Janur Kuning: Tetenger Istimewa untuk Blogger Istimewa


blogger-nusantara-2013-logoJogja memang istimewa. Siapapun tidak mungkin meragukannya lagi. Banyak hal yang menjadikan Jogja berpredikat sebagai daerah istimewa, mulai dari tradisi dan budayanya, sejarahnya, tata kotanya, kulinernya, hingga keramahtamahan warganya yang senantiasa berhati nyaman. Karena banyak keistimewaannya, Jogjapun menyandang berbagai julukan, seperti kota budaya, kota pelajar, kota pendidikan, kota gudeg, termasuk kota perjuangan.

Untuk julukan Jogja sebagai Kota Perjuangan, semenjak republik ini diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta, Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VII langsung menyatakan dukungan dan berada di belakang barisan kaum republiken. Di masa awal pemerintahan RI berdiri, bahkan Kasultanan Jogja tidak segan-segan mengeluarkan kas kerajaan untuk menggaji para menteri dan membiayai roda pemerintahan. Bahkan tatkala Belanda melancarkan Agresi Militer I dan berhasil menangkap Presiden serta Wakil Presiden, Jogja secara terbuka menerima diri sebagai ibukota perjuangan.

Tatkala posisi pemerintahan RI berada di ujung tanduk karena para pucuk pimpinannya ditawan Belanda dan seolah dunia internasional mengira RI sudah tumbang, lagi-lagi Jogja mengembalikan keyakinan dunia bahwa RI masih berdiri dan memiliki TNI yang senantiasa manunggal dengan rakyat. Peristiwa penyerangan terhadap basis markas tentara pendudukan Belanda ini berlangsung pada tanggal 1 Maret 1949 yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Serangan Umum 1 Maret yang berhasil menduduki kota selama enam jam.

Diantara kawan-kawan pembaca, pernahkah menonton film cerita mengenai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949? Ya, film tersebut berjudul “Janur Kuning”. Dalam film tersebut dikisahkan bahwa janur kuning yang dikalungkan di leher ataupun disematkan di pundak ataupun dada memberikan tetenger atau penanda sebagai anggota pejuang yang setia terhadap RI. Di masa itu memang tidak sedikit anak bangsa yang menggadaikan kesetiannya kepada bumi pertiwi dan memilih berada di barisan penjajah atas nama keserakahan, pangkat, jabatan ataupun harta benda. Untuk menegaskan sikap setia kepada kemerdekaan inilah ditandai dengan janur kuning. Janur kuning menjadi tetenger atau penanda kesetiaan para pejuang kepada NKRI.

Bukan sembarangan kenapa yang dipilih sebagai tetenger adalah janur kuning. Dalam filosofi budaya Jawa, janur memiliki kerata basa sebagai jan-jane atau sejatine nur. Sebenar-benarnya nur atau cahaya ilahi. Janur menjadi pralambang kesucian cahaya Sang Maha Cahaya, yaitu Allah SWT. Dengan demikian janur kuning sekaligus menjadi penguat tekad bahwa setiap langkah perjuangan dalam menegakkan dan membela kemerdekaan senantiasa akan berada di dalam perlindungan cahaya-Nya.

Tatkala Kopdar Blogger Nusantara 2013 diputuskan untuk digelar di Jogjakarta dengan semboyan Blogger Nusantara Blogger Istimewa, maka alangkah indahnya jika semangat kejuangan para gerilyawan yang menyelempangkan janur kuning di leher, pundak ataupun dadanya dihayati kembali oleh barisan blogger istimewa. Alangkah istimewanya jika sebagai tetenger atau penanda bahwa seseorang di hari-H merupakan blogger yang akan turut kembul andrawina di Kopdar Blogger Nusantara 2013 bisa kembali mengenakan janur kuning. Jadi seandainya di hari-hari menjelang Hari-H, sampeyan menjumpai orang-orang di terminal, stasiun, halte bus, ataupun berkeliaran di tengah jalanan Jogjakarta dan mengenakan janur kuning, maka hal tersebut berarti bahwa orang yang bersangkutan dapat dipastikan sebagai bagian dari keluarga besar Blogger Nusantara.

Wong JowoBlogger Istimewa dengan selempang atau kalung janur kuning, tentu saja hanya imajinasi dan kerinduan saya terhadap masa-masa perjuangan fisik di Kota Istimewa Jogjakarta sebagaimana telah banyak dikisahkan oleh para guru sejarah ataupun orang tua dan para simbah kita.  Dalam konteks kopdar atau pertemuan tatap muka segenap keluarga besar Blogger Nusantara, janur kuning dapat dimaknai sebagai simbol dan pralambang menyatunya kesucian cahaya persaudaraan diantara sesama anak bangsa. Dengan kesamaan dan kesatuan simbol janur kuning yang tergali dari khasanah sejarah bangsa kita, diharapkan terjadi pembauran yang semakin mempererat tali persaudaraan yang pada gilirannya akan semakin mengukuhkan semangat jiwa persatuan dan kesatuan diantara kita semua.

Dibandingkan nametag tanda kepesertaan di ajang Kopdaran Blogger Nusantara 2013, tentu akan sangat terlihat unik, khas, dan nyeni jika peserta maupun panitia mengenakan atribut janur kuning. Hayo siapa mendukung Blogger Istimewa dengan janur kuning sebagai sandi tetenger?

Ngisor Blimbing, 11 November 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Janur Kuning: Tetenger Istimewa untuk Blogger Istimewa

  1. Bahtiar berkata:

    Bro,
    Pagelaran keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu ALUN ALUN UTARA ATAU aLkid / alun – alun kidul ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s