Martabat Sandal dan Peci


Sandal1Apa yang sampeyan rasakan jika kehilangan sesuatu yang sangat fungsional karena kegunaannya yang sangat vital? Bukan soal rupa, dan bukan soal bandha. Bukan perkara harga yang mahal dari sesuatu benda tersebut, namun akibat kehilangan tersebut kita langsung merasakan dampak yang bisa jadi sangat fatal. Tidak perlu mencontohkan sebuah benda yang mahal harganya.  Cukup sebuah sandal jepit! Dalam momentum ruang dan waktu tertentu, hilangnya sebuah, bahkan tidak sepasang sekaligus, sudah menjadikan kita celaka tiga belas alias cotho!

Hal demikian pernah saya alami, bahkan tidak hanya sekali saja. Sebagaimana pada petang hari tersebut.  Selepas nderek jamaah sholat Maghrib di Masjid Al Mubarok petang itupun, si Ponang segera menggandeng tangan untuk bergegas keluar dari barisan shof. Semenjak berangkat dari rumah, sang Biyungnya memang telah berwasiat untuk sekaligus mampir di toko Alfamama. Ada beberapa deretan barang penting yang musti dibeli. Dengan pengharapan hadiah jajanan sekedar es krim, si Ponang tentu bersemangat empat lima sehingga sangat mungkin sepanjang waktu sholat tadi yang dipikir dan di-dzikir-kannya adalah es krim.

Keluar dari ruang utama masjid, kami segera menggeloyor menuju sisi pintu masuk dimana sandal-sandal kami terparkir dengan rapi. Namun sayang seribu sayang. Untung tak dapat diraih, malangpun tak dapat ditolak. Bagaikan ilmu sulap menelan bumi, sepasang sandal jepit hitam yang selama ini telah dengan setia menemani telapak kaki sepanjang jalan juga raib dari tempatnya semula.

Dengan tengak-tengok di sisi kanan-kiri tempat kejadian dengan pengharapan sandal-sandal tersebut hanya sedikit bergeser atau berpindah posisi akibat samparan tidak sengaja dari orang yang terlebih dulu lewat, kami coba dengan sabar mencari. Namun ternyata hasilnya nihil. Namun demikian kami harus tetap jernih berpikir, tetap eling lawan waspada, menghela nafas panjang seraya menata hati dan mencari.  Bahkan si Ponangpun masih tetap berkhusnudzon, “Mungkin sedang ada yang minjam sandal untuk wudlu Pak.”

Hmmm….masuk akal juga. Bisa jadi memang demikian. Akhirnya kamipun berusaha sabar sambil duduk menanti, siapa tahu akan datang seseorang yang kebetulan meminjam sandal tersebut dan mengembalikannya setelah hajatnya selesai. Satu per satu jamaah yang tersisa sudah keluar mendahului kami. Hingga sandal-sandal di sisi utara masjid habis bersamaan dengan langkah kaki para pemakainya yang menuju pulang. Namun hingga selama itupun, si peminjam sandal juga tak kunjung datang.

Atau mungkinkah orang yang meminjam lupa untuk mengembalikan sandal ke tempat semula dan sembarang mengembalikan di sekitar pintu-pintu masuk masjid. Dengan asumsi pemikiran demikian, kami berdua mencoba menelusuri setiap sisi pintu masuk masjid. Satu per satu deretan sandal yang tersisa saya lihat. Sisi timur, selatan, depan dan belakang tidak memperlihatkan tanda-tanda kehadiran sandal jepit hitam itu.

Akhirnya kami pasrah. Sandal itu memang sudah dikersake! Bukan hilang! Ya, menurut teori hukum kekekalan massa ataupun energi yang dulu pernah diajarkan di bangku sekolah, massa dan energi tidak dapat diciptakan sekaligus tidak dapat dimusnahkan. Demikian halnya saya berkeyakinan bahwa setiap benda tidak dapat dimusnahkan atau dihilangkan. Yang sangat mungkin terjadi adalah bahwa sandal saya berpindah ke kaki orang lain. Semoga saja memang sandal itu lebih diperlukan oleh orang lain. Sehingga sayapun harus ikhlas, narima ing pandum bahwa sandal jepit hitam tersebut sudah tidak lagi berjodoh dengan kedua  telapak kaki ini.

Meskipun jiwa dan pikiran pasrah sudah mengikhlaskan, tetapi tokh masalah baru harus saya hadapi. Bagaimana mungkin saya pulang dengan nyeker alias telanjang kaki. Bukannya nggaya atau eman-eman dengan kaki, tetapi apa iya jalan nyeker menempuh jarak lebih dari 0,5 km dengan melewati banyak keramaian warga. Mending kalau saya berkendara, entah sepeda atau gerobak. Tetapi saya benar-benar jalan kaki je. Pekewuh dan tidak percaya diri sudah pasti!

