Eksotika Pura Luhur Uluwatu


Uluwatu1Selain dikenal sebagai Pulau Dewata, the Island of God, Bali juga dikenal luas sebagai Pulau Sejuta Pura. Sebagai bentuk ketaatan warga Bali terhadap ajaran Hindhu yang diyakininya, di setiap keluarga memiliki pura kecil di sudut rumah yang berfungsi sebagai tempat sembahyang rutin harian untuk semua anggota keluarga. Selanjutnya di tingkat banjar atau kampung juga memiliki pura agung sebagai tempat sembahyang besar untuk seluruh warga dalam rangka ibadah rutin, terlebih lagi pada upacara peringatan hari suci ataupun hari raya. Salah satu pura agung yang sudah sangat tua umurnya adalah Pura Luhur Uluwatu. Pura ini termasuk salah satu pura sad kayangan yang merupakan sembilan pura suci penyangga 9 mata angin.

Pura Luhur Uluwatu terletak di ujung barat daya Pulau Dewata, sekitar 40 km dari Denpasar. Pura ini dibangun di atas bebatuan karang terjal pada bibir tebing tinggi yang langsung menghadap ke Samudra Indonesia. Pura yang berlokasi di desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tersebut konon dibangun pada Abad ke-11 oleh mPu Kuturan. Pada Abad ke-16 Pendeta Dang Hyang Ninartha memilih moksa atau ngeluhur di pura terpencil tersebut. Dari kata ngeluhur inilah julukan pura luhur disandang oleh pura yang kini juga difungsikan sebagai tempat pelepasan abu jenazah ummat Hindhu.

Uluwatu2Adapun nama Uluwatu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu ulu dan watu. Ulu bermakna hulu atau puncak, sedangkan watu berarti batu. Dan memang Pura Luhur Uluwatu terletak pada sebuah puncak bukit batu karang yang memiliki tebing terjal dengan ketinggian sekitar 95 dari permukaan air laut.

Memasuki area pura, pengunjung diwajibkan mengenakan kain atau selendang untuk tetap menghormati kesucian tempat ibadah ummat Hindhu tersebut. Bagi pengunjung yang mengenakan celana pendek ataupun rok sebatas lutut diwajibkan mengenakan kain berwarna ungu yang difungsikan untuk menutup tubuh bagian bawah. Adapun  para pengunjung yang mengenakan kain atau celana panjang hanya diwajibkan mengenakan selendang tipis berwarna kuning.

Melalui sebuah gapura bercorak candi bentar, pengunjung akan memasuki area bagian luar dari kompleks Pura Luhur Uluwatu. Sepanjang jalanan trotoar yang turun melandai terdapat rerimbunan hutan alamiah yang masih terpelihara dengan lestari. Hutan ini disebut sebagai alas kekeran yang turut menyangga kesucian pura. Di semak dan pepohonan alas kekeran inilah berkeliaran ratusan monyet liar yang konon menjadi penjaga pura.

Uluwatu3 Uluwatu4

Tidak hanya bermain liar di ranting pepohonan dan semak belukar, para kera juga seringkali menghadang dan mendekati para pengunjung yang sedang berjalan melintas. Mereka sangat tertarik dengan barang-barang mencolok yang dipakai pengunjung, seperti kaca mata, kamera, gantungan kunci, jam tangan, bahkan tas atau dompet. Untuk menghindari agar barang-barang yang dikenakan pengunjung tidak menjadi rayahan sang kera, pengelola memberikan pengumuman pada sebuah papan agar para pengunjung ekstra hati-hati dan lebih baik tidak mengenakan barang mencolok.

Lalu bagaimana jika barang pengunjung terlanjur dirampas oleh monyet-monyet liar tersebut? Jangan khawatir, dengan memberikan makanan ringan sejenis pisang atau kacang, para monyet dengan sukarela akan bersedia menerima barter dari pengunjung. Mungkin para monyet itu hanya sekedar ingin mendapatkan perhatian sekaligus membangun kedekatan dengan manusia para tamunya. Atau mungkin juga mereka justru sedang memberikan sambutan dan penghormatan selamat datang dengan caranya yang unik.

Uluwatu5Selepas melalui ruas jalur masuk, ada beberapa pilihan panorama keindahan di Pura Luhur Uluwatu yang bisa dinikmati pengunjung. Pengunjung dapat langsung mengelilingi dan menikmati keindahan sekaligus kehikmatan sebuah tempat suci ibadah yang berdiri kokoh di atas batuan karang yang langsung menantang luasnya Samudra Indonesia. Melalui sisi lingkar luar bangunan pura, pengunjung akan menyaksikan satu persatu teras pura yang semakin masuk ke bagian dalam pura akan semakin tinggi, seolah sedang menjalani proses pendekatan kepada Sang Hyang Widi Wase.

Pengunjung umum tentu saja tidak diperkenan untuk memasuki bagian dalam pura. Hal ini diterapkan untuk menjaga kesucian pura. Bahkan untuk wanita yang sedang datang bulanpun tidak diperkenankan mendekati pagar pura. Namun untuk pengunjung ummat Hindhu yang sengaja datang ingin melakukan ritual sembahyang, pintu pura akan senantiasa terbuka. Tentu saja setelah mendapatkan izin dari pemangku pura setempat.

Uluwatu6 Uluwatu7

Pada masa awal keberadaanya, Pura Luhur Uluwatu dipergunakan secara khusus untuk pemujaan terhadap Dewa Rudra. Namun kini, pemujaan terhadap dewa lain juga dilakukan. Hal ini memberikan pertanda bahwa pura ini terbuka untuk ummat Hindhu dari berbagai aliran secara lebih universal. Hari peribadahan atau sembahyang yang paling besar yang diselenggarakan di Pura luhur Uluwatu adalah Hari Piodalan yang bertepatan dengan hari Selasa Kliwon Wuku Medangsia, yang rutin dilaksanakan dalam siklus 210 setiap tahunnya.

Di samping menikmati keindahan Pura Luhur Uluwatu, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan tari kecak di sisi selatan bangunan pura. Panggung terbuka yang berlatarkan luasnya Samudra Indonesia di senja hari akan menambah eloknya pertunjukan tari kecak yang dikolaborasikan dengan penggalan kisah Ramayana. Tarian massal yang melibatkan lebih dari 50-an penari tersebut mengisahkan penculikan Dewi Sita (Shinta), istri Ramawijaya, oleh raja raksasa Rahwana dari Alengka. Dengan bantuan dari si Kera Putih Hanoman, Sita berhasil dibebaskan. Pertunjukan kecak Ramayana ini diadakan setiap hari pada jam 18.00 WITA. Jam pertunjukan yang bersamaan dengan saat tenggelamnya sang surya akan memberikan latar silhuet Pura Luhur Uluwatu yang sangat eksotis dan setiap pengunjung tentu tidak akan pernah dapat melupakan keagungan ciptaan Sang Maha Pencipta.

Kuta, 13 September 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Eksotika Pura Luhur Uluwatu

  1. Ping balik: Wredapura, Hotel Plat Merah di Pantai Sanur | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s