Menapak Jejak Masjid Agung Demak


Masjid Demak1Grebeg merupakan perhelatan keramaian di alun-alun kerajaan. Ratan atau lapangan alun-alun yang biasanya luas dan lengang, pada masa grebeg menjadi penuh dengan stan para pedagang dan berbagai arena permaian ataupun hiburan. Ada warung-warung tenda yang menjajakan makanan, stan pakaian, toko kelontong, hingga aneka jualan peralatan main anak dari yang paling sederhana hingga yang termodern. Aneka hiburan, mulai dari kethoprakan, hingga ndangdutan juga mengisi gebyar malam. Siang malam, alun-alun menjadi hidup seolah tiada mengenal lelah sepanjang waktu.

Untuk Grebeg Sekatenan, jelas hajatan di Kasultananan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta bisa dibilang merupakan grebeg yang terbesar. Di samping Grebeg Sekaten yang digelar setiap bulan Maulud atau Rabi’ul awal, sehingga dikenal juga sebagai Grebeg Mulud, maka setiap keraton juga memiliki Grebeg Syawal dan Besar denga skala hajatan yang jauh lebih kecil. Namun ada suatu daerah yang justru puncak perhelatan keramaian di alun-alunnya terjadi pada saat Grebeg Besar. Itulah kesan yang saya dapatkan semenjak usia sekolah dasar ketika sering diajak para simbah untuk turut ngalap berkah di Grebeg Besar yang digelar di alun-alun depan Masjid Agung Demak.

Demak merupakan bekas pusat Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Selepas surutnya kekuasaan Majapahit, sirna ilang kertaning bumi, maka Demak menggantikan hegemoni kekuasaan politik di Tanah Jawa. Dengan restu dari para wali, Raden Patah, putera ke-17 Prabu Brawijaya V, naik tahta dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar I.

Beberapa waktu sebelum kepindahan kekuasaan pemerintahan dari Majapahit ke Glagah Wangi, sebagai pratanda pusat perkembangan penyebaran Islam, para wali bersepakat membangun sebuah masjid sebagai pusat dakwah Islam pada tahun 1401 sebagaimana candra sengkala Sarira Sunyi Kiblating Gusti dalam wujud seekor kura-kura. Dalam perkembangannya masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Agung Demak yang hingga kini masih berdiri dengan anggun dan kokoh di sisi barat Alun-alun Kota Demak.

Sekilas pandangan dari tengah-tengah alun-alun akan nampak kegagahan Masjid Agung Demak yang didampingi sebuah menara besi di sisi kiri. Memasuki gerbang depan masjid, maka para jamaah akan melihat halaman masjid yang cukup luas, tertata rapi dengan tanaman bunga-bungaan yang menyegarkan. Bagian muka masjid berupa sebuah pendopo atau serambi terbuka beratap limas. Di kedua sisi kanan dan kiri serambi tergantung bedug dan kenthongan yang selalu ditabuh menjelang waktu adzan sholat lima waktu.

Antara serambi masjid dengan ruang utama sholat dihubungkan dengan satu pintu utama dan dua pintu samping kiri dan kanan. Ruang utama masjid ditopang dengan empat buah saka guru utama. Masing-masing saka guru tersebut konon dibuat oleh Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Adalah saka guru yang dibuat oleh Sunan Kalijaga diyakini sebagai saka yang paling unik karena berbeda dengan saka lain yang terbuat dari kayu glondhongan besar, saka ini justru “hanya” terbuat dari tatal atau serpihan kayu sisa. Inilah salah satu kesaktian dan keistimewaan Sunan Kalijaga.

Bagian atap luar ruang utama Masjid Agung Demak berupa atap tumpang bertingkat tiga yang menyimbolkan Islam, Iman dan Iksan. Tepat di puncak atap tingkat ke tiga terdapat mustaka khas masjid Jawa yang merupakan perpaduan gaya seni Hindhu, Jawa dan Islam.

