Ziarah Kepada Sunan Muria


Diantara sekian sunan yang menjadi bagian dari Wali Songo, dari sisi silsilah ataupun masa hidupnya, Sunan Muria bisa dikatakan menjadi sunan yang termuda. Di masa kecil ia lebih dikenal dengan nama Raden Umar Said. Ia adalah putra dari Raden Said, atau yang lebih terkenal dengan nama Sunan Kalijaga. Mengenang nama Sunan Muria mengingatkan kita semua kepada nama sebuah gunung di sisi timur laut Jawa Tengah diantara perbatasan Kudus dan Jepara. Ya, gunung itu adalah Gunung Muria.

Muria1

Bukan sebuah kebetulan jika nama Sunan Muria senantiasa dikaitkan erat dengan Gunung Muria. Memang wilayah Gunung Muria menjadi tempat dakwah penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Muria. Bahkan di puncak Gunung Muria inilah Sunan Muria dimakamkan pada akhir abad ke 16 yang lalu. Dapat diyakini bahwa julukan Sunan Muria untuk Raden Umar Said dikarenakan beliau berdakwah dan mendirikan pesantren di wilayah Gunung Muria tersebut.

Seorang ulama muslim utama yang dianugerahi walayah, merekalah yang disebut sebagai para wali. Para wali adalah golongan ummat muslim utama yang memiliki tingkat keimanan dan ketaqwaan yang sangat tinggi. Mereka sepenuhnya menjadi manusia yang mampu memerangi dan mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Selain memiliki ketinggian akhlakul karimah, para wali juga banyak yang melakukan dakwah untuk menyebarluaskan wahyu Allah. Dalam melaksanakan dakwah tersebut, para wali tidak segan-segan turun ke tengah masyarakat dan turut membantu berbagai persoalan yang terjadi. Kesholehan individual berpadu dengan kesholehan sosial. Sebuah penggambaran manusia paripurna sebagaimana tujuan diturunkannya agama Islam. Hal inilah yang membuat Islam sedemikian cepat menyebar di bumi Jawa yang kala itu kebanyakan dihuni oleh penganut agama Hindu dan Budha.

Kesholehan, budi pekerti, serta akhakul karimah yang dimiliki para wali seolah tiada akan pernah lekang oleh jaman. Mereka, sebagaimana para nabi, rasul, serta golongan shalafus sholihin ibarat menjadi lampu penyuluh hidup manusia hingga akhir jaman. Tingkah laku dan perbuatan mereka senantiasa dapat dijadikan acuan dan contoh hidup yang utama dalam meraih kebahagiaan sejati, baik di alam dunia ataupun di alam akhirat. Maka kisah dan sejarah hidup merekapun senantiasa secara turun-temurun dituturkan sebagai sebuah hikayat abadi. Bahkan berbagai tempat petisalan hingga makam para waliyullah tersebut masih terus ramai dikunjungi peziarah dari berbagai wilayah. Demikian halnya dengan makam Sunan Muria yang berada di puncak Gunung Muria, wilayah Colo, sekitar 18 km sebelah utara Kota Kudus, Jawa Tengah.

Untuk mencapai Makam Sunan Muria, peziarah biasanya melewati jalur Kudus – Colo yang berupa jalan berkelok dan semakin menanjak. Meskipun jalanan sudah beraspal mulus, namun kondisi jalanan yang cukup sempit, berkelok dengan sisi kanan-kirinya berupa tepian jurang yang terjal dan dalam membuat semua kendaraan peziarah harus berjalan dengan ekstra hati-hati. Jalur yang menanjak semakin tajam mempersyaratkan kondisi kendaraan harus prima. Meskipun kebanyakan para peziarah menggunakan kendaraan pribadi ataupun rombongan, sebenarnya untuk menuju Makam Sunan Muria juga dapat ditempuh menggunakan kendaraan angkutan antar kota atau angkot jurusan Kudus – Colo. Makam Muria memang telah tersohor sebagai salah satu daerah tujuan wisata religi di kawasan Kudus bagian utara.

Mendekati puncak Colo, peziarah akan terlebih dahulu memasuki gerbang dimana pengunjung harus membayar retribusi masuk Kawasan Wisata Religi Gunung Muria. Tak berapa lama kemudian, pengunjung akan tiba di sebuah pelataran yang difungsikan sebagai terminal parkir tepat di sisi depan gapura pada ujung jalur yang naik ke puncak Gunung Muria.

Ada dua pilihan bagi peziarah untuk mencapai Makam Sunan Muria. Pertama dengan jalan kaki menapaki jalur tangga yang khusus diperuntukkan pejalan kaki. Meskipun menanjak tajam, jalur tatah rambat ini lebih memintas dan dekat dengan puncak Muria. Namun demikian para peziarah juga dapat memilih alternatif ke dua untuk mencapai Makam Sunan Muria, yaitu menggunakan jasa ojek. Ojek roda dua di sini banyak didominasi dengan sepeda motor crosser, seperti RX-King, GL Pro, Mega Pro, bahkan trail.

