Dimanjakan Moda Transportasi Terpadu di Kota Vienna


Vienna merupakan salah satu destinasi wisata utama di daratan Eropa. Dengan puluhan istana peninggalan sisa-sisa kebesaran Kekaisaran Austria-Hongaria, Vienna menawarkan pesona wisata kota tua dalam balutan sejarah panjang yang luar biasa. Sebut saja beberapa situs diantaranya Kunsthistorisches Museum (Maria Theresienplatz), Schonbrunn Palace (Schloss Schonbrunn), Belveder Palace (Schloss Belvedere), Tergarten Schonbrunner, Museum Quarter, juga St. Stephen’s Cathedral.

Trem1Vienna sebagai ibukota musik dunia, khususnya musik klasik, juga menarik bagi wisatawan untuk menikmati aransemen musikal lokal dan internasional yang dapat dinikmati mulai di pinggiran jalan hingga di dalam gedung-gedung pertunjukan yang megah. Arransemen musik karya agung Mozart, Strauss, ataupun Haydn’s seolah menjadi mantra indah sepanjang sejarah musik dunia yang menjadi magnet para penikmat musik dunia. Belum lagi pemandangan tata kota dan landskap kota modern yang memadukan harmonisasi tradisi dan modernitas. Vienna merupakan pesona wisata kelas dunia yang terpadu sebagai kota pendidikan, sejarah, seni budaya, arsitektur, fashion, hingga kuliner. Vienna ibarat setetes surga wisata bagi manusia yang mendambakan energi, budaya, dan pesona keindahan kehidupan.

Sebuah kota dengan sejuta pesonanya mutlak memerlukan sistem transportasi yang mudah, nyaman, aman dan sudah tentu handal. Hal tersebut tentu saja sangat dipahami oleh Pemerintah Vienna. Transportasi umum di Kota Vienna merupakan sistem transportasi terpadu yang dikelola dengan nama Wiener Linien dan menjadi  salah satu yang terbaik di dunia. Dengan sistem terpadu, penumpang dapat menikmati dan berganti-ganti dengan berbagai macam jenis sarana transportasi tanpa harus membeli tiket baru. Warga dan para wisatawan tinggal memilih ingin menaiki moda yang mana, tersedia bus, tram, dan kereta bawah tanah dengan jenis layanan sesuai dengan tiket-tiket tertentu yang dibutuhkan.

Kereta1Dari bandara menuju pusat kota tersedia layanan City Airport Train (CAT) jurusan Vienna International Airport, kereta cepat (Scnellbahn, S-Bahn) menuju berbagai stasiun utama, bus bandara ke berbagai tujuan, dan juga taksi. Untuk transportasi dalam kota terdapat berbagai pilihan bus, tram, juga kereta bawah tanah ke berbagai sudut kota. Untuk kereta bawah tanah yang terkenal dan menjadi tulang punggung utama adalah U-Bahn.

Sistem transportasi umum terpadu sangat menguntungkan bagi penggunanya. Terdapat berbagai pilihan tiket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Ada tiket untuk penggunaan satu tahun (Jhnresnetzkarte), sebulan (Monatskarte), seminggu (Wochenkarte), 72 jam, 24 jam, 1 hari, dan yang paling mahal justru tiket sekali jalan (Einzelfahrschein). Tiket angkutan dapat dibeli dengan sangat mudah di berbagai tempat umum, mulai loket penjualan resmi dari perusahaan angkutan, mesin penjual tiket otomatis yang mirip ATM di stasiun ataupn halte, toko-toko kelontong, TABAK, ataupun langsung di dalam bus atau trem.

Pada saat datang pertama kali di Vienna International Airtport pilihan saya adalah menggunakan kereta cepat (S-Bahn). Dari bandara menuju berbagai stasiun di dalam kota Vienna dikenakan tarif € 4,2. Kereta ini menjadi pilihan saya karena lebih murah jika dibandingkan dengan CAT yang bertarif lebih mahal. Di samping harganya yang lebih mahal CAT hanya melayani bandara ke beberapa tempat di pusat kota, sedangkan di stasiun Rennweg tempat tujuan saya, kereta tersebut tidak berhenti. Akhirnya kereta S-2 yang berangkat pada pukul 08.08 pagi mengantarkan saya untuk pertama kalinya memasuki ibukota Austria, Vienna.

Untuk keseharian aktivitas, dari tempat menginap di kawasan Kolblgasse menuju ke Vienna International Centre terdapat beberapa pilihan. Pilihan pertama naik kereta S-2 atau S-7 dari stasiun Rennweg menuju stasiun Praterstern untuk kemudian berpindah kereta U-1 menuju stasiun Kaisermuhlen – VIC. Adapun pilihan kedua menggunakan trem dari halte Kolblgasse menuju stasiun Praterstern dan dilanjutkan kereta U-1 menuju tujuan yang sama. Sehari-hari saya lebih memilih pilihan kedua dengan pertimbangan pada saat naik trem dapat sekaligus melihat pemandangan kana-kiri jalan sehingga dapat lebih mengenal sudut-sudut kota dibandingkan jika saya naik kereta bawah tanah. Untuk pertimbangan-pertimbangan tersebut saya memilih membeli tiket mingguan terintegrasi berbagai moda dengan harga € 15,8.

