Khusus Mampir ke Masjid Kudus


Masjid Kudus1Masjid Kudus2

Rencana itu memang sudah terpendam menjadi hasrat yang sekian lama kian memuncak. Dolan, dolanan, dan dolan-dolan yang menjadi ikon si Ponang suatu saat harus juga menelusuri satu per satu jejak para wali penyebar Islam di bumi Jawa. Setelah sebelumnya sempat berkunjung ke Kanjeng Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati, maka sisa lebaran tahun kemarin sengaja kami dedikasikan untuk dolan-dolan ke sisi timur pantura Jawa Tengah. Demak, Kudus, dan Muria menjadi tujuan perjalanan kami. Di sana kami kembali ingin mengenang jejak dan jasa besar Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria.

Kisah mengenai dakwah para sunan yang dikenal sebagai Wali Sanga memang sedikit-sedikit sudah kami perkenalkan kepada si Ponang. Salah satunya kisah mengenai Sunan Kudus.

Masjid Kudus4Kudus tidak bisa dipisahkan dengan ikon Menara Masjid Kudus. Di lambung sebuah bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang menghubungkan wilayah Jabodetabek dengan daerah Demak, Kudus, Jepara dan Pati, terlukis dengan anggunnya Menara Masjid Kudus. Berawal dari pengenalan gambar itulah si Ponang senantiasa membayangkan ingin ke Kudus, pada suatu saat. Dan saat itupun tiba di minggu ke dua bulan Syawal 1434 H kemarin.

Setelah sebelumnya turun dari pendakian ke Gunung Muria yang terjal, tengah hari menjelang waktu Ashar kami merapat ke Masjid Kudus yang dibangun oleh Syekh Ja’far Soddiq alias Sunan Kudus. Kata-kata kudus yang berarti suci konon berasal dari nama al quds, kota dimana Masjid Al Aqso di Negeri Palestina berada. Di masa awal pembangunan, Sunan Kudus menggunakan sebuah batu yang diambilnya langsung dari Baitul Maqdis di Palestina sebagai batu pertama untuk membangun pondasi bangunan masjid. Hal inilah yang menginspirasinya untuk memberikan nama Masjid Al Aqso yang kemudian berkembang lebih lanjut menjadi nama kota dan daerah Kudus.

Masjid Kudus3Sunan Kudus ayng di masa mudanya bernama Ja’far Soddiq adalah putera dari Sunan Ngudung. Di masa awal berdirinya Kerajaan Demak, Sunan Ngudung bertindak sebagai panglima perang yang bertugas menggempur sisa-sisa kekuatan Majapahit. Dalam pertempuran pertama, Sunan Ngudung gugur. Ia kemudian digantikan oleh puteranya, yaitu Sunan Kudus. Di bawah kepemimpinan Sunan Kudus, pasukan Demak berhasil meraih kemenangan gemilang sehingga kedudukan politik Kraton Demak Bintoro semakin kokoh dan kuat.Di dalam suasana damai di lingkungan Demak, Sunan Kudus selanjutnya memilih untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di daerah yang kini dikenal sebagai Kudus. Sebagaimana tatkala Kanjeng Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah, maka yang dibangun pertama kali adalah bangunan masjid. Masjid, sebagaimana diajarkan dalam Islam, merupakan pusat kegiatan ummat, mulai dari peribadahan, pendidikan hingga pembinaan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Sebelum kedatangan Sunan Kudus, penduduk di wilayah tersebut pada umumnya merupakan penganut agama Hindhu dan Budha. Sebagaimana dakwah para Wali Sanga yang lain, Sunan Kudus juga melakukan pendekatan sosial budaya kepada masyarakat setempat. Jowo digowo, Arab digarap, bahkan barat diruwat, demikian kira-kira pendekatan dakwah damai oleh para wali melalui adopsi, adaptasi dan akulturasi nilai Islam dengan budaya lokal. Filosofi mendasar inilah yang menjadi landasan Sunan Kudus dalam membangun Masjid Al Aqso.

Dilihat dari segi arsitektur bangunannya, Masjid Kudus memang sangat unik dan khas. Di berbagai sudut bangunan nampak dengan sangat kental dan kentara perpaduan unsur bangunan Jawa, Arab, juga nilai Hindhu – Budha. Memasuki jalan utama di depan masjid, baik melalui pintu utama ataupun samping, kita akan disambut dengan pintu gerbang berupa gapura candi bentar ciri khas budaya Hindhu yang terusun dari tatanan batu bata merah.

Makam Kudus1 Makam Kudus2

Melalui pintu samping yang tepat berada di sisi menara masjid, kita dapat langsung masuk ke sisi kiri belakang dan pelataran belakang.  Dengan dipisahkan pintu regol kecil, pengunjung akan mendapatkan tempat wudhu dengan delapan pancuran yang konon menyimbolkan delapan jalan utama ajaran Budha. Air kolam yang terpancar melalui delapan pancuran ini dipercaya sebagai air suci yang tidak pernah kering, meskipun di masa kemarau panjang.

Memasuki pintu regol di sisi kanan tempat wudhu, kita akan dibawa ke area pemakaman yang menghampar tepat di sisi belakang bangunan induk masjid. Menyusuri lorong yang di kanan kirinya tertata dengan rapi barisan batu nisan para kerabat dan anak cucu Sunan Kudus, akhirnya kita akan sampai ke cungkup utama yang merupakan pesarean atau makam Sunan Kudus. Makam ini senantiasa ramai dengan ribuan peziarah yang datang silih berganti setiap harinya. Para peziarah, di samping berasal dari masyarakat sekitar, banyak pula peziarah yang datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan dari luar negeri. Mereka datang khusus untuk berdoa dan turut mengenang jasa dan kebesaran Sunan Kudus dalam mendakwahkan Islam di bumi Jawa.

Masjid Kudus5Kembali ke bangunan induk masjid, tepat di sudut kanan halaman depan masjid, berdiri dengan anggunnya menara masjid. Bangunan menara ini sangat mirip dengan gaya arsitektur candi bercorak Hindhu. Menara terdiri dari tiga bagian bangunan, yaitu dasar, badan dan atap menara. Bagian dasar dan badan semuanya tersusun dari tatanan batu bara merah. Di dalam menara tergantung bedug dan kentongan sebagai penanda datangnya waktu sholat. Adapun bagian atap ditopang oleh empat buah saka guru yang menyangga atap tumpang dua tingkat dengan mustaka di puncaknya. Menara tersebut di masa lalu berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan sholat lima waktu.

Meskipun telah beberapa kali mengalami pemugaran dan perluasan, namun gapura kembar yang dulunya merupakan pintu utama untuk memasuki masjid kini masih berdiri kokoh di bagian tengah serambi atau pendopo masjid. Ciri bangunan Masjid Kudus yang sangat kental dengan perpaduan unsur Islam, Jawa, Hindhu dan Budha menunjukkan jiwa toleransi antar ummat beragama yang sangat tinggi sebagai bentuk warisan Sunan Kudus yang sangat bernilai. Bahkan demi penghormatan terhadap binatang sapi sebagai kendaraan Dewa Siwa, ummat Islam di wilayah Kudus hingga kini tidak memakan daging sapi. Masjid Kudus akan senantiasa menjadi simbol abadi keharmonisan antar ummat beragama yang bersendikan ayat lakum dinukum wa liyadin.

Lor Kedhaton, 20 September 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s