AEC2015: Antara Macan Kandang atau Macan Asia


AEC3ASEAN Community 2015 adalah sebuah kesepahaman dan kesepakatan diantara Negara-negara yang tergabung dalam Assosiation of Sout East Asian Nations untuk menjadikan kawasan Asia Tenggara menjadi satu kesatuan visi, identitas, dan komunitas (One Vision, One Identity, One Community). Dengan populasi penduduk lebih dari 605 juta jiwa dan GDP sebesar US $2,178 triliun, kawasan ini ke depan akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi terpenting di dunia. Indonesia sebagai Negara terbesar di kawasan ASEAN memiliki posisi dan peran yang sangat strategis dalam rangka mendayagunakan peluang keberadaan ASEAN Community 2015 untuk meningkatkan dan memajukan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam rangka menyebarluaskan informasi mengenai keberadaan ASEAN Community 2015, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN – Kementerian Luar Negeri, yang memiliki tugas dan tanggung jawab penuh dalam mengkoordinasikan semua lini birokrasi beserta seluruh stakeholders terkait, menggandeng berbagai komunitas blogger di tanah air yang tergabung dalam ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia. Blogger dipandang secara strategis dan efektif dapat turut menyebarluaskan informasi mengenai keberadaan ASEAN Community 2015 dan persiapan-persiapan yang telah maupun akan dilakukan oleh pemerintah beserta semua pihak terkait yang lainnya.

Setelah sukses menggelar ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013 pada 9-12 Mei 2013 yang lalu di Kota Surakarta, sebagai rangkaian HUT ASEAN ke-46, Ditjen Kerja Sama ASEAN – Kementerian Luar Negeri kembali menggelar acara sosialisasi dan seminar dengan tema ASEAN Connectivity Menuju Komunitas Ekonomi ASEAN 2015: “Peran dan Kontribusi Blogger dan Sosial Media dakam Menghadapi Integrasi Ekonomi ASEAN”. Dalam acara seminar  yang lebih fokus membahas ASEAN Economic Community 2015 sebagai salah satu pilar ASEAN Community 2015 tersebut berkesempatan hadir Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, yang memberikan keynote speech dengan topik Peran Teknologi Menyongsong ASEAN Economic Community 2015.

AEC4Lebih lanjut Menkominfo menyampaikan bahwa perwujudan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan. Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 bisa menjadi peluang jika kita mempersiapkannya dengan matang, tetapi sekaligus bisa menjadi ancaman atau bencana nasional jika tidak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Terkait dengan peluang, pilihan negara kita adalah sekedar menjadi macan kandang atau kita ingin kembali menjadi macan Asia. Pertanyaan mendasar ini senantiasa dipertanyakan oleh Presiden Yudhoyono dalam berbagai kesempatan rapat kabinet.

Menjadi macan kandang berarti peluang emas untuk berperan dan mengambil manfaat dari Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 kita sia-siakan saja. Populasi penduduk kita yang besar hanya menjadi pasar yang empuk bagi produk bangsa ASEAN yang lain. Kita sekedar menjadi bangsa konsumtif tanpa berpikir produktif. Jika pilihan ini yang kita ambil, maka bangsa kita akan menjadi pecundang bahkan terjajah secara ekonomi oleh bangsa ASEAN yang lainnya. Bangsa yang tidak kreatif hanya akan menjadi kuli di negeri sendiri! Inikah pilihan yang ingin kita ambil?

Dalam krisis ekonomi global gelombang ke dua yang terjadi 2008-2010, ekonomi Indonesia justru tetap bertahan dan tumbuh dalam kisaran 6,5%. Sebuah pencapaian pertumbuhan ekonomi yang “ajaib” di tengah pertumbuhan negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Inggris dan Jerman yang justru tumbuh negatif. Hanya negara kita, di belakang China, tumbuh positif. Hal inilah yang kemudian menjadikan ekonomi Indonesia berada di rangking 16 besar dunia, sehingga Indonesia masuk menjadi bagian dari negara G-20.

