Menengok Cakrawala, Mendekati Lintang


Langit dan bumi adalah satu kesatuan alam. Tidak ada bumi tanpa langit, dan tidak ada langit tanpa bumi. Langit bumi senantiasa hadir serta menjadi pasangan yang tak terpisahkan. Di batas antara bumi dan langit, di sanalah terbentang cakrawala. Batas garis horizon yang seolah hanya hadir dalam penggambaran ujung pandang indera mata manusia. Maka tatkala sang mentari masuk di batas cakrawala di saat senja, satu per satu mulailah bertebaran sang bintang menjadi penerang di gulitanya malam kelam.

Cakrawala

Masih di minggu awal bulan Muharram atau bulan Suro di penanggalan Jawa-Hijriyyah, justru Tuhan telah menerbangkan keluarga kecil kami menengok Cakrawala dan mendekati Lintang, alias nyedhaki lintang atau bintang. Benar sedulur! Ini bukan sekedar cerita bohongan, apalagi sekedar rekayasa untuk bumbon dunia maya!  Cerita yang saya kisahkan tersebut adalah hal yang nyata, bahkan wela-wela jelas ketok mata!

Sebentar, jangan salah paham apalagi salah sangka kepada kami. Cerita tentang Cakrawala dan Lintang ini bisa dibuktikan dan sampeyan klarifikasi sendiri. Cakrawala dan Lintang yang saya maksudkan adalah dua bocah kakak beradik yang sama-sama menyandang nama El Rifai. Mereka berdualah buah hati dari sedulur kami yang pernah nggendera dan fenomenal sebagai Presiden Republik BHI. Sampeyan Kang Bahtiar Rifai? Atau kenal dengan Republik BHI? Jika sedikit lupa atau sayup-sayup pernah mendengar, atau bahkan apabila belum tahu sama sekali, perlu sedikit saya singgung bahwa Republik BHI adalah nama sebuah kelompok atau komunitas blogger-blogger yang pernah selalu nongkrong setiap Jum’at malem Sabtu di seputaran Bunderan HI, Jakarta Pusat.

Bahtiar1Kang Bahtiar sebenarnya bukan orang lain bagi saya. Kami pernah sama-sama menjalani laku ngangsu kawruh alias berguru di Padhepokan Nggajah Mada kala itu. Atas kesamaan satu guru satu ilmu itulah, maka hingga akhir jaman kelak kami akan tetap terikat sebagai sedulur seperguruan. Ikatan ini adalah modal awal tali persaudaraan yang hingga kini masih tertanam kokoh di hati kami masing-masing.

Kurang lebih tiga pekan lalu, telah lahir sosok ponang jabang bayi putra kedua Kang Bahtiar. Melanjutkan tradisi penamaan putra pertama yang diberi nama Lintang, maka putra kedua ini kemudian diberinya nama Cakrawala. Saya sendiri belum sempat mendapatkan penjelasan langsung kenapa kosa kata angkasa raya yang diambil untuk nama para puteranya, namun saya menduga bahwa sebagaimana kepercayaan para sesepuh kita bahwasanya nama adalah doa, maka doa pengharapan dari kedua orang tuanya pasti tidak terlalu jauh dari makna kata-kata yang diambil tersebut. Lintang adalah sinar penerang dan petunjuk di kegelapan, sedangkan cakrawala adalah simbol dan pralambang keluasan.

BahtiarLintangKelahiran Cakrawala, langsung maupun tidak langsung ternyata telah menghantarkan keluarga kecil kami untuk beranjangsana merapat ke pesanggrahan kedua orang tuanya. Jarak diantara tempat tinggal kami masing-masing sebenarnya tidak terlampau terpaut jauh, toh hanya sebatas dua kecamatan bersebelahan yang kebetulan berada di dua daerah administratif pemerintahan yang berbeda. Dengan berkendara roda dua, jarak tersebut tidaklah lebih dari sepenginangan atau sakpengududan. Namun barangkali karena kesibukan dan perbedaan warna aktivitas keseharian kami telah menjadikan sepenggal jarak tersebut menjadi perentang batas ruang dan waktu. Akhirnya Cakrawalalah yang mempertemukan ruang dan waktu kami.

Sebagaimana harapan dan doa baik kedua orang tuanya yang menyematkan nama kepadanya, kamipun sekedar turut berbahagia atas kehadiran Cakrawala seraya turut memanjatkan doa agar kelak ia benar-benar bisa menjadi manusia yang memiliki keluasan dalam segala hal kebaikan dan kebajikan. Luas ilmunya, luas budi pekertinya, luas cita-citanya, luas pengabdiannya, luas amal ibadahnya, luas….luas….luas dan luas….., sehingga senatiasa berbakti serta berguna untuk bapak dan ibunya, juga untuk masyarakat, bangsa, negara dan agama-Nya.

Ngisor Blimbing, 16 November 2013

Foto-foto dipinjam dari sini.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Menengok Cakrawala, Mendekati Lintang

  1. Bahtiar berkata:

    pangestunipun, bro

    Suka

  2. kw berkata:

    selalu kagum dengan orang-orang yang memutuskan menikah dan punya anak itu…
    selamat datang cakrawala,,,,,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s