Tiga Pekan Pasca Tragedi Jelang Hari Fitri


Tragedi itu memang telah berlalu, bahkan sudah melampaui tiga minggu. Perlahan namun pasti, fase-fase pemulihan itu berlalu. Sedapat mungkin daya upaya dan ikhtiar juga telah dilakukan. Tak lupa doa kepada Tuhanpun senantiasa dipanjatkan siang dan malam. Hanya dengan itu semua, keyakinan akan kesembuhan terpatrikan dengan kuat di dalam kalbu.

Gosong1   Gosong3

Sebuah tragedi tidak hanya cukup disesali semata. Roda dunia tetap berputar, maka hiduppun harus dilanjutkan. Bentangan waktu dan perjalanan masih panjang terbentang. Untuk tidak bermanja ria dengan rasa sakit dan sesal, seiring dengan habisnya masa liburan cuti lebaran, sayapun menguatkan langkah untuk kembali makaryo.

Hari-hari pertama “kembali” ke dunia nyata memang masih terasa nuansa lebaran. Dalam setiap perjumpaan dan tatap muka dengan rekan kerja, tentu saja saling berjabat tangan dan bermaafan masih lazim untuk dilakukan. Maka ketika mereka namatke, alias melihat raut muka saya secara dekat dan seksama, muncullah pertanyaan yang selama beberapa minggu ini dipertanyakan kepada saya. “Kenapa dengan mukamu?” demikian rata-rata pertanyaan itu. Dan rekaman penjelasan tentang Tragedi Jelang Hari Fitripun saya perdengarkan kembali.

Macam-macam tanggapan dari orang yang bermacam-macam juga. Ada yang simpati dan turut membayangkan, berimajinasi tentang panasnya jilatan api. Ada yang serta-merta mendoakan kesembuhan. Namun ada juga beberapa komentar yang justru “menggurui”, bahkan menyudutkan saya pada posisi salah. Mereka ini beberapa diantaranya adalah orang-orang yang “lebih” tahu persoalan lingkungan hidup dan legal formal sistem peraturan perundang-undangan.

Ketika saya paparkan ledakan yang menimpa saya tersebut terjadi pada saat kami membakar sampah kering, seorang rekan alumni ilmu lingkungan memberikan pernyataan, “Kenapa sampah dibakar sendiri, kan sudah ada aturannya bahwa dilarang membakar sampah? Melakukan pembakaran sampah sendiri, justru akan menambah pencemaran lingkungan. Asap jika terhirup manusia akan membuat sesak nafas, bahkan gangguan pernafasan. Asap yang dihasilkan dari pembakaran plastik akan menambah gas rumah kaca. Sampah itu hanya boleh dibakar di fasilitas insenerator. Bla…bla…bla….dst” Saya hanya menimpali, “Oo begitu ya!”

Seorang pegawai di lingkungan Sekretariat Negara yang berada di lingkaran Presiden dan kebetulan berlatar pendidikan ilmu hukum juga memberikan fatwa, “ Lho sampah kok dibakar sendiri. Kan nggak boleh. Sudah ada aturannya di Peraturan Pemerintah Nomor …..sekian-sekian…tahun sekian-sekian”.

Si peduli lingkungan juga sempat meninggalkan jejak komentarnya di postingan tentang Tragedi Jelang Hari Fitri, “Sebagai pelajaran bahwa membakar sampah itu tidak baik…selain itu asapnya juga menggangu lingkungan sekitarnya, sampean yang membakar sampah masak tetangga ikut menghirup asapnya…mohon semakin bijak dalam kepedulian lingkungan…sampah bisa dibuang ke tukang pengumpul sampah dan tidak perlu dibakar…” Welha dalah hebat bener orang-orang pintar di negeri kita ini!

Sampah-di-pinggir-jln-SentapHal-hal demikian memang banyak kita jumpai dalam pergaulan kita sehari-hari. Seseorang kurang mendalami situasi dan informasi, sehingga kurang bijak dalam menyimpulkan dan memberikan sebuah pernyataan. Ketiga komentar miring tersebut saya nilai hanyalah sebuah kekurangpahaman dalam memahami sebuah konteks peristiwa. Hanya mendasarkan kepada pengetahuan tentang teori keilmuan, baik dari sisi lingkungan ataupun legal formalitas muncullah pernyataan yang justru terasa tidak empatik dan juga tidak empan papan atau tepat konteks ruang dan waktunya.

