Kenek Apes


Santoso1Bagi kita yang terpaksa kecemplung merantau hidup di kotanegara Jakarta tentu dapat memaknai kata mudik secara lebih khusus. Demikian halnya saya, di akhir tahun 2008 begitu mendapatkan kesempatan untuk rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan, serasa mendapatkan potongan surga untuk menikmati liburan akhir tahun di kampung halaman. Terlebih lagi pada waktu itu bapak di dusun akan mantu untuk salah seorang adik kembar saya. Jadi pucuk dicinta ulam tiba rupanya.

Melihat deretan tanggal merah yang berurutan membuat mudik harus direncanakan secara cermat dan teliti. Bagi sebagian para perantau di ibukota, liburan tiga hari berturut-turut hampir bisa disamakan dengan mudik lebaran. Betapa semua angkutan transportasi akan penuh sesak dengan penumpang. Dan karena saya baru sempat berburu tiket pada saat waktu sudah mepet, maka tiket kereta yang biasa saya tumpangi mudik ternyata sudah habis terjual. Akhirnya pilihan saya jatuhkan untuk beralih naik bis malam.

Berbekal pengalaman naik bis Santosa yang biasanya tepat dalam hal jam keberangkatan dan kedatangan, maka sayapun memutuskan untuk naik bis asal kota Tidar tersebut. Sesuai dengan ketentuan, bis sudah siap di agen Kebun Nanas kurang dari jam 15.00 sore itu sehingga tepat pukul 16.00 bis melaju meninggalkan pangkalan. Suasana liburan panjang banyak dimanfaatkan oleh para buruh untuk sejenak menengok keluarga di kampung halaman. Meski sedikit dipaksakan mengangkut penumpang melebihi kapasitas, namun seakan semua penumpang saling memaklumi keadaan. Tak kurang sepuluh orang penumpang cadangan diangkut bis itu.

Semenjak awal bis mangkal, nampak hilir mudik seorang tengah baya dengan kethu coklatnya. Kenal sampeyan dengan dagelan kethoprak Siswo Budoyo? Orang ini sangat mirip. Dialah Pak Darman sang kenek bis yang sigap mengatur penumpang dan berbagai barang bawaan. Dengan keceriaan yang alami dan kepandaian membanyol menjadikan penumpang mudah akrab terhadapnya. Kamipun menjadi sedikit terhibur, meski cuaca sore itu terasa terik menyengat.

Bispun akhirnya melaju memasuki jalan lingkar luar Jakarta untuk langsung menembus ke kawasan Cikunir dan kemudian menyusuri tol Cikampek. Sepanjang perjalanan senja itu tak habis-habisnya Pak Darman bertukar cerita. Karena suaranya yang lantang hingga terdengar ke bagian belakang, hingga saat ia mengungkapkan kejenakaan penumpang satu bispun ikut berderai tawa. Sungguh sumringah suasana bis sederhana tersebut.

Perjalanan berlangsung wajar seiring putaran roda bis yang bersemangat mengantar ke kawasan Magelang. Menjelang Isya’ bis beristirahat di sebuah rumah makan di kawasan Indramayu. Selepas istirahat, Pak Edi sang sopir melajukan kendaraannya lebih bergegas hingga jam sepuluhan berhasil dilintasinya tol Kanci. Kira-kira tengah malam, di sekitar kota Tegal Sang Sopir tiba-tiba menghentikan kendaraannya. Rupanya Pak Sopir kebelet kencing hingga mampir di dekat sebuah pom bensin.

Melihat sopir keluar dan menuju kamar kecil, beberapa penumpang yang merasa perlu berhajatpun ikut-ikutan keluar. Setelah dirasa cukup waktu yang diberikan, sopirpun memberi aba-aba untuk melanjutkan perjalanan. “Pun komplit kabeh penumpange?”, tanya Pak Sopir. Beberapa penumpang menjawab serempak, “Mpun Pak!”.

