Jakarta Parah!


Bagi orang Jakarte, kejadian macet di jalanan adalah makanan sehari-hari. Tidak di pagi, siang, sore hingga malam, ribuan kendaraan memadati jalanan yang semakin kian terasa sempit. Deru mesin yang menderu berpacu dengan waktu, lengkingan bunyi klakson dari jiwa-jiwa yang semakin kehilangan kesabaran, ditambah debu polusi hasil pembakaran bahan bakar fosil yang tak sempurna semakin membuat manusia Jakarta stress plus garing jiwa rohaninya. Keadaan bertambah ruwet jika kadatangan hujan yang seringkali menimbulkan genangan dan banjir di beberapa wilayah sehingga semakin memperparah kemacetan yang terjadi. Tidak lagi macet, bahkan lalu-lintas seolah menjadi stagnan, diam dan beku selama berjam-jam. Jakarta, oh Jakarta!

Jakarta? Apa enaknya hidup di Jakarta? Jakarta seolah identik dengan hawa panas, udara pengap nan kotor oleh polusi udara yang gila-gilaan, sungai dan got-gotnya yang penuh air kotor, suasana bising di sepanjang jalanan, sampah dan bau busuk di setiap sudut kota, bahkan juga di tempat-tempat yang hanya berapa jengkal dari Istana Negara, tempat sang Presiden bertahta. Semua dan segala hal ketidaknyamanan menjadi makanan manusia Jakarta sehari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun tanpa tahu kapan akan berakhirnya, atau minimal menjadi lebih baik. Keparahan demi keparahan justru semakin nampak menghantui Jakarta.

Lihatlah realitas Jakarta hari ini kawan! Di balik kemewahan gedung-gedung megah pencakar langit terdapat istana-istana kardus dan triplek di bantaran kali yang berkali-kali terendam air dari kali yang meluap. Di sekeliling ruangan sejuk ber-AC terdapat lingkungan terbuka yang panas dan gersang. Di samping rumah-rumah mewah milik para orang kaya berderet-deret gubug-gubug reot yang siap rubuh sekalinya ditiup angin. Di sisi mobil-mobil mewah yang unjuk tampang di jalan raya dengan pemiliknya yang berleha-leha dalam kemacetan kota juga berdesakan motor, ojeg, bajaj, angkot, metromini, kopaja yang menjejalkan manusia bagaikan ikan pepes yang kegerahan di dalam oven. Inilah Jakarta hari ini. Jakarta ibukota kebanggan anak bangsa. Jakarta yang semakin menebarkan kontradiksi-kontradiksi kehidupan yang semakin bisu dan sunyi.

Siapa suruh datang ke Jakarta? Bagaimanapun manusia dari penjuru Nusantara masih mengakui bahwa Jakarta bagai magnet kuat yang mengundang setiap anak bangsa untuk mengadu peruntungan dan nasibnya. Konon demi penghidupan yang lebih baik, sebab semua rakyat sudah teramat sangat mafhum bahwa sebagian besar peredaran uang negeri ini hanya terpusat di Jakarta Ibukota Republik Indonesia. Meskipun tanpa pernah bermaksud mengabaikan kemajuan yang telah dicapai banyak daerah di luar Jakarta, tetapi betapa ketidakadilan-ketidakadilan itu nampak nyata bahkan sudah menjadi rahasia umum seluruh lapisan masyarakat. Betapa timpangnya dikotomi antara pusat dan daerah, antara pusat pemerintahan dan pinggiran negeri, antara kota dan desa.

Namun bahwa setiap harapan dan angan untuk meraih mimpi hidup yang lebih baik di ibukota juga tidak sepenuhnya tergapai dengan oleh para perantau juga bukan rahasia lagi. Jakarta adalah rimba raya. Dimanapun rimba raya yang selalu berlaku adalah hukum rimba dimana yang kuat akan senantiasa menindas dan bertindak sewenang-wenang terhadap yang lemah. Yang kuat memangsa yang lemah, yang tinggi menginjak yang rendah, yang pandai mengakali yang bodoh, yang dusta mengelabui yang jujur, yang berkuasa justru menindas dan mengkorup jatah kesejahteraan rakyat jelata.

