Sisa Jembatan Kereta Api di Kali Pabelan


Salah satu jejak sarana transportasi yang sangat penting di wilayah Magelang adalah kereta api. Meski perkereta-apian di Magelang kini tinggal sebagai sebuah kenangan masa silam, tetapi jejak sejarahnya masih banyak kita temui hingga dewasa ini. Termasuk salah satu diantaranya adalah sisa jembatan kereta api yang melintang di atas Kali Pabelan, tepat di sisi timur jembatan jalan raya yang kini melintasi Kali Pabelan.

Kretek Pabelan1Di masa pelaksanaan tanam paksa yang dimulai pada 1830 oleh Gubernur Jenderal Van den Bosh, bersamaan dengan masuknya modal asing dari para pengusaha, komoditas pertanian di Nusantara mencapai masa keemasannya. Hindia Belanda dikenal dan dikenang sebagai produsen utama komoditas pertanian yang memasok ke pasaran dunia. Kopi, gula, tembakau, teh, padi dan aneka palawija menjadikan Hindia Belanda terkenal di seantero dunia. Kisah kesuksesan program tanam paksa benar-benar bisa mengisi kembali kas pemerintah yang terkuras habis, antara lain karena Perang Diponegoro (1825-1830), meskipun tetap dibayar mahal dengan penderitaan kaum petani Bhumi Putera.

Keberadaan lahan pertanian, khususnya perkebunan, sudah pasti menempati wilayah-wilayah yang memiliki kesuburan tanah yang baik, serta didukung dengan kondisi cuaca maupun iklim yang paling cocok. Kebanyakan daerah sentra tersebut terdapat di wilayah pegunungan yang masih terpencil. Hal ini menjadikan pemerintah Hindia Belanda, di samping membangun sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pertanian seperti bendungan dan saluran irigasi, juga harus membangun jaringan transportasi untuk mengangkut hasil-hasil pertanian menuju ke kota-kota besar ataupun pelabuhan utama untuk mengeskpor ke luar negeri. Salah satu pilihan utama sarana transportasi yang mampu secara massal mengangkut produk pertanian adalah kereta api.

Generasi kereta api pertama lahir bersamaan dengan era revolusi industri di belahan Benua Eropa. Atas karya besar James Watt yang menemukan mesin uap, kereta api menjadi kendaraan darat yang memiliki daya angkut besar. Setelah diawali dengan pembangunan jaringan rel kereta api antara Semarang – Gubug, kemudian dibukalah jalur-jalur menuju sentra pertanian yang lain di seluruh pulau Jawa, seperti Semarang – Ambarawa, Ambarawa – Secang, Secang – Parakan, hingga Magelang – Jogja. Jalur rel antara Magelang – Jogja banyak melintasi sungai-sungai lebar yang merupakan aliran dari puncak Merapi, diantaranya Kali Krasak, Putih, Blongkeng, Lamat, dan Pabelan.

Kretek Pabelan4  Kretek Pabelan2

Jikalau Anda semua dari arah Jogja kebetulan melintasi jalanan di ujung utara Kota Muntilan yang di kanan-kirinya dipenuhi dengan berbagai arca batu hasil kerajinan ukir warga setempat, tidak lama kemudian seiring dengan menikungnya jalanan, Anda akan menjumpai sepasang jembatan kembar yang melintang di atas Kali Pabelan. Tepat di sisi hulu dari jembatan inilah dapat dilihat sebuah sisa sejarah perkereta-apian di wilayah Magelang, sebuah jembatan kereta api tua. Jembatan kereta inilah yang tengah kita bicarakan.

Saya sendiri tidak tahu persis kapan dibangunnya jembatan kereta api tersebut, tetapi tentunya bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api yang menghubungkan Jogja – Magelang sekitar awal tahun 1800-an. Dengan bentangan besi yang tidak kurang dari 40-an meter, jembatan tersebut menjadi salah satu saksi sejarah jaya-jayanya perkereta-apian di Magelang.

Sepasang besi yang ditopang dengan balok-balok kayu jati sebagai ganjelannya, kini masih nampak menyisakan ketangguhannya. Dua besi inilah yang dulunya menjadi jalur landasan gerigi roda kereta yang menimbulkan bunyi irama gesekan yang bisa jadi sangat mengasyikkan. Dedhek…..dedhek! Dedhek…..dedhek, demikian barangkali tatkala sebuah kereta api melintas di atasnya diiringkan dengan lengkingan bunyi peluit panjang yang mewartakan lewatnya sang naga besi nan panjang.