Muria3 Muria4

Menaiki ojek menuju puncak Muria merupakan sebuah pengalaman perjalanan yang sangat mendebarkan. Jalanan menanjak, berkelok dan sempit yang berada di tepian jurang menjadikan perasaan ngeri bagi siapapun pengunjung yang pertama kali menginjakkan kaki di lereng Muria. Kondisi demikian masih ditambah lagi dengan perilaku para pengojek yang memacu kendaraannya bagaikan memacu kuda liar seolah kesetanan dan penuh ketergesaan. Namun demikian, ojek di area ini telah terorganisir dengan baik, bahkan menggunakan kostum seragam khusus, dan tarifnyapun sudah terstandarisasi. Untuk sekali jalan biasanya dikenakan tarif Rp. 8.000,-.

Makam Sunan Muria termasuk makam para wali yang senantiasa diramaikan dengan para peziarah dari berbagai daerah. Tidak hanya pagi ataupun siang, sore, petang, hingga malam haripun para peziarah seolah mbanyu mili tiada habis-habisnya. Keadaan demikian akan semakin bertambah ramai khususnya para hari Kamis Wage yang konon merupakan hari neton atau kelahirannya Kanjeng Sunan Muria.

Muria2Setelah memasuki gerbang utama makam, akan dijumpai bangunan rumah joglo dengan atap tumpang yang menjadi cungkup atau peneduh makam-makam yang ada. Para peziarah selanjutnya akan memasuki lorong menuju titik pasarean utama melalui sebuah gerbang yang di sisi-sisinya tersedia sarana untuk bersuci atau wudlu. Memasuki gerbang, peziarah harus berjalan pelan memasuki beberapa belokan dan undakan yang membentuk sebuah lingkaran tertutup yang berujung di ruang Makam Sunan Muria.

Makam manusia mulia tersebut ditutupi dengan kelambu korden warna putih suci dengan renda-renda putih bersih.Β  Di sekeliling tutupan kelambu putih nampak berjejer dengan rapi batu nisan yang menandakan makam para kerabat ataupun santri-santri Sunan Muria. Di sela-sela nisan inilah para peziarah duduk dengan khusuk untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Para peziarah umumnya membacakan kalimat thoiyyibah berupa Surat Yasin, hingga bacaan tahlil lengkap yang ditutup dengan doa-doa permohonan keberkahan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Selesai berdoa, peziarah keluar melalui sisi lorong lain yang kemudian turun undakan. Di ujung turunan inilah terdapat genthong-genthong dan padasan yang berisi air yang banyak dibawa oleh peziarah sebagai air pembawa berkah. Menurut kepercayaan beberapa peziarah air suci tersebut konon dapat menyembuhkan penyakit ataupun membawa kelimpahan rejeki. Jalur keluar selanjutnya akan menembus ke sisi depan bangunan masjid yang dipergunakan untuk sholat lima waktu maupun ibadah sholat Jumat.

Muria5 Muria6

Jika tidak singgah di masjid, peziarah dapat langsung mengarah ke jalur keluar area makam melalui lorong yang di kiri-kanannya tertata dengan rapi para pedagang souvenir khas Gunung Muria. Ada berbagai macam aneka buah tangan yang dapat ditemukan di kios-kios tersebut, mulai dari perlengkapan ibadah berupa sarung, peci, mukena, sajadah, tasbih, hingga foto, lukisan, bahkan gantungan kunci dengan gambar para sunan Wali Songo. Ada juga kaos, baju, bahkan kain batik bermotif khas Gunung Muria.

Selepas naik turun undakan dan berdesakan dengan banyak peziarah yang lain, bisa jadi pengunjung merasakan rasa haus dan lapar. Tidak perlu risau karena di ujung masuk dan keluar area makam Sunan Muria banyak berjejer warung-warung sederhana yang menjajakan aneka jajanan ataupun menu tradisional. Ada soto, bakso, nasi rames, hingga pop mie yang dilengkapi aneka gorengan hangat seperti mendoan, bakwan, tahu susur, pisang goreng dan lain sebagainya. Menikmati sajian dalam hawa sejuk pada ketinggian 800 m dari permukaan air laut akan semakin menambah nikmatnya sajian murah meriah yang pasti akan mengenyangkan dan nambah barokah.

Sebuah perjalanan ziarah memang memiliki banyak sisi hikmah yang dapat digali sebagai pembelajaran hidup yang sangat berharga. Tanpa perlu terjebak kepada pandangan dan sikap mengkultuskan atau bahkan melakukan lelaku kemusyrikan di area makam, dengan ziarah kita akan mengenal lebih dekat sosok Sunan Muria, mempelajari kisah hidupnya dan mengambil suri tauladan atas segala amalan kebaikannya di masa beliau masih hidup di tengah masyarakat pada jamannya. Dari penggalian kisah sejarah para aulia inilah kita memiliki panutan dan pedoman hidup yang nyata sebagai bekal menjalani hidup di jaman edan ini.

Ngisor Blimbing, 14 Oktober 2013

Foto Kanjeng Sunan Muria diambil dari sini.

Foto gerbang utama diambil dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Ziarah Kepada Sunan Muria

  1. mashanafi berkata:

    Rossi lewat dah dibalap sama Ojekers Gunung Muria πŸ˜€

    Suka

  2. rahmad bakti berkata:

    petualangannya si ponang cen hebat tenan

    Suka

  3. nanti mts ihyaul ulum dukun akan ber ziarah ke sana emang x jau ta ?????? dari kota gresik πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s