Jakarta dengan kebisingannya, Jakarta dengan kemacetannya, Jakarta dengan polusinya, Jakarta dengan sampahnya, Jakarta dengan kepengapannya, Jakarta dengan banjirnya, Jakarta dengan para kriminalnya, Jakarta dengan para koruptornya, Jakarta dengan bandit-bandit negaranya, Jakarta dengan segala permasalahan dan keruwetannya masihkah menyisakan ruang untuk manusia tetap menjadi manusia? Masihkah tersisa senyum ramah dan tingkah santun para penghuni kotamu?

Sebagai bangsa timur, tentu kita menjunjung tinggi norma dan nilai moralitas. Tetapi yakinkah hal itu masih tersisa di Jakarta hari ini? Lihatlah betapa manusia sudah sedemikian ego dengan kepentingannya masing-masing. Bukan lagi kepentingan umum ditempatkan di atas kepentingan pribadi dan golongan, namus justru sudah terbalik bahwa kepentingan pribadi mengalahkan segalanya. Kemacetan Jakarta bisa jadi lebih disebabkan oleh sikap individualis tersebut. Betapa tidak, setiap orang beruang merasa berhak untuk memiliki kendaraan pribadi tanpa mempertimbangkan daya dukung jalan yang serba terbatas dan harus dibagi bersama dengan pengguna jalan yang lain. Betapa sangat banyak mobil melenggang di jalanan hanya membawa satu-dua orang, sementara di sisi jalan yang lain orang-orng lemah bergelantungan di bus kota, angkot, dan kereta usang.

Ah, seandainya manusia Jakarta mau berendah hati, mereka tentu lebih berpikir tentang kebersamaan dan rasa berbagi. Jalanan adalah milik bersama, maka akan sangat lebih bijak jika para manusia Jakarta berendah hati untuk bersama-sama menggunakan fasilitas angkutan umum. Jikalau masyarakat mau mengubah pola perilakunya, maka pemerintah dan para pihak terkaitpun harus segera membenahi, melengkapi dan memperbanyak sarana angkutan yang layak dan nyaman untuk semua orang. Dengan semakin ditambahkanya angkutan umum, dapat dipastikan simpul-simpul kemacetan akan terurai dengan sendirinya.

Apakah Jakarta kemudian akan kehilangan sifat metropolitannya seandainya para penghuniya rela menggunakan angkutan umum? Tentu tidak kawan! Lihatlah manusia modern di kota-kota Eropa dan Amerika, mereka lebih nyaman berkendaraan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi. Dengan angkutan umum manusia akan lebih memiliki peluang untuk saling bertegur-sapa dan berinteraksi satu sama lain. Keakraban dalam suasana kebersamaan akan lebih terjalin erat. Dalam suasana demikianlah kenyaman dan ketentraman baru mungkin diwujudkan. Kebisingan berkurang, polusi menipis, energi dan bahan bakar akan lebih irit, tingkat stress akan teredam dan masih banyak lagi dampak positif terhadap manusia Jakarta.  Manusia Jakarta akan kembali menjadi manusia yang sejatinya.

Tetapi apakah semua hal itu justru semakin jauh panggang daripada api? Justru di hari-hari terakhir, Jakarta begitu menjengkelkan, menekan jiwa, menyempitkan hati, bahkan memuakkan pikiran jernih. Jakarta Parah!

Lor Kedhaton, 14 November 2013

Foto kemacetan diambil dari sini, sini, sini, sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Jakarta Parah!

  1. Bahtiar berkata:

    super sumpek segalanya . . .

    Suka

  2. Andy MSE berkata:

    aku datang ke jakarta… bar kuwi cepet2 pindah ke bandung… hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s