Sesekali Mlebu Lawang Sewu


LawangSewu1Lawang Sewu, sampeyan mengenal tempat itu? Tentu saja sebagian besar kalangan masyarakat kita pernah mendengar sebuah gedung tua yang dujuluki Lawang Sewu. Nama tersebut sempat melejit dan sangat tenar ketika sedasa warsa yang lalu banyak stasiun tivi swasta yang menayangkan acara uji keberanian di tempat-tempat angker. Tayangan seorang peserta yang ditinggal sendirian oleh para kru dengan hanya ditemani kamera perekam penampakan seringkali membuat pemirsa berdebar-debar atau malah ketakutan dengan dramatisasi penampakan yang hadir. Sampeyan masih ingat?

Tayangan acara penampakan di beberapa sudut kompleks gedung Lawang Sewu telah mematrikan sebuah kesan bahwa gedung lawas tersebut tinggal puing-puing rumah tua yang sudah tidak berpenghuni dan terurus lagi, serta sudah pasti sangat angker. Apakah memang benar demikian kenyataannya?

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung besar yang dibangun di masa pemerintahan Hindia Belanda. Gedung perkantoran besar di titik protokol Kota Semarang tersebut dulunya pernah menjadi kantor pusat Perusahaan Kereta Api Swasta Belanda (NIS, Nederlandsch Indishe Spoorweg Maatschappij). Gedung tiga lantai ini dibangun dengan gaya eropa dimana banyaknya pintu dipadu dengan jendela-jendela tinggi besar yang di mata awam juga dianggap sebagai pintu. Menurut narasumber terpercaya, sesungguhnya jumlah pintu di kompleks gedung ini hanya 429 buah saja. Pengistilah banyak pintu yang seolah tak terhitung ini menjadikan masyarakat Jawa menjuluki gedung ini dengan sebutan gedung Lawang Sewu.

Di masa pendudukan Jepang, Lawang Sewu pernah dijadikan markas tentara dan banyak diantara ruang-ruang yang ada difungsikan sebagai penjara, termasuk beberapa diantaranya berupa penjara bawah tanah. Konon di dalam tahanan inilah terjadi banyak penyiksaan hingga eksekusi para tawanan perang. Dari korban-korban eksekusi inilah masyarakat percaya banyaknya mayat yang mati penasaran sehingga ruhnya tidak tenang di alam baka hingga saat sekarang.

LawangSewu2 LawangSewu3

Dalam perkembangan pasca kemerdedaan RI, setelah semua perusahaan asing dinasionalisasi oleh pemerintah, Gedung Lawang Sewu pernah menjadi Kantor Pusat Perusahaan Jawatan Kereta Api. Beberapa tahun yang lalu Lawang Sewu dipugar dengan tetap mempertahankan arsitektur bangunan aslinya.  Pada pertengahan tahun 2011 yang lalu, proses pemugaran dan renovasi selesai dilakukan, meskipun hingga kini belum tuntas seratus persen. Saat ini, gedung tua ini difungsikan sebagai sebuah museum yang menyimpan berbagai benda dan dokumen perkembangan perkereta-apian di tanah air.

Sebagai sebuah museum yang dilengkapi dengan sarana perkantoran untuk pengelolaannya, jelas Lawang Sewu seharusnya tidak seseram yang tergambarkan dalam tayangan uka-uka versi Hari Panca tentunya. Memang benar beberapa sudut di banguan paling belakang terhenti proses renovasinya, padahal kondisi bangunannya telah sangat kusam, beberapa bagian keropos dan banyak menyisakan ruang-ruang yang lembab dan kurang terawat. Namun sebagai sebuah museum sejarah, Lawang Sewu di masa kini justru sangat menarik sebagai tujuan obyek wisata yang menjadi salah satu land mark-nya Kota Semarang.

LawangSewu4 LawangSewu5

Letak Museum Lawang Sewu sangat strategis. Bangunan yang kini nampak megah nan anggun ini berada tepat di sisi timur laut Tugu Muda Semarang, atau tepat di sudut antara Jalan Pandanaran dan Jalan Pemuda. Untuk memasuki museum pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp.10.000,- untuk dewasa dan Rp. 5.000,- untuk anak-anak. Dengan tiket yang semurah itu pengunjung akan dibawa menyelami penggalan sejarah perkembangan transportasi perkereta-apian di tanah air.

Kompleks Museum Lawang Sewu sebagaimana awal aslinya bangunan dibangun, terdiri atas tiga bangunan gedung utama. Gedung terdepan merupakan gedung utama dengan ukuran yang paling besar. Dengan pintu gerbang besar di bagian tengahnya, di sisi kanan dan kirinya terbentuk sayap gedung yang memanjang masing-masing kanan dan kiri ke arah bagian belakang. Pengunjung dapat memasuki  gerbang tersebut dan menjelajah beberapa ruang utama di bagian depan untuk selanjutnya menaiki tangga menuju ruang-ruang di lantai dua.

LawangSewu7 LawangSewu8

Dari sisi depan gedung utama, pengunjung juga dapat mengambil jalur sisi kanan halaman untuk menuju gedung di sisi belakang. Di gedung yang satu ini banyak mengoleksi benda-benda khas perkereta-apian yang semenjak awal dipergunakan perusahaan kereta api jaman Belanda. Ada berbagai macam alat pencetak tiket, lift barang (dump lift), berbagai jenis wessel pengatur jalur kereta api, hingga berbagai jenis bahan bangunan yang dipergunakan di Lawang Sewu dari waktu ke waktu. Di salah satu ruang di gedung ini pula terdapat ruang diorama yang memutar video perkembangan stasiun-stasiun kereta api utama di Indonesia.

Sebuah gedung di sebelah utara sisi belakang terdapat bagian museum yang banyak memajang foto-foto maupun gambar berbagai prasarana kereta api, seperti jalur rel, stasiun kereta api, kereta api, pabrik ataupun bengkel kereta api, juga dokumentasi proses pemugaran gedung Lawang Sewu dari waktu ke waktu.

LawangSewu6

Memisahkan gedung utama, gedung belakang, dan gedung sisi utara terhampar sebuah halaman lapang yang dinaungi pohon klengkeng yang rindang meneduhkan suasana. Pada beberapa titik di tepian halaman tengah ini disediakan bangku-bangku ala stasiun tua yang dapat dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk istirahat sejenak dan melepas lelah sambil menghirup udara segar nan sepoi-sepoi. Sebagai sebuah bangunan lawas yang tetap mempertahankan arsitektur aslinya, Lawang Sewu merupakan pesona yang menakjubkan bernuansa jadul yang mengundang decak kagum akan pencapaian kemajuan ilmu arsitektur di kala itu. Tempat dengan nuansa full jadul inipun sangat sesuai dan banyak dimanfaatkan oleh para calon pengantin untuk menjadi latar pengambilan foto-foto pre wedding mereka.

Lawang Sewu saya kira tidak lagi seangker yang kita kira selama ini. Ingin membuktikannya, silakan sesekali mampir dan mlebu ke Lawang Sewu tanpa perlu nuwun sewu dengan para ”penunggu atau pengganggu”.

Ngisor Blimbing, 16 Oktober 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s