Menuju Cahaya Maha Cahaya


Siang itu dengan penuh semangat perjuangan, saya memasang beberapa glass box pada salah satu sisi tembok rumah tinggal kami. Meskipun bukan tukang yang ahli mbobok alias melubangi dinding batu bata, namun dengan keyakinan bahwa pekerjaan tersebut tidak terlampau sulit untuk dikerjakan sendiri, tuntas pula penggawean itu menjelang bedug Ashar.

Glass Box

Kenapa memasang glass box? Alasannya sederhana saja. Glass box yang merupakan kotak bening terbuat dari beling kaca memiliki fungsi untuk meneruskan cahaya matahari dari luar rumah memasuki ruang di dalam rumah. Dengan demikian glass box bisa juga disebut sebagai penerang ruangan di kala siang hari, tentu saja dengan matahari sebagai sumber cahanya. Penggunaan glass box dapat menghemat penggunaan listrik untuk kebutuhan penerangan di waktu siang.

Glass box menjadi pelengkap dan pendukung fungsi cendela ataupun kaca. Ragam dan corak motif yang tergambar pada permukaan glass box menjadikan nuansa keindahan yang sungguh menakjubkan tatkala terjadi dialektika prismatik antara sinar matahari yang datang dengan kristal kaca, sehingga terpantullah aura cahaya yang memberikan kesejukan dan keteduhan ruangan. Terkadang pantulan cahaya yang terjadi menghasilkan spektrum warna-warni pelangi, merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-hingga ungu.

Di keheningan malam selepas kesibukan seharian dengan glass box, pikiran menjadi terkenang kembali ajaran para guru di bangku sekolah dasar dahulu. Mengenai rumah sehat, diajarkan bahwa salah satu syaratnya adalah kecukupan cahaya matahari. Cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan di sebuah rumah, baik melalui lubang jendela maupun genteng transparan, menjadikan rumah tidak lembab dan pengap. Bakteri, virus dan bibit penyakit yang lain menjadi enggan berdiam di rumah yang terang oleh cahaya matahari.

Sudirman

Manusia dengan rumah sehatnya membutuhkan cahaya. Untuk melihat suatu benda, manusiapun memerlukan cahaya. Cahaya datang untuk memantulkan warna, bentuk, wujud, ataupun ciri-ciri suatu benda. Hasil pantulan inilah yang ditangkap oleh lensa mata manusia, sehingga manusia mengerti warna, bentuk dan wujud suatu benda tadi.

Tidak hanya manusia, tumbuhanpun sangat memerlukan cahaya. Dengan bantuan cahaya matahari, tumbuhan hijau dapat melakukan proses fotosintesa untuk mengolah sari pati isi bumi menjadi karbohidrat, protein, hingga lemak nabati yang sangat diperlukan sebagai sumber pangan bagi makhluk hidup tingkat tinggi yang lainnya. Tanpa cahaya matahari, manusia jelas akan kekurangan bahan makanan.

Lebih cermat memperhatikan masa pertumbuhan awal bakal calon tumbuhan maupun tunas muda di ujung pepohonan. Sebuah biji tumbuhan yang dipijahkan di dalam kegelapan cahaya, secara alamiah tunas yang muncul secara perlahan namun pasti akan tumbuh dan berkembang mengarah kepada datangnya sinar matahari. Di dalam kegelapan malam, manusiapun “menciptakan” cahaya buatan untuk dapat menerangi penglihatannya. Cahaya menjadi sesuatu yang teramat sangat penting bagi setiap makhluk hidup.

Dalam sebuah diskusi di forum maiyyahan, suatu ketika Cak Nun pernah mengupas tuntas rahasia perihal cahaya. Dengan berlandaskan dalil Surat An-Nur ayat 35, difirmankan bahwasanya, “Allahunnur”, Allah adalah cahaya. Bukan “Allahunawwir” atau Allah sumber cahaya, tetapi Allah adalah cahaya. Cahaya Maha Cahaya mengatasi kesempurnaan, materi, energi, bahkan gelombang. Tanpa sama sekali bermaksud “membendakan” Tuhan sebagai cahaya, tetapi ayat tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah simbol, pralambang, tamsil atau sasmita rahasia kehidupan.

Secara naluriah, manusia cenderung lebih suka cahaya dibandingkan kegelapan. Tumbuhanpun dalam pertumbuhan ujung tunasnya, secara alamiah, senantiasa menuju kepada cahaya. Dalam penciptaan ruh kehidupan, bukankah senantiasa ditiupkan pula ruhhul kudus sejati yang merupakan bagian dari-Nya sendiri? Maka secara fitrah, setiap makhluk akan memiliki kecenderungan untuk berusaha mendekat dan menuju kepada Sang Khaliknya. Fitrah inilah yang akan menuntun nurani manusia kepada keimanan dan ketaatan.

Banyak hal, banyak peristiwa di sekitar kita yang mengandung hikmah kebijaksanaan yang dalam. Setiap hal, manusia, batu, gunung, pohon, air, sungai, laut, hingga samudera, bahkan setiap ruang dan waktu adalah ayat kauniyyah, ayat-ayat Allah yang tercipta. Ayat-ayat yang tercipta merupakan pelengkap dari ayat-ayat Allah yang terucapkan, atau kalamullah. Di dalam setiap ayat-ayat Allah tersebut terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya. Namun sayangnya hal tersebut hanya bisa dimengerti dan dipahami oleh para hamba-Nya yang mau berpikir. Sedangkan kebanyakan diantara kita merupakan kaum atau golongan manusia yang malas menggunakan pikirannya. Alangkah sia-sianya potensi kecerdasan manusia tersebut.

Lho-lho-lho, kok malah jadi ngelantur yang pembicaraan kita. Dari ngomongin  glass box malah sampai kepada Cahaya Maha Cahaya. Namun justru itulah wujud keluasan pikiran manusia. Pikiran bisa mengembara kemanapun saja ia suka tanpa terikat batasan ruang dan waktu. Semoga saja dalam setiap pengembaraan pikir yang kita lakukan senantiasa mampu memetik hikmah kehidupan dan semakin mengantarkan manusia kepada derajat kedekatan dan kekariban di hadapan haribaan-Nya. Ingat lho nggih, Cahaya Maha Cahaya!

Ngisor Blimbing, 23 November 2013

Foto terbawah diambil dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menuju Cahaya Maha Cahaya

  1. Bahtiar berkata:

    dadi kelingan tahun 1999
    dolan nang lampung liwat tol tengah jakarta
    melongo nyawang gedung-gedung koco kabeh
    konco sebangku neng bis nylethuk : efek rumah kaca ?

    dudu . . . 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s