Tragedi Jelang Hari Fitri


Niat ingsun pagi itu memang ingin turut bebersih rumah selepas kedatangan mudik kami di kampung halaman. Di samping kondisi rumah yang memang sedang berantakan, kami menyadari bahwa anna dzafatu minal iman, kebersihan itu sebagian daripada iman. Maka selelah apapun badan selepas perjalanan jauh tidak menyurutkan niat untuk segera “menyulap” rumah agar nampak lebih tertata. Maka segenap warga rumah di pagi itu, seiring dengan terbitnya fajar di ufuk timur, sudah bahu-membahu, gugur-gunung untuk bergotong royong melakukan aksi kebersihan di dalam rumah dan lingkungan sekitar.

Gosong2

Dari hasil bebersih dan berbenah di dalam rumah, akhirnya terkumpullah beberapa tumpukan kantong plastik sampah yang kemudian ditempatkan di pembuangan sampah halaman belakang rumah. Agar volume sampah berkurang, salah satu metode pemusnahan yang praktis ya dibakar. Satu persatu sampah-sampah kering segera kami sulut dengan jilatan si jago merah. Beberapa kantong sempat saya cek isinya, dan kebanyakan dari sampah kering tersebut terdiri dari kertas dan plastik. Kerja yang saya lakukan terasa lebih ringan dan riang karena Si Ponang kecilpun dengan penuh semangat turut membantu bapaknya. Dengan sigap dan tangkas ia turut mengumpulkan sampah-sampah ranting kering yang berserakan. Satu per satu ranting-ranting tersebut ia kumpulkan dan dioperkan kepada bapaknya yang kemudian menempatkannya dalam kobaran api.

Setelah api melalap sebagian sampah, ada sebuah kantong plastik kresek warna hitam gelap yang saya tumpangkan pada jilatan api yang tengah berkobar. Selain sampah dari dalam rumah, ada pula beberapa kantong sampah dari tetangga yang turut numpang buang sampah. Tanpa menunggu selang waktu yang terlalu lama apipun mulai menjilat dan melahap kantong tersebut. Namun sungguh sebuah kejadian yang begitu tiba-tiba terjadi di luar perhitungan kami. Bersamaan ketika saya menunduk merapikan perapian, sekonyong-konyong terjadilah sebuah ledakan yang keras melebihi dentuman bunyi yang dihasilkan petasan skala besar. Mungkin ada botol berisi cairan atau gas tertentu yang mengalami pengembangan tekanan pada temperatur tinggi sehingga menyebabkan terjadinya ledakan bertekanan tinggi.

Saya tidak ingat pasti detik-detik kejadian tersebut. Hanya saja saya merasakan panas menyengat di punggung tangan kanan. Pada saat bersamaan gerakan refleks tubuh mengintruksikan saya untuk melompat sekaligus balik badan hingga beberapa langkah. Akan tetapi pada saat yang bersamaan, Si Ponang kecil menjerit penuh kesakitan. Mendengar jeritan tersebut, saya baru tersadar dan segera melompat menyambar tubuh Ponang kecil yang saat itu dalam posisi sujud di atas tanah berumput tepat menghadap arah kiblat sambil menutupkan kedua telapak tangan ke muka.

Selepas membawa lari Si Ponang menjauh dari pusat ledakan api, lutut terasa lemah sehingga saya terduduk tanpa sadar di atas tanah. Si Ponang kecil masih terus berteriak kesakitan. Perlahan saya tata nafas yang penuh detakan jantung yang berdebaran antara sadar dan tidak sadar akibat peristiwa yang sangat tiba-tiba itu. Saya mencoba membuka tangan kedua tangan kecil Si Ponang yang sudah penuh dengan serpihan abu. Terus terang saya sangat mengkhawatirkan jika muka anak tersebut terkena serpihan ledakan, terlebih pada bagian matanya.

Perlahan akhirnya saya bisa membuka tangan si Ponang. Ia masih terus berteriak kesakitan. Mendengar jeritan histeris kami, keluarga yang lain dan para tetangga segera datang merubung kami yang ngglesot di pelataran tanah. Batin saya sedikit lega setelah mengecek mata kecil si Ponang yang tak mengalami hal-hal yang sempat sangat mengkhawatirkan tadi. Sambil mengompreskan handuk basah untuk mengurangi rasa panas yang menyengat, saya bisikan ke telinga si Kecil agar berdoa meminta pertolongan Gusti Allah.

Si Ponang dengan lugu dan spontan malah bertanya, “ Apa yang terjadi Pak? Kenapa bisa?” Namun anjuran untuk berdoa tersebut ternyata memiliki daya magis yang luar biasa terhadap si Ponang. Ia tidak lagi menangis, dan tidak lagi berteriak mengaduh-aduh sebagaimana beberapa saat sebelumnya. Dengan penuh keyakinan diri yang terbangun, ia justru berkata lirih di telinga saya, “Aku tahan Pak!”

Setelah suasana lebih kondusif dan tenang, Si Ponang saya bopong pindah ke teras rumah yang lebih lapang dan sejuk. Di tempat inilah kami mulai melakukan pertolongan lebih lanjut terhadap muka Ponang yang “memerah” seolah melepuh tersebut. Seorang saudara dekat membawakan kepada kami sebuah botol berisi minyak ampuh. Minyak ampuh itulah olesan pertama yang diberikan ke muka si Kecil. Beberapa saat kemudian ada juga yang membawakan balsem merek China yang konon pernah dipergunakan untuk olesan luka bakar oleh beberapa tetangga. Seluruh permukaan muka, beberapa bagian sekitar pusar di perut dan beberapa titik di paha kanan segera menjadi lebih adem dengan olesan obat tersebut.

Dengan sedikit rintihan akibat rasa panas yang menyengat, muka si Ponang terus kami kipas-kipas agar terasa lebih dingin dan sejuk. Setelah kondisi si Kecil berangsur stabil dan membaik, barulah saya merasakan rasa perih dan pedih di raut muka. Setelah membisikkan hal tersebut kepada istri, si Kecil berganti pangkuan kepada neneknya. Barulah saya mendapatkan perawatan yang sama sebagaimana yang dilakukan terhadap anak saya.

Menit-menit berjalan, hingga melampaui rentang satu jam, kondisi si Ponang semakin membaik. Saking ampuhnya pengaruh minyak ampuh, ditambah dengan khasiat balsem China, bahkan warna merah lebam dan lepuh di muka, perut dan paha berangsur hilang dan kembali normal sebagaimana warna kulit di sekitarnya. Pada saat yang bersamaan si Ponang kemudian tertidur. Sekitar satu jam tatkala terbangun dari tidur, kondisi si Kecil relatif sudah tidak mengesankan bekas luka bakar sama sekali, kecuali pada bagian bawah pusar yang lebam. Namun si Ponang sudah kembali ceria dengan energinya yang lincah. Hati sayapun merasa lega, plong dan bersyukur ternyata tidak terjadi hal yang terlalu serius terhadap buah hati semata mayang saya tersebut.

Gosong1Lain di Ponang ternyata lain nasib bapaknya. Tatkala si Kecil sudah pulih dalam waktu “sekejap” justru sang Bapak baru memulai fase “cobaan” penderitaan. Bahkan dari hari ke hari, justru gosong di raut muka seolah semakin nampak legam bagaikan muka satria baja hitam. Malah sempat pula terjadi infeksi yang cukup serius di kening sisi kanan yang menyebabkan luka “bonyok” cukup serius. Si Ponang kecil dengan penuh canda bahkan meledek, “Bapak sih salah doanya!”

Peristiwa tragedi Jumat pagi tersebut memang sebuah musibah dan cobaan bagi kami. Akan tetapi di tengah sebuah cobaan selalu terpendam mutiara hikmah yang dalam dan sangat berharga. Tatkala saya dongengkan kisah kepada si Ponang tentang surga dan nerakan, tentu saja ia paham mengenai api neraka. Dalam tragedi betapa ia benar-benar merasakan panasnya bara api, meskipