Ngiyup di Kerindangan Waru Doyong


Waru Doyong1Waru-waru dhoyong, doyong ning pinggir kali. Ayo dha gotong royong, gotong royong ambangun negri. Sekilas syair tetembangan waru dhoyong itu memang sangat sederhana. Namun justru dari kesederhanaannya itulah sasaran pesan intinya begitu mengena betapa pentingnya kebersamaan bergotong royong dalam membangun negeri. Sebuah nilai agung warisan nenek moyang yang kini semakin dilupakan banyak orang.

Pohon waru yang biarpun dhoyong alias miring di atas bentangan sungai, biasanya memberikan keteduhan dan kesejukan tatkala siang bolong dengan terik sinar matahari. Kerimbunan daun pohon waru seolah mengundang dan memanggil agar angin sepoi datang membelai dan memberikan kesegaran bagi siapapun manusia yang berkenan untuk berteduh di bawah kerindangannya. Betapa damai, tenteram, ketenangan jiwa akan membawa manusia seolah begitu dekat dengan karya agung Sang Maha Pencipta. Terlebih jika nyantai, duduk bersandar, ataupun nglengkur di atas batang dahan pohon waru yang condong ditemani iringan tetembangan lengkap dengan bawa dan gendhingnya. Hmmm, tentu saja sangat sulit untuk bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dulu sewaktu masa kecil di Tepi Merapi, tepat di sudut dusun kami terdapat sebuah pohon waru doyong yang tumbuh di tepian kali kecil. Batang waru itupun merentang di atas sebuah kolam ikan yang dulunya dikelola oleh sedulur-sedulur Karang Taruna. Setiap siang ataupun senja hari, anak-anak tidak pernah melewatkan kesempatan untuk penekan di pohon waru tersebut. Tidak hanya sekedar menguji nyali keberanian bertengger di ketinggian 5 meter di atas permukaan air kolam, di atas batang pohon waru itupun anak-anak bisa berayun-ayun mendat-mendut serasa menikmati wahana trampolin.

Waru Doyong4  Waru Doyong3

Adalah sebuah kebetulan tanpa rekayasa, tatkala pada suatu ketika keluarga kecil kami berkesempatan dolan-dolan di Kota Cirebon, ndilalahnya kok sempat nyasar di sebuah tepian pantai yang dulunya merupakan Taman Anak Ade Irma Suryani. Di tengah reruntuhan taman dan puing bangunan yang entah akan dibangun untuk apa, kami mendapati beberapa batang pohon waru yang doyong di tepian garis pantai. Angin laut siang hari yang sepoi-sepoi bertiup dengan membawa aroma asin garam laut membuat suasana tempat sekitar menjadi sedikit gerah. Maka pilihan kami kemudian adalah berteduh di bawah batang waru doyong.

Bentuk hati daun pohon waru yang sering menjadi simbol cinta dan kasih tulus sejati semakin nampak berkilau tersengat sinar matahari. Terpaan angin menimbulkan gemerisik daun-daun waru tersebut yang menimbulkan irama kedamaian yang merasuk hingga ke dalam kalbu. Tidak hanya membangkitkan suasana batin yang tenteram, dedauan tersebut juga tengah berproses mengolah sari pati mineral bumi dalam proses fotosintesis yang juga menghembuskan zat asam alias oksigen yang melegakan setiap sendi-sendi pernafasan hingga pada kedalaman paru-paru. Jiwa sekaligus raga seketika itu menjadi segar bugar seolah bayi yang baru lahir menghirup alam dunia.

Waru Doyong5 Waru Doyong6 Waru Doyong7

Anda pernah menikmati kekhusukan suasana damai di bawah batang waru doyong seperti kami? Jika belum, cobalah sekali-kali melakukannya. Sensasi kenikmatan batin yang luar biasa pasti akan Anda temukan seketika. Di masa kini memang justru semakin sulit menemukan keberadaan si waru doyong. Teramat sangat rugi jika dalam seumur badan dan sepanjang hayat di kandung belum kesampaian menikmati sensasional waru doyong. Waru-waru doyong, doyong di pinggir……..ah hmmm, luar biasa. Subhanallah, sungguh setiap ciptaan-Nya tiada satupun yang tersia-sia.

Ngisor Blimbing, 21 November 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Ngiyup di Kerindangan Waru Doyong

  1. reki berkata:

    Kali angkrik Kali gesing Kali putih Kali elo ….kutho Magelang ayem anteng…golek mangan bengi onone bakmi sego goreng sego godhog…he he he….salam….

    Suka

  2. Ping balik: Ngadem di Cirebon Waterland | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s