Data dan fakta statistik kemudian mengungkapkan bahwa ternyata, sumbangan terbesar dari angka 6,5% tersebut, yaitu sebesar 11,7%, berasal dari sektor telekomunikasi dan transportasi. Dengan demikian peranan para pelaku sektor telekomunikasi, termasuk para blogger, memerankan kunci penting dalam kemajuan negara kita di masa depan. Negara kita yang besar, membentang dari Aceh hingga Papua, mengharuskan kita memiliki connectivity yang kuat sebagai prasyarat mutlak peningkatan daya saing yang tinggi, terkhusus dalam menghadapi ASEAN Economic Community 2015 ini.

macanasia1Konektivitas secara fisik dalam arti pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana transportasi memang harus terus dibangun dan ditingkatkan kuantitas maupun kualitasnya. Namun untuk melakukannya, tentu saja membutuhkan sumber daya yang sangat luar biasa besarnya. Tidak hanya dana yang mencukupi, waktu yang tidak pendek, tetapi juga perencaan serta persiapan yang matang. Jika untuk sekedar membangun jembatan Selat Sunda saja kita masih berdebat panjang, bagaimana mungkin kita akan menghubungkan seluruh Kepulauan Nusantara yang panjang terbentang ini?

Terlebih untuk menghadapi ASEAN Economic Community 2015 yang hanya tinggal dua tahun ini, tentu saja hal-hal tersebut sangat sulit untuk diwujudkan. Oleh karena itu, dalam jangka waktu paling dekat, konektivitas yang paling mungkin untuk diwujudkan secara cepat adalah konektivitas sektor telekomunikasi. Di sektor inilah kemudian Kementerian Komunikasi dan Informatika membangun jaringan desa berdering, serta Program Layanan Internet Kecamatan hingga di semua wilayah pelosok Nusantara. Keterbatasan infrastruktur fisik yang handal harus diatasi dengan jaringan telekomunikasi yang handal.

Terwujudnya konektivitas fisik melalui jaringan telekomunikasi tidak akan memberikan banyak arti jika para pelaku di dalamnya tidak memiliki hati nurani dan patriotisme yang tinggi untuk turut mendukung pemerintah dalam mempersiapkan persaingan global, termasuk ASEAN Economic Community 2015. Negara kita membutuhkan para putra bangsa yang memiliki sikap dan semangat nasionalisme yang tinggi dengan berpikir, berkata, bersikap dan bertindak mementingkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri sendiri maupun golongannya. Termasuk di dalamnya, tentu saja barisan para blogger sebagai agen informasi menjadi sangat penting dan strategis.

Dengan potensi penduduk sebesar 230 juta (40% dari populasi penduduk ASEAN), serta pertumbuhan ekonomi yang senantiasa naik, Indonesia menjadi kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN. Jika kita menempa diri menjadi bangsa yang kreatif dan produktif, serta senantiasa memupuk cinta dan mau menggunakan produk dalam negeri, maka posisi macan Asia bukan sebuah hal yang mustahil dapat kita raih kembali. Menjadi macam ASIA berarti Negara kita mampu mengambil kemanfaatan dari keberadaan ASEAN Economic Community 2015 untuk mendorong terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Indonesia adalah negara besar, dengan keanekaragaman tradisi, adat istiadat, seni dan budaya, suku, bahasa, juga kekayaan alam yang luar biasa akankah menjadikan kita lebih sejahtera dibandingkan bangsa yang lainnya? Akankah ke depannya mampu menjadi bangsa yang maju, mandiri, dan berdikari, serta duduk sederajat dengan bangsa yang lainnya. Ingatlah kembali wahai para blogger, you are the power! (sebagaimana disampaikan Hermawan Kertajaya) Berikan karya nyata Anda!

Lor Kedhaton, 28 Agustus 2013

Foto pendengar seminar dari sini.Foto macan Asia diambil dari sini.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke AEC2015: Antara Macan Kandang atau Macan Asia

  1. eko magelang berkata:

    semoga jadi macan yang sebenar2 nya macan…….

    Suka

  2. Ahmad Faza berkata:

    berawal dari macan kandang maka akan menjadi macan asia 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s