Barongan Masuk X-Ray


Semenjak mengenal penampakan barongan di kalangan pertunjukan Lutungan lebaran kemarin, Si Ponang seakan sangat gandrung dengan sosok binatang jadi-jadian yang sebenarnya lahir dari pertunjukan Janthilan ini. Sosok barongan tentu saja mirip-mirip dengan barongsai dari Negeri Tiongkok yang sering tampil aksi pada perayaan Cap Go Meh di awal Tahun Baru Imlek. Dari segi asesoris, barongan jauh lebih sederhana dan minimalis dibandingkan barongsai. Akan tetapi keduanya sama-sama dimainkan oleh dua orang yang masing-masing menopang bagian kepada dan ekor.

Barongsai hanyalah pemain tunggal ditengah kalangan. Adapun barongan hanyalah sekedar “binatang pelengkap” dalam seni Janthilan karena yang menjadi unsur utama adalah barisan prajurit berkuda atau jaran kepang. Dari segi tata gerak, jika barongsai lebih mengeksplorasi kelincahan dan kegesitan tata gerak yang indah sehingga justru mengesankan keceriaan dan kelucuan, barongan justru mengesankan kesangaran, keberingasan, bahkan arogansi. Namun yang jelas, sosok barongan adalah hasil kreasi para seniman pribumi sebagai simbol keberingasan nafsu manusia amarah yang meluap-luap.

Dalam seni Janthilan, secara simbolis dan filosofis memang terdapat penggambaran pertempuran yang sangat sengit antara nafsu amarah dengan nafsu mutmainah, antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan kejahatan. Pertempuran memerangi nafsu diri sendiri inilah yang dalam ajaran Islam digambarkan sebagai pertempuran terdahsyat dan paling berat dibandingkan peperangan fisik, seperti Perang Badar, Perang Uhud, bahkan Perang Dunia II sekalipun.

Kembali ke soal barongan tadi, semenjak gandrung dengan sosok barongan yang mungkin dipahaminya secara unik, si Ponang sudah pasti ingin memiliki sekedar topeng kepala barongan. Maka tatkala turun dari Gunung Tidar dan menjumpai sebuah kios di pinggiran pasar yang menjajakan aneka peralatan mainan tradisional, si Kecilpun langsung menunjuk dan minta berhenti. Lihat-lihat secara sepintas, di kios sederhana itu ternyata sengat lengkap dengan peralatan permainan bernuansa jadul. Ada jaran kepang, pecut atau cambuk, ada topeng buto, ndayakan, klinthing, gangsingan, gambang, seruling, dan ternyata ada juga topeng kepala barongan. Sudah pasti si Ponang langsung menunjuk barang yang terakhir ini dan merengek untuk dibelikan. Tanya punya tanya harganya ternyata Rp. 15.000,-, kamipun kemudian membelikannya tanpa tawar-menawar yang panjang.

Topeng kepala barongan sebenarnya tidak mengalami perubahan dari sisi desain maupun pewarnaannya dari masa ke masa. Secara struktur kepala barongan terdiri atas dua bagian, yaitu bagian muka sisi atas dan sisi bawah. Bagian sisi atas merupakan penggambaran raut muka dari gigi atas, hidung, mata, kening, telinga hingga kepala. Sedangkan bagian sisi bawah hanyalah gigi bawah dan dagu atau janggut. Kedua bagian tersebut disatukan dengan sepasang engsel di pangkal belakang kepala yang merupakan penggalan bagian leher. Di sisi kanan dan kiri leher inilah terdapat pegangan yang berfungsi untuk membuka atau menutup mulut sang barongan. Dari gerakan membuka dan menutup mulut ini akan dihasilkan efek suara keras dan lemah yang merupakan kekhasan keangkeran sosok barongan.

Adapun mengenai pewarnaan, kepala barongan didominasi warna merah menyala ayng menggambarkan kemarahan dan keberingasan. Warna pelengkap yang lain hanyalah putih dan hitam, diantaranya pada bagian gigi geligi dan taring, hidung, dan mata.

Dulu semasa masih kecil, topeng barongan terasa barang mainan yang sangat mahal dan sudah pasti orang tua kami tidak pernah membelikannya untuk anak-anaknya. Untuk nylimur keinginan memiliki topeng barongan, kami berkreasi dengan membuat “replika” kepala barongan dari bambu petung. Dua ruas bambu petung di bagian pangkal dibelah sebagai bagian mulut atas dan bawah, lengkap dengan bagian pegangan tangan, sedemikian rupa sehingga mampu menggerakkan membuka dan menutup, termasuk menghasilkan efek suara yang menggelegar.

Setelah mendapatkan alat permainan yang mengasyikkan, si Ponang sudah pasti langsung “ndadi” sepanjang hari dan hampir setiap saat.  Dengan gesitnya ia memainkan kepala barongan tersebut untuk menakuti atau sekedar bercanda dengan teman-temannya. Si Cempluk, bocah bayi perempuan yang belum genap berusia satu tahun justru nampak senang dan riang ketika mendengar suara hentakan dan melihat aksi gesit gerakan si Ponang.

Namanya alat main baru, bagi seorang anak kecil mungkin dianggap harta sangat berharga sehingga tidak mau berpisah barang sebentarpun. Tatkala kami harus melakukan perjalanan ke Jakarta, sudah pasti si Ponang dengan kekeh dan super ngeyel ingin membawa serta kepala barongan kecintaannya. Akhirnya kedua orang tuanyalah yang harus mengalah di hadapan anaknya. Barongan dikemas rapi dalam sebuah tas kecil dan si Kecil sendiri yang akan bertanggung jawab untuk menentengnya.

Karena perjalanan kami lakukan menggunakan pesawat udara, maka sesuai prosedural setiap barang yang kami bawa harus melewati pemeriksaan menggunakan sinar-X atau X-ray. Maka sesaat sebelum check-in maupun memasuki ruang tunggu, barang kami termasuk si kepala barongan harus memasuki terowongan X-ray. Pada saat barongan masuk medan radiasi, iseng punya iseng si Ponang memperhatikan apa yang dilakukan para operator fluoroskopi bagasi tersebut.

Dengan berdiri di belakang sang operator yang mengamati gambar di layar monitor, otak kecil si Ponang langsung tahu apa yang terjadi. Melihat gambar-gambar transparan yang bergerak ia beranalogi bahwa barang tersebut sedang difoto langsung dan hasilnya ditampilkan di layar monitor. Hanya saja tatkala tas kecilnya yang berisi kepala barongan melewati terowongan radiasi, entah sebuah kesengajaan atau tidak, sang operator menggerakkan kepala yang mengesankan sebuah keterkejutan (tentu saja dari sudut pandang si Ponang). Maka dengan serta merta ia menceritakan hal tersebut kapada Bapaknya, “Pak, tadi pas barongan lewat kan Bapake lihat gambarnya di tivi. Tapi kok Bapake malah kaget!”

Sayapun eksplorasi pikiran si Kecil, “Kira-kira kenapa ya?” Dengan lugu dan lucunya si Kecil menerangkan, “ Mungkin Bapake terkejut Pak, karena melihat ada kepala yang mulutnya lebar, gigi dan taring besar-besar. Mungkin dikiranya ada kepala naga sedang lewat ya Pak?” Akh, sayapun akhirnya tertawa mendengar penjelasan si Ponang!

Ngisor Blimbing, 31 Agustus 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s