Akhirnya bispun melanjutkan perjalanan tanpa ada perasaan janggal yang menyertainya. Penumpangpun kemudian banyak yang terlelap menikmati tidur malam di atas bis yang melaju menuju kampung halaman mereka. Seakan impian indah tentang kampung halaman dan handai taulan menggelayuti di pelupuk bawah sadar, menjadikan perasaan ingin waktu segera maju berjalan.

Bispun sengaja berpacu dengan tetesan embun pagi untuk menembus hawa dingin kabut pagi dengan sidikit gerimis tersebut. Jalan berlubang di sepanjang pantura seakan hanyalah kerikil kecil bagi suatu perjalanan yang sangat agung. Menjelang jam 02.00 bis sudah berayun memanjat terjal lereng pegunungan sekitar Sukorejo. Melintasi pasar Sukorejo, dua orang penumpang di bagian depan turun. Tanpa dibukakan pintunya oleh kenek bis, mereka dapat dengan mudah turun karena kebetulan barang bawaannyapun tidak banyak, hingga dengan bantuan beberapa penumpang saja mereka dapat dengan mudah turun.

Beberapa lama bis melanjutkan perjalanan. Setelah sampai di sekitar Ngadirejo, tiba-tiba seorang ibu-ibu di bagian belakang berkata, “Pak lapangan Ngadirejo mandhap nggih!” Akhirnya bispun berhenti di tempat yang diminta oleh ibu tadi. Karena sesaknya penumpang, ibu tersebut tidak dapat langsung turun. Ia berniat turun melewati pintu belakang, namun ternyata pintu tidak dapat dibuka karena penuhnya muatan barang di bagian pintu belakang.

“Pak niki pintune ora iso dibukak! Nyuwun ditulungi to!”, teriak sang ibu. Beberapa penumpang lain berusaha membantu namun sia-sia. Pak Sopir dengan sedikit tidak sabar berteriak,”Keneke niku tulung digugah!”. Penumpang belakang mengira sang kenek tidur di pintu depan. “Teng mburi mboten onten Pak! Ora teng ngarep po?” jawab beberapa penumpang.

Sang Sopir kaget, “Haaaaa! Ora ono ning mburi? Lha terus ning ndi?Wuaduuuh……” Semua penumpang ikut-ikutan kaget mendengar sang kenek tidak ada. Akhirnya di tengah guneman para penumpang yang terheran dengan kejadian di pagi buta itu, Pak Sopir sendiri membantu menurunkan penumpangnya sekaligus barang bawaan di bagasi yang lumayan banyak.

Setelah kembali duduk di kursi kemudinya, Pak Sopir nggunemWelha Darman ki mau jebul ora katut ning Tegal. Tak kiro nek pindah turu ning mburi.” Rupanya pada saat berhenti sejenak di Tegal, kenek bis juga ikut turun dan belum sempat kembali naik, sudah ditinggal bis tancap gas. Perjalanan sekian ratus kilometer dengan melintasi empat kabupaten tidak menyadarkan kami semua bahwa ada seorang yang tertinggal, dan lebih lucu lagi yang tertinggal adalah kenek bis yang melucu sepanjang perjalanan sebelumnya. Kok sampai nggak kepikiran ya?

Akhirnya sepanjang daerah Temanggung, Pak Sopir kerepotan untuk menurunkan barang-barang penumpang, dan ndilalahnya banyak juga penumpang yang turun di daerah tersebut. Sampai di Secang, bis memasuki stasiun pengisian bensin sambil sedikit menunggu bis Santosa yang lain tiba. Beberapa saat masuk bis seri G, dan ketika bis sudah berhenti, tiba-tiba nongollah sang pelawak kami, kenek Darman turun dengan tetap cengar-cengir dari bis itu. Segera ia menghampiri sopirnya.

“Edan kok kowe Ed, mosok keneke dhewe ditinggal. Wis ngono nyegat bise konco-konco nganti ping papat kok yo ora diendeki. Tujakno seri Gne weruh ki!”, tuturnya tetep dengan logat pelawak Siswo Budoyo. Dasar kenek apes, lagi kena sial rupanya.

 Kampung Kosong, 28 Maret 2009

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kenek Apes

  1. Bahtiar berkata:

    ha ha ha . . . .

    kenek ombo atine 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s