Menggali Kembali Spirit Kepahlawanan


Hari ini tanggal 10 November 2013. Bangsa kita kembali sampai kepada momentum peringatan Hari Pahlawan. Peristiwa heroik penyerangan terhadap Hotel Yamato yang dilakukan oleh arek-arek Surabaya dipicu oleh ultimatum tentara NICA yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda ke Nusantara. Dalam pertempuran maha dahsyat tersebut, Jenderal Malaby selaku pimpinan tentara Belanda tewas. Resolusi jihad yang difatwakan Kiai Hasyim Asyari berpadu dengan pekik merdeka Bung Tomo dan juga para pimpinan pejuang yang lain, benar-benar membakar spirit patriotisme arek-arek Surabaya waktu itu untuk berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan. Spirit kepahlawan yang luar biasa inilah yang menjadi dasar ditetapkannya tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Wiranto1

Kenapa para pemuda waktu itu mau, mampu dan sanggup berjuang dengan segenap jiwa raga membela kemerdekaan yang baru diproklamasikan beberapa bulan sebelumnya? Apa yang mendasari tindakan perjuangan mereka? Spirit seperti apakah yang harus kita gali kembali untuk memperjuangkan kebangkitan negeri kita yang kini tengah terpuruk dalam krisis multi dimensional?

Kembali belajar dengan menggali sejarah besar bangsa kita. Pangeran Sambernyawa yang bernama kecil Raden Said dan kemudian bergelar KGPAA Mangkunegara I, merupakan salah satu contoh pejuang yang sangat gigih melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Kompeni Belanda. Dalam 251 pertempuran, secara gemilang pasukannya berhasil unggul melawan pasukan Kompeni. Apa rahasia di balik kemenangan-kemenangan tersebut?

Sebagai seorang negarawan besar yang juga mendalami pengetahuan filsafat, Pangeran Sambernyawa merumuskan konsep penanaman jiwa patriotisme kepada pengikutnya melalui penggalian dan penanaman nilai melu handarbeni, melu hangngrungkebi, lan mulat sarira hangrasa wani.

Modis1  Modis2

Dengan melu handarbeni, setiap tunas anak bangsa dan rakyat secara keseluruhan pertama-tama harus memiliki rasa memiliki terhadap setiap jengkal tanah air, tanah tumpah darah, juga kepada bangsa Indonesia. Dengan landasan sikap ikut memiliki terhadap nusa dan bangsa tersebut akan mendorong rakyat untuk melu hangngrungkebi, turut bela negara. Kedaulatan negara adalah kehormatan bangsa. Kemerdekaan merupakan hak asasi manusia yang harus diperjuangkan tegak dan kelestariaannya. Maka tatkala ada bangsa lain yang ingin merongrong kedaulatan negara, rakyat harus mengambil sikap bela negara. Sakdumuk bathuk senyari bumi harus dibela dengan toh nyawa lan wutahing ludira, setiap jengkal tanah tumpah darah Indonesia harus dibela dengan segenap jiwa dan raga.

Sikap melu handarbeni dan melu hangngrungkebi senada dengan sikap jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam melakukan bela negara. Apakah kemudian bela negara harus dilakukan dengan membabi buta bagaikan ungkapan doktrin right or wrong is my country? Tidak demikian saudaraku. Sikap nasionalisme dan patriotisme terhadap negara dan bangsa dengan segala kebijakannya harus dilakukan dengan sikap kritis sehingga rakyatpun harus juga berani mulat sarira hangrasa wani. Sikap kritis terhadap semua kebijakan dan program pemerintahnya. Kebijakan yang baik harus didukung penuh. Akan tetapi apabila terdapat kebijakan pemerintah yang salah, tidak tepat, bertentangan dengan kepentingan negara, tidak sesuai dengan konstitusi, berlawanan dengan nilai moralitas dan agama, maka rakyatpun harus mengingatkan pemerintah. Rakyat harus menjadi patner dialog bagi pemerintah di dalam proses perumusan kebijakan. Dengan demikian setiap kebijakan pemerintah akan senantiasa pro rakyat dan sesuai dengan aspirasi kepentingan negara sebagaimana sudah dirumuskan di dalam Pembukaan UUD 1945.

Wiranto2Penanaman kembali semangat patriotik kepada segenap anak bangsa sebagaimana pernah dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa ini sempat mengemuka dalam Monthly Discussion Kompasiana edisi November 2013 ini. Dengan menghadirkan narasumber Jenderal (Purn) Wiranto, diskusi dalam suasana kehangatan peringatan Hari Pahlawan kali ini sengaja mengangkat tema “Estafet Perjuangan Pahlawan Menuju Indonesia Maju”. Modis Hari Pahlawan yang dipandu Iskandar Zulkarnain tersebut berlangsung pada Sabtu, 9 November 2013, bertempat di Hotel All Season Jakarta Pusat, dihadiri oleh lebih dari seratusan Blogger Kompasiana.

Di samping penggalian kembali nilai dan spirit perjuangan untuk bela negara, beberapa hal lain juga sempat mengemuka dalam diskusi, diantaranya penggalian kembali visi dan misi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana telah dirumuskan di dalam Pembukaan UUD 1945,  kepemimpinan negara dalam menghadapi globalisasi dunia, konsep penegakan nilai dan supremasi hukum, juga prioritas-prioritas program pembangunan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju serta mampu bersanding secara sejajar dan bermartabat dengan negara-negara yang lain.

Suasana diskusi bertambah hangat dan meriah dengan selingan beberapa nomor lagu yang dinyanyikan dengan syahdu oleh Pak Wiranto, seperti Juwita Malam karya Ismail Marzuki, dan Bunga Terakhir dari Beby Romeo. Peserta bertambah semangat dengan kuis pertanyaan seputar materi diskusi dan juga pengumuman lomba live twitter yang masing-masing berhadiah HP Samsung Galaxy.

Wiranto3  Wiranto4

Sebagai sebuah upaya penanaman kembali spirit kejuangan dan perjuangan bela negara kepada generasi muda, Modis kali ini memiliki peranan yang amat strategis. Di kala negara dalam posisi dilematis dan terpuruk dalam krisis multidimensi yang berkepanjangan seperti saat ini, kita tidak bisa semata-mata menggantungkan nasib kepada para pemimpin negara di pemerintahan. Para pemuda harus kembali memerankan posisi pengawal pembangunan dengan mengkritisi setiap kebijakan pemerintah, memberikan upaya solusi bagi permasalahan bangsa, serta berkarya secara sungguh-sungguh di bidangnya masing-masing. Semangat muda adalah semangat perubahan. Di tangan para pemuda jualah perubahan menuju arah yang lebih baik harus dimulai. Sanggupkah pemuda di masa kini memerankan posisi tersebut? Jawabannya kembali kepada nurani dan kesungguhan kita masing-masing!

Ngisor Blimbing, 10 November 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menggali Kembali Spirit Kepahlawanan

  1. eko magelang berkata:

    met hari pahlawan mas…tetep semangat dalam segela hal….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s