Zentralfriedhof, Ikon Makam Tua di Kota Vienna


Z1 Z2 Z4 Z3

Masih ingat dengan film seri mingguan yang di tahun 80-an rutin tayang di TVRI? Film mengenai kehidupan sehari-hari Pak Sukri dan keluarga, beserta para tetangga kanan-kiri rumahnya tersebut menjadi tayangan keluarga yang sangat dinanti di masa itu. Benar ingatan sampeyan, film tersebut berjudul Rumah Masa Depan.

Entah darimana, kurang jelas lor-kidul ataupun tales-kimpulnya, anak-anak justru memplesetkan rumah masa depan sebagai kuburan, alias tempat kembali manusia di alam baka sebelum memasuki alam keabadian di akhirat kelak. Plesetan ini dulupun sangat tenar dan terkenal dalam acara humor ataupun tebak-tebakan di banyak stasiun radio lokal. Seorang bocah akan merasa sangat bangga jika ia memberikan pertanyaan tebakan tentang apakah rumah masa depan, dan kawannya tidak dapat menjawab tebakan tersebut dengan kata “kuburan” bin makam, alias njaratan.

Z5Kok tiba-tiba mengobrolkan makam dan kuburan. Ada gerangan apakah? Apakah terkait dengan malam Jum’at Kliwon, atau jangan-jangan karena sudah berdekatan dengan datangnya bulan Suro yang angker itu?Akh….tentu saja tidak sejauh itu sedulurku semua!

Satu pagi berkabut di Kota Vienna, daripada merasa bengong di bilik penginapan, meski hawa dingin menusuk tulang, lebih baik waktu saya habiskan untuk mencoba beberapa jalur trem yang belum sempat saya nikmati. Saya hanya terpikir, meskipun udara luar sangat dingin tetapi berada di dalam sebuah trem yang melaju tentu tidak akan terlalu merasakan hawa dingin. Lagian dari beningnya kaca jendela trem, saya dapat melihat pemandangan luar yang sedikit temaram dan siapa tahu dapat menemukan sebuah tempat singgah yang menawan.

Lima menit keluar dari lorong Gang Kolblgasse, saya sedikit menyerong ke arah perempatan Rennweg dan sejurus kemudian sudah merapat ke halte trem. Dengan tiket mingguan yang sudah saya kantongi beberapa hari sebelumnya, saya bebas melakukan perjalanan dengan moda apapun, seperti kereta, trem, ataupun bus. Akhirnya saya memilih untuk menjajagi dan mengukur jalan Trem 71 yang memiliki jurusan Borsegasse – Zentralfriedhof. Ujung Borsegasse berada di kawasan Universitas Wien. Hal tersebut saya ketahui karena beberapa sore sebelumnya saya senantiasa nongkrong di Kawasan Malioboro-nya Kota Vienna tersebut. Nah untuk arah Zentralfriedhof saya belum sempat menapakinya. Sudah pasti, dengan semangat penuh saya memilih ke arah yang terakhir.

Sepanjang kiri-kanan perjalanan nampak kawasan tenggara Kota Vienna yang didominasi kawasan bisnis, pertokoan, mall, dan beberapa stasiun besar yang mengarah ke Vienna International Airport di Flughafen. Mendekati ujung perjalanan, hal ini saya tahu dari semakin banyaknya penumpang yang telah turun dan menyisakan beberapa bangku saja yang terisi penumpang, di sisi kanan trem mulai nampak sebuah tembok panjang berdiri dengan tegarnya di pinggiran jalan. Sejurus kemudian nampak sebuah gerbang pintu di salah satu sudut tembok dan menyerong ke arah kiri. Pintu tersebut bertuliskan tanda Zentralfriedhof – Tor 1. Saya hanya memandang.

Z8Tak berapa lama dari itu nampak deretan kios penjual bunga-bungaan. Sebentar! Bunga hias? Ndilalah terlihat aneh untuk menyebut rangkaian bunga warna-warni tersebut hanya sebagai hiasan penghias dan pewangi ruangan. Dari model tatanannya, justru kok rangkaian bunga tersebut mengingatkan! Hmmmm….ya mengingatkan rangkaian bunga di gerbang Taman Pahlawan Kalibata. Jika demikian yang dimaksud Zentralfriedhof adalah…..hmmm. Ya adalah kuburan?