Saya hitung beberapa lembar uang dua puluh ribuan dan lima ribuan di kantong. Sudah dipesan beli ini, beli itu dan lain-lain. Waduh, harus ada revisi rencana anggaran belanja dengan cepat kilat. Akhirnya saya putuskan untuk membeli sandal termurah di kios Alfamama dengan mengurangi beberapa barang yang nanti menjadi tanggung jawab si Ponang untuk memberikan penjelasan selengkapnya jika sang Biyungnya protes.

Dengan meminjam sandal si Ponang yang sudah sangat pasti sangat kekecilan di kaki, saya seberangi jalan di depan masjid sambil menggendong anak saya yang telanjang kaki. Satu dua orang saya rasa melirik kaki saya karena saya terpaksa berjalan agak jinjit. Tapi, ah peduli amat dengan pikiran orang.

Sampai di kios, beberapa barang yang sudah direncakan tetap dibeli. Tetapi ternyata sandal jepit termurah di kios itu masih lebih mahal dari sandal biasa di warung-warung biasa. Dengan demikian hampir separuh uang di kantong terserap untuk pembelian sepasang sandal jepit. Akan tetapi jatah es krim untuk si Ponang tidak boleh diganggu gugat. Akhirnya pada waktu membayar di kasir, jantung ini dag-dig-dug berdegup kencang. Apakah uangnya cukup? Akh…dari receh-receh yang ada di kantong ternyata masih menyisakan sekedar dua ribu perak. Sandalpun langsung saya kenakan dan kamipun melangkah pulang. Ah, mimpi apa kok sandal sampai hilang di masjid.

Sandal2Peristiwa kecil hilangnya sepasang sandal jepit tersebut kemudian mengingatkan saya pada nasehat dari Cak Nun suatu ketika. Kami di lingkaran maiyyah pernah ditanya langsung oleh beliau, “Lebih mulia manakah antara sandal dan peci ketika akan pergi ke masjid?” Lingkaran tersebut secara spontan menjawab yang lebih mulia adalah peci karena peci terletak di kepala orang yang memakainya. Kepala lebih mulia daripada kaki. Yang di atas lebih baik daripada yang di bawah.

Sang Kiai mBeling kemudian bertanya kembali, “Kalau Anda memakai peci, tanpa memakai sandal jepit. Kemudian dalam perjalanan Anda menuju masjid menginjak telek ayam karena di sepanjang jalan memang tercecer deretan telek ayam. Apa yang Anda lakukan?”

“Wudlu lagi!” demikian jawaban spontan orang-orang yang mendengarnya.

“Ok, Anda wudlu. Anda suci kembali. Anda pakai peci lagi, tetapi ketika harus berjalan dari tempat wudlu hingga pintu masjid yang sepanjang jalannya penuh telek tadi adakah peci Anda memberikan sebuah jaminan kesucian? Selama Anda melintasi tempat telek dengan tanpa sandal jepit, meskipun berpeci bagus, Anda selamanya akan tetap batal wudlunya dan tidak dapat melaksanakan sholat. Benar demikian to?”

“Sebaliknya, Anda memakai sandal jepit tanpa mengenakan peci di kepala. Pada saat Anda melewati jalanan dengan deretan telek, Anda tetap selamat dari najis. Sandal Anda memang menjadi kotor dan terkena najis. Namun sandal tersebut berhasil melindungi Anda dari terkena najis secara langsung yang membatalkan kesucian wudlu Anda.  Jadi lebih mulia mana antar peci dan sandal jepit? “ urai Cak Nun yang diakhiri dengan pertanyaan retoris yang sangat tajam.

Mulia dan hinanya sesuatu bukan soal tinggi atau rendah, bukan soal di kepala datau di kaki, bukan pula soal murah atau mahalnya harga, tetapi lebih karena sesuatu itu memiliki kemanfaatan. Sebuah pencapaian titik kemaslahatan. Itulah sebuah kesejatian nilai.

Ngisor Blimbing, 15 Oktober 2013

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Martabat Sandal dan Peci

  1. sandalian berkata:

    Untuk sandal jepit, saya sudah tidak percaya dengan sandal swallow warna ijo karena reputasi menghilangnya cukup cemerlang.

    Bahkan lebih aman pake sandal mahal ke masjid (meskipun pernah kehilangan juga) daripada swallow hijau tersebut 😀

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Bener juga mas, di tempat kerjapun sandal yang sama seringkali dipakai berjamaah dan kemudian tidak menentu keberadaanya. Sejak beberapa waktu lalu saya beralih ke sandal Lily warna coklat yang dulu banyak dipakai simbah-simbah. Ndilalah dengan sandal model kuno itu, tidak banyak orang yang berminat turut memakainya. Mungkin karena nggak mau pakai sandal jadul dan kuno, takut dikatakan ketinggalan jalam kali!

      Suka

  2. Ping balik: Tragedi Sandal Jepit | Sang Nananging Jagad

  3. Mr. fitt berkata:

    masya Allah mass,
    kata2nya itu loh bikin dag dig dug dan kesemsem wkwkwk.

    aku share boleh😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s