Berguru Hingga Negeri Vienna


Diri ini sejatinya hanyalah seorang anak manusia yang sekedar mbanyu mili, mengalir dalam menjalani roda kehidupan. Ibarat mengikuti kemana arah angin memberi petunjuk arah, demikian halnya dengan garis takdir yang memperjalankan langkah kaki manusia. Dari mana, berada di mana, dan akan kemana Tuhan memperjalankan diri seorang hamba, sangkan paraning dumadi, kehidupan sesungguhnya senantiasa menjadi misteri yang tiada mengenal akhir untuk digali. Demikian rahasia hidup dipergelarkan, dan ilmulah pintu gerbang yang sedikit dapat menjadi penyingkap misteri tersebut.

Adalah ajaran agama yang juga telah dipetuahkan oleh para tetua yang menekankan mengenai pentingnya menuntut ilmu. Tholabul ‘ilmu faridzatun ‘ala kuli minnal muslimin wal muslimat, menuntut ilmu diwajibkan atas setiap lelaki dan wanita muslim. Atau tholabul ‘ilmi faridzatun ilal lahdi minnal mahdi, mencari ilmu menjadi kewajiban dari lahir hingga mati, dari buaian bunda sampai liang lahat.  Bahkan walaupun harus mengembara hingga negeri China, penguasaan ilmu dan pengetahuan harus dikejar untuk dikuasai demi kemaslahatan kehidupan.

Bagi diri yang jelas-jelas wong ndeso ini, kesempatan menuntut ilmu atau berguru ya paling-paling ikutan ngaji di langgar dan madrasah sore di kampung sebelah. Sekolah juga sekedar SD, SMP, SMA, dan sebentar kungkum nyantrik di pojokan Padhepokan mBulak Sumur. Pernah juga bertapa di sebelah Kali Cikapundung Bandung. Dikarenakan alam semesta dan segala macam isinya adalah hamparan ilmu pengetahuan milik-Nya, sudah pasti dari sekian jejak perjalanan merguru yang pernah dilakoni hanya mampu mengayak atau menyerap sedikit dari yang sekian banyak itu. Dengan segala kesadaran tersebut menjadikan kita tiada akan pernah merasa lelah untuk terus dan terus belajar, apapun dalam kehidupan ini. Maka belajar tidak juga mengenal waktu, umur, tempat, dan lain sebagainya, karena kehidupan adalah proses pembelajaran hidup.

VIC2Perjalanan hidup memang misteri. Jikalau Kanjeng Nabi mengibaratkan keutamaan menuntut ilmu ke negeri China, maka hingga saat kini Gusti Allah belum memberikan kesempatan kepada hamba-Nya ini untuk menginjakkan kaki hingga ke negerinya Laksamana Cheng Ho tersebut. Kepripun ke negeri China apalagi negeri antah berantah yang lainnya, lha wong merambah dunia di luar negeri tercinta juga tidak pernah.

Namun kok tiba-tiba menjelang penghabisan tahun ini justru Tuhan memperjalankan hamba-Nya ini menginjakkan kaki di negeri Vienna. Lha memang ada negeri Vienna?

Akh, sampeyan jangan berpura-pura tidak tahu. Saya yakin diantara sekian banyak pembaca lebih mengetahui apa dan dimana Vienna itu. Ya, tentu saja Vienna yang saya maksudkan adalah nama kota di sisi timur daratan Eropa itu. Vienna atau dikenal juga sebagai Wina adalah ibukota negera Austria. Austria lho ya, bukan Australia!