Di sisi kanan dan belakang masjid terdapat makam-makam para raja Keraton Demak, diantaranya Raden Patah, Pati Unus dan Sultan Trenggono. Di samping itu, di area pemakaman juga terdapat makam para sentono, kerabat, dan beberapa pejabat hingga para anak turunnya. Makam-makam tersebut menjadi salah satu tujuan ziarah yang senantiasa dipenuhi peziarah dari berbagai penjuru tempat. Di samping mengunjungi masjid dan makam, para pengunjung kini juga dapat singgah di Museum Masjid Agung Demak. Di dalam museum tersebut terdapat berbagai petunjuk sejarah dan bahan pustaka mengenai seluk-beluk pembangunan masjid, masa-masa pemugaran dan renovasi masjid, hingga keberadaannya di saat sekarang ini.

Kembali kepada cerita awal mengenai Grebeg Besar di Alun-alun Demak. Sebagaimana namanya Grebeg Besar diselenggarakan pada bulan Besar atau Dzulhijah dalam kalender Hijriyah. Dalam bulan tersebut terdapat hari bersejarah yang sangat penting bagi ummat Islam, yaitu Hari Raya Idul Adha. Hari tersebut merupakan peringatan pengorbanan Nabi Ibrahim As yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengorbankan Nabi Ismail putera tercintanya. Demi ketaatan yang dilandasi keimanan kepada Allah, Nabi Ibrahim lulus dari cobaan berat tersebut dan ternyata tubuh anaknya ditebus atau digantikan dengan hewan kurban.

Masjid Demak2Di samping peringatan sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim, bulan Dzulhijah juga menjadi bulan yang sangat istimewa berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji sebagai pengamalan Rukun Islam yang ke-lima. Rangkaian ibadah haji yang dipuncaki dengan pelaksanaan wukuf di Padang Arafah merupakan saat berkumpulnya seluruh manusia dari berbagai penjuru bumi tanpa memandang asal-usul, kebangsaan, suku, ras dan lain sebagainya. Kaya-miskin, pintar-bodoh, laki-perempuan, semua bersatu dalam balutan kain putih dalam bingkai keislaman. Semua dipersaudarakan sebagai sesama manusia.

Bersamaan dengan rangkaian persiapan dan pelaksanaan wukuf itulah di Demak diselenggarakan rangkaian acara Grebeg Besar. Tidak berbeda dengan hajatan Sekaten di Jogja maupun Solo, beberapa minggu menjelang Hari Idul Kurban di Alun-alun Demak digelar aneka hiburan dan pasar rakyat. Dari pagi, siang, sore, hingga malam hari, alun-alun senantiasa hidup dengan keriuhan ribuan manusia. Bahkan di saat malam hari, suasana gemebyar kerlap-kerlip lampu warna-warni semakin menambah semaraknya suasana.

Ratusan stan berdiri di seputar alun-alun. Beraneka ragam barang dagangan dijajakan oleh para penjual yang ingin mengais rejeki di Grebeg Besar. Ada pedagang pakaian, makanan, buah-buahan, aneka minuman, hingga beragam peralatan ibadah dan rumah tangga. Di samping itu ada juga aneka permainan untuk anak-anak, seperti biang lala, rumah hantu, ombak banyu, bahkan mobil-mobilan dan sepeda-sepedaan yang disewakan dengan harga sangat terjangkau.Masjid Demak3

Ummat Islam yang mengkhususkan diri berziarah ke Demak biasanya mengambil momentum bersamaan dengan diselenggarakannya Grebeg Besar tersebut. Banyak rombongan peziarah yang melakukan rangkaian ziarah, mulai dari pesarean Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga mengakhiri perjalanannya di Masjid Agung Demak.  Maka pada hari-hari Grebeg Besar, ribuan manusia akan membanjiri kawasan masjid dan alun-alun, bahkan banyak diantara mereka yang tidur menginap di serambi Masjid Agung Demak. Grebeg Besar bisa jadi merupakan puncak keramaian di Kota Wali Demak sebagai jejak peninggalan para wali. Monggo sekali-kali turut menikmatinya.

Ngisor Blimbing, 23 September 2013

Gambar Wali Sanga diambil dari sini.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Menapak Jejak Masjid Agung Demak

  1. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Aku gek rono pisan mas sak urip-urip, kuwi yo gek jaman piknik SD.

    Suka

  2. eko magelang berkata:

    lha aku malah durung je kang, hehehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s