Sisa ketangguhan jembatan itu mungkin kini hanyalah tinggal sebagai monumen dan saksi bisu. Keberadaan lintasan rel yang kini dapat kita saksikan tidak memiliki bug atau pagar pengaman di kedua sisi tepiannya. Berbeda dengan umumnya jembatan kereta api di tempat lain, jembatan kereta api Kali Pabelan justru ditopang struktur besi baja yang menyangga di bagian bawah. Beberapa batang besi berdiri tegak lurus pada sepasang struktur sambungan-sambungan besi baja yang membentuk sebuah lengkungan busur sebagai penyangga utama kekuatan jembatan. Struktur ini membentang menghubungkan masing-masing tepian atau bibir sungai.

Duren tentu saja bukan roti. Mbiyen tentu saja berbeda dengan saiki. Semenjak jalur kereta api Jogja – Semarang ditutup pada awal dekade 70-an, tentu saja tidak ada lagi naga besi yang meliuk dan melintas di atas Kali Pabelan. Kamajuan jaringan jalan raya telah mengalahkan daya saing kereta api dalam mengangkut barang maupun orang. Namun demikian, struktur jembatan dengan batangan besi-bajanya yang masih kuat tak lekang oleh usia justru masih dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai jembatan trabasan antara wilayah Pabelan dan Prumpung. Di atas bentangan rel, terpasang membujur dengan rapi balok-balok kayu yang dipadu dengan batangan ataupun sirap anyaman bambu yang berfungsi sebagai dasar lintasan. Tidak hanya pejalan kaki, jembatan ini juga bisa dilintasi dengan sepeda maupun sepeda motor.

 Kretek Pabelan3 Kretek Pabelan5

Perpanjangan pada kedua sisi jembatan yang membentang di atas tepian sungai merupakan sebuah gang kecil yang berupa jalur cor-coran semen yang membelah kampung dan bisa langsung tembus di sudut tikungan jalanan raya tepat di sisi barat laut Monumen Bambu Runcing di Prumpung. Meskipun Kali Pabelan pernah diporak-porandakan oleh banjir lahan dingin pada era setelah erupsi Merapi 2010 dan sempat menggoyangkan jembatan Kali Pabelan jalan raya yang relatif masih baru di sisi bawahnya, namun jembatan rel ini justru tetap kokoh tak bergeming satu langkahpun. Bahkan di kala jembatan jalan raya diperbaiki dan hanya tinggal satu jalur yang bisa dioperasionalkan, justru jembatan rel kereta ini difungsikan sebagai jalur alternatif untuk perlintasan kendaraan roda dua.

Selain sebagai saksi sejarah dan monumen, keberadaan jembatan kereta api Kali Pabelan tetap masih memiliki kegunaan bagi warga sekitar. Mungkinkah suatu saat jalur kereta api ini diaktifkan lagi sebagaimana wacana yang beberapa tahun lalu sempat mengemuka? Akh……semoga para bapak pejabat-pejabat yang di atas kerso untuk merenungkannya kembali secara bersungguh-sungguh seiring dengan semakin padatnya jalanan raya kita.

Ngisor Blimbing, 28 September 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Sisa Jembatan Kereta Api di Kali Pabelan

  1. zani pecinta spoor berkata:

    kemarin sy juga hunting jembatan sepur ini hehe..sedih

    Suka

    • sang nanang berkata:

      aset terbengkalai yang memang patut disayangkan ya mas, semoga ke depan benar-benar bisa diwujudkan pengaktifan kembali jalur rel Jogja-Magelang-Semarang

      Suka

  2. zani pecinta spoor berkata:

    dulu waktu sy kecil sy sering di ajak olaeh bapak sy ke muntilan dan sering melihat setasiun muntilan..sy masih ingat rel yang masih tampak dan kantor setasiun yang masih beroperasi wlo entah buat kantor apa..tapi semua masih utuh dan sy sering melihat ada tampungan air yang sering buat minum sepur klo sekarang SPBU lah..tapi sayang seribu sayang wkt itu camera gk banyak kyk sekarang…klo ay milyarder tak sumbang tuh PJKA buat menghidupkan kembali jalur sepur jgja mgl tmg..amiiiien

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Di akhir 80-an bekas stasiun Muntilan masih ada dan dipergunakan sebagai area parkiran motor untuk pengunjung pasar. Lokasinya kini telah berubah menjadi terminal bus Drs Prayitno.

      Suka

      • zani pecinta spoor berkata:

        oh iya betul buat parkiran waktu itu setasiunya…katanya PJKA sedang mendata aset yang ada untuk di hidupkan kembali jalur sepurnya wlo katanya agak di geser tdk di jalur yang dulu itu benar tidak ya mas

        Suka

  3. zani pecinta spoor berkata:

    klo bisa terealisasi top deh PJKA tdk hanya gur laporan audit yang merugi terus jawatane..di korupsi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s