Secara teori dan aturan, pernyataan-pernyataan di atas memang benar. Akan tetapi hal tersebut baru sampai kepada kebenaran “teori” di atas kertas. Sedangkan kebenaran realitas bagaimana pengelolaan sampah hingga di lungkungan yang paling terpelosok tentu saja sangat jauh panggang daripada api. Di kota-kota besar, ataupun pada sebuah lingkungan yang tertata dan teratur, dengan sarana, prasarana, personil, dana dan infrastruktur yang ada tentu saja pengelolaan sampah rumah tangga, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, penampungan hingga pembuangan akhir ditangani oleh pemerintah. Namun fakta lain, di lingkungan yang jauh dari jangkauan tangan pemerintah atau aparatur Negara ya masyarakat harus gugur gunung dan gotong-royong secara mandiri dan swadaya dalam mengelola sampah mereka. Tidak hanya di kampung dan dusun-dusun di tepi gunung, permasalahan demikian juga banyak terjadi di pinggiran lingkungan kota-kota kita.

Nah namanya pengelolaan oleh masyarakat, tentu saja sangat beragam bergantung kepada pengetahuan, pengalaman, keterbatasan sarana prasarana, juga lingkungan sosial kemasyarakatan mereka. Seperti halnya di dusun kami, tempat kejadian Tragedi Jelang Hari Fitri itu terjadi, mana ada yang namanya petugas pengumpul sampah. Kalaupun dibuat sistem iuran uang sampah juga boro-boro! Untuk kecukupan hidup sehari-hari saja masih senen-kemis.

Namun demikian, menurut saya masyarakat awam itu semenjak nenek moyang dulu sudah memiliki kearifannya sendiri dalam berinteraksi dengan alam. Dalam pengelolaan sampah basah misalnya, mereka sudah sadar betul bahwa sampah basah yang bisa membusuk tersebut memiliki unsur hara yang sangat dibutuhkan tanah untuk menjaga kesuburannya. Sehingga jangan salah bahwa mereka sudah mengenal rabuk atau pupuk kandang, dan juga kompos yang kini seolah diklaim sebagai produk ilmu pengetahuan dan teknologi dari bangku sekolah tinggi.

Akan tetapi ketika kemudian masyarakat dihadapkan dengan sampah plastik yang sulit terurai itu, secara pikir pendek ya dibakarlah langkah yang paling praktis. Jika kemudian langkah demikian dianggap kurang tepat, adalah urusan orang-orang pintar, para birokrat dan aparatur negaralah yang paling bertanggung jawab untuk mengedukasi pengetahuan wong cilik ini. Tidak hanya terhenti di situ, sarana-prasarana, dana dan segala hal yang diperlukan juga harus difasilitasi. Nah persoalannya, sekarang pemerintahan mana yang memiliki kesadaran demikian? Saya yakin masih sangat sedikit. Betapa memang peran Negara seringkali absen di tengah kehidupan masyarakat kecil yang semakin terpinggirkan.

Hanyalah sebuah permenungan pribadi yang mungkin kurang berguna.

Lor Kedhaton, 23 Agustus 2013

Foto tumpukan sampah dipungut dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Tiga Pekan Pasca Tragedi Jelang Hari Fitri

  1. rahmad bakti berkata:

    aku juga nggak tau mas kalo ada aturan tentang larangan membakar sampah. hehee..setelah baca tulisan ini baru tau

    Suka

  2. AQ berkata:

    Jan-jane critane kepiye tho Kang….

    Gandeng 2 minggu durung ketemu, yo bakdan kene we lah…. Taqobbalallohu minna wa minkum, nyuwun ngapunten mbok manawi kathah lepat 😛

    Suka

  3. Evi berkata:

    Sekarang sudah pulih ya Mas Nanang. Alhamdulillah. …

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s