VIC1

Vienna konon merupakan sebuah kota yang telah memiliki sekian abad kisah perjalanan sejarahnya. Semenjak jaman sebelum era Masehi, jaman pertengahan, hingga era modern kini. Vienna pernah menjadi pusat pemerintah beberapa dinasti penguasa yang penting di Eropa Timur. Vienna juga merupakan ibukota para musikus klasik yang terkenal membahana dari masa ke masa. Viennapun menorehkan jejak sejarah berupa bangunan-bangunan istana, museum, hingga monumen-monumen bersejarah. Kota inipun berkembang menjaid kota industri dan pusat bisnis yang penting. Bahkan banyak diantara organisasi-organisasi internasional yang bermarkas di Vienna. Panjangnya jejak perjalanan sejarah menjadikan kota yang berpenduduk sekitar 1,8 juta jiwa ini memiliki banyak situs cagar budaya yang mencatatkan Vienna sebagai salah satu warisan budaya sangat berharga yang diakui oleh UNESCO.

Dengan tanya kanan kiri kepada Mbah Google mengenai Vienna, kita akan disajikan beragam informasi mengenai seluk-beluk kota Vienna, mulai dari kisah sejarah, tempat-tempat istimewa, berabagi tempat tujuan wisata yang paling menarik, jalur transportasi dan lain sebagainya. Vienna konon menjadi deretan rangking teratas kota-kota yang dianggap memiliki tingkat kenyamanan hidup yang tinggi. Ketertiban, keteraturan, kebersihan, kedisiplinan konon merupakan ritme keseharian masyarakat Vienna. Apakah demikian adanya? Bukankah hal-hal tersebut bisa menjadi sebuah bahan perenungan dan pembelajaran yang dapat kita jadikan perbandingan sekaligus cerminan kehidupan di tengah masyarakat kita, di Indonesia ini. Semoga saja saya bisa menjumpai hal demikian.

VIC3Dalam bukunya yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum Rais juga banyak mengisahkan beberapa hal mengenai sudut-sudut kehidupan di Vienna pada bagian-bagian awal. Indahnya pemandangan kota Vienna dari puncak bukit Kahlenberg, gambaran birunya aliran sungai Donau yang termusikalisasikan dalam aransemen klasikalnya waltz The Blue Danube, dan juga nuansa kehidupa minoritas kaum muslim di tengah hiruk-pikuknya denyut nadi kota yang sibuk. Akh,benarkah semua itu?

Saya sudah pasti sangat awam dan banyak tidak pahamnya mengenai kota Vienna. Namun titik takdir yang mengantarkan saya berkesempatan menyambanginya ingin saya maknai sebagai sebuah proses perjalanan ngangsu kawruh, menambah ilmu pengetahuan dan sedikit menimba pengalaman hidup. Sebagai tempat baru yang saya kunjungi dengan latar belakang sejarahnya, adat dan budayanya, modernitasnya, juga misteri-misterinya, tentu sangat banyak hikmah yang bisa dipetik. Terlebih kehadiran sang papa ilmu ini di sana juga dalam rangka berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi multilateral di kawasan Benua Biru tersebut. Jikalaupun pesan menuntut ilmu hingga ke negeri China belum mendapatkan momentumnya, maka pelatihan tersebut ingin saya maknakan sebagai berguru hingga negeri Vienna. Boleh dong?

                                                                                                                                              NgisorBlimbing, 19 Oktober 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Raya dan tag , , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Berguru Hingga Negeri Vienna

  1. infosuporter berkata:

    Mbok nek enek sing dodol jersey murah neng viena kono aku nitip mas :))

    Suka

  2. Utroq Trieha berkata:

    Top tenan wis leh ngangsu kaweruh sedulur lanang siji iki….
    Sluman slumun slamet ya kangg….

    Suka

  3. Evi berkata:

    Selamat nyantrik, Mas Nanang. Insya Allah sukses. foto2 gedung Vienna keren, Mas

    Suka

  4. eMo berkata:

    wahhh.. ha kok wes tekan kono2….alhamdulillah pengalaman berharga. suk ah.. nyusul… mbuh kui sekolae opo keluar negrine hehe..

    Suka

  5. dobelden berkata:

    kok komenku ilang ya?

    Suka

  6. Sugeng berkata:

    Enaknya iso ngelencer nang pundi2 mas, dadi pingin melu aku 😆
    Tapi sakniki nopo pun bali ta ?!?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s