Kereta2Bus1

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar, yang dalam kesehariannya menikmati sistem transportasi umum yang seadanya, kacau balau, ruwet dan macet, transportasi umum di Vienna bisa jadi merupakan surga yang diidamkan. Hanya dengan satu tiket, kita dapat mengakses ke segala penjuru sudut kota, berpindah dari satu moda ke moda yang lain, dari satu jurusan ke jurusan yang lain dengan mudah dan murah meriah.

Bayangkan transportasi di Ibukota Jakarta, sesak berdesak-desakan, panas, kotor oleh polusi udara, mahal dan macet lagi. Di samping itu ancaman kerawanan keamanan oleh para pencopet, jambret, dan tangan jahil yang lain. Ditambah juga dengan ulah para pengamen dan pengemis yang semakin membuat penumpang tidak nyaman. Walhasil, menjalani bepergian keseharian di Jakarta dengan kendaraan umum hanyalah sebuah keterpaksaan yang sekedar harus diterima dengan diam. Maka jangan heran jika kemudian warga masyarakat yang merasa “lebih punya uang” memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi yang justru semakin memacetkan jalanan.

Trem2Hal yang paling unik mengenai transportasi umum di kota Vienna adalah tidak adanya kondektur, kenek, ataupun petugas yang mengecek tiket penumpang. Bahkan sekedar mesin pengecek tiket di pintu masuk stasiun ataupun halte juga tidak ada. Hal utama yang ditanamkan oleh pemerintah dan kemudian diamini oleh seluruh warga adalah kejujuran. Dengan prinsip kejujuran, setiap warga sudah sangat tahu dan paham akan kewajibannya selaku warga kota yang baik. Jika kejujuran tidak tertanam di setiap pikiran dan hati masing-masing warga, pasti sudah lama perusahaan angkutan umum di Vienna gulung tikar. Namun yang terjadi ternyata perusahaan tidak pernah rugi apalagi hingga bangkrut. Memang sesekali, petugas masih melakukan razia tiket, tetapi bisa dibilang sangat jarang.

Bangsa kita, sebagai bangsa timur yang katanya mengagung-agungkan keluhuran moral nampaknya harus malu dan mau belajar banyak dari bangsa lain yang menerapkan prinsip kejujuran dalam aktivitas kesehariannya.

Vienna, 24 Oktober 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Dimanjakan Moda Transportasi Terpadu di Kota Vienna

  1. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Luar biasa banget ya mas di Eropah. Aku di Jakarta pergi-pergi ya masih naik angkot sampai ketemu halte Trans Jakarta. Tapi pernah naik angkot “nembung” turun Trans Jakarta terdekat malah diturunkan di Trans TV. Untung deket Trans TV ada halte Trans Jakarta. Hehehe… Ternyata di Jakarta orang nyebutnya Bus Way. padahal Bus Way itu jalannya bukan kendaraannya.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Saya jadi kepikiran, bukannya sudah banyak pejabat, wakil rakyat, juga para ilmuwan melakukan studi banding masalah transportasi ke berbagai negara maju, tetapi kok urusan transportasi publik kita nggak pernah beres ya?
      Kalo soal nama ataupun pengistilahan, ya itu kembali kepada masyarakat umum yang menggunakannya to

      Suka

  2. dobelden berkata:

    sebenarnya gak Perlu jauh-jauh ke Eropa orang2 DPR dan pemerintah untuk studi transportasi, seperti saya sekarang di Thailand, sudah ada BTS RailWays, MRT dan AirportLink untuk mass Transportnya dan sangat terawat dengan baik.
    Untuk Indonesia saya lihat memang tidak ada kemauan kuat untuk meniru kemajuan negara lain.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Betul kang, komitmen utk benar-benar berpikir dan bertindak demi kepentingan masyarakat umum itu memang tidak ada, semua berpikir kepentingan pribadi, golongan dan partainya tok, nggih to?

      Suka

      • dobelden berkata:

        Iya jhe, itu masalah kronis di negara kita, dan banyak alasan untul tidak berbuat baik bagi rakyatnya.

        Dan memang saya perhatikan, singapura, malaysia dan thailand terlihat jauh lebih maju dari indonesia karena komitmen pemerintah terhadap rakyat menghasilkan respect tinggi dari rakyatnya, sehingga sarana yg diberikan bisa terjaga dan termanfaatkan dengan maksimal, sayang kita tidak melihat itu di indonesia utk level kepala negara dan pemerintahan.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s