Yakinkah kita bahwa hal yang sama sebagaimana yang terjadi di Kota Vienna tersebut dapat kita temui juga di Indonesia? Kira-kira korannya laris nggak ya? Kira-kira korannya ludes, tetapi celengannya penuh uang seharga jumlah koran yang ludes nggak ya?

Harusnya sih keadaannya sama. Terlebih lagi, bukankah kita seringkali menyatakan sebagai bangsa yang agamis, berakhlak dan bermoral tinggi. Bukankah seharusnya tidak ada lagi ketidakjujuran di negeri yang sangat religious ini? Akh…..sampeyan seperti tidak tahu saja! Kejujuran, moralitas, nilai agama, keramah-tamahan dalam konteks tertentu di Negara kita kan sudah tergadaikan dengan kepentingan, dengan pamrih, dengan keserakahan, dengan kebohongan, dan terutama dengan uang. Bahkan bagi para maling dan koruptor, uang mungkin sudah sedemikian dipertuhankan!

Jika demikian halnya, masihkah layak kita menyandangkan diri sebagai bangsa yang agamis, moralis, dan segala keluhuran budi pekerti manusia ketimuran? Mungkin saatnya kita untuk kembali merenung lebih dalam dan bercermin dengan kesucian hati nurani kita.

Lor Kedhaton, 28 November 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s