Ternyata sejenak melintas dengan trem dari gerbang nomor 2 dan 3, akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa Zentralfriedhof adalah kuburan bin rumah masa depan tadi. Sebenarnya kalau dari segi bahasa Jerman, kata grab digunakan untuk merujuk makam. Tetapi mungkin saja Zentralfriedhof berasal dari adopsi bahasa Inggris, centralfield. Akhh, tidak terlalu ingin menggubris asal-usul kata zentralfriedhof, tetapi berarti saya kesasar ke kuburan nich! Wuaduhh!

Namanya sekedar mbanyu mili menikmati saat-saat diperjalankan oleh Tuhan, maka pasti ada hikmah besar yang bisa dipetik dari perjalanan tersebut. Akhirnya saya memutuskan diri untuk turun dari trem dan memasuki gerbang makam Zentralfriedhof. Ternyata, selain saya ada juga beberapa pengunjung yang juga sedang wira-wiri di area makam. Dari tampang dan raut-muka mereka, saya patut bergembira karena sebagian diantara mereka adalah muka-muka turis Asia yang sedang tetirah atau ziarah di makam. Berarti tempat ini selain difungsikan sebagai makam alias peristarahatan terakhir juga biasa dikunjungi sebagai obyek wisata. Yo, wis kloplah!

Z6  Z7

Akhirnya saya semakin mantap menelusuri bagian dalam area makam. Makam tersebut kira-kira dibangun pada masa tahun 1600-an sebagaimana terpahat di atas tugu pintu masuk. Setelah memasuki gerbang utama, bagian dalam area makam diawali dengan deretan gedung lengkung tua yang membentuk lengan kiri-kanan simetris sama persis. Di teras gedung lengkung tersebut terpahat beberapa deretan batu nisan dari marmer hitam maupun putih dengan ukiran nama-nama anggota keluarga yang telah meinggal dan dimakamkan di tempat tersebut.

Menelusuri jalur jalan utama yang lurus dengan gerbang utama, peziarah akan dibawa ke era klasik bentuk makam khas orang Katholik Eropa yang dibangun sangat megah, dengan patung-patung gagah yang berdiri seimbang dengan hijaunya warna rerumputan serta dedauan dari pepohonan yang ditata sangat apik dan asri. Satu lapis baris dari sisi jalan utama, maka bertebaranlah deretan makam-makam dengan ukuran nisan lebih kecil dan lebih sederhana dalam puluhan blok-blok yang berderet rapi.

Z9  Z10

Menapaki bangian sentral dari area makam, peziarah akan menjumpai sebuah tatanan tanaman dalam balutan sebuah pertamanan mungil membentuk lingkaran indah bagaikan boulevard di Buenos Aires. Di balik boulevard yang melingkar ini, tersembunyi sebuah gereja bergaya baroque dengan kubah atapnya yang berwarna hijau tinggi menjulang menggapai langit. Di tempat inilah biasanya dilakukan persembahyangan terakhir untuk seorang mayat menjelang pemakamannya. Gereja dengan gaya klasik ini menimbulkan nuansa magis tersendiri karena di sisi kanan dan kirinya juga disertai bangunan sayap yang mengesankan kegagahan sebuah istana raja.

Yang tua dan angker sebagaimana sebuah makam, tetapi dengan penataannya yang asri justru menjadi magnet dan daya tarik orang untuk berkunjung, bahkan para turis dari mancanegara. Meskipun tanpa dikenakan tiket masuk, namun Zentralfriedhof justru telah menjadi salah satu ikon landmark Kota Vienna. Ia menjadi salah satu situs penggerak wisata sejarah di Vienna. Nampaknya kita tidak perlu malu-malu untuk menggali teladan dan belajar dari kepiawaian pendayagunaan makam tua untuk  menunjang pariwisata, sebagaimana telah dilakukan oleh Zentralfriodhof di Vienna. Bukankah kita juga banyak memiliki sejuta pesona makam nenek moyang yang keramat dan sangat menarik dari sisi historisnya?

Ngisor Blimbing, 30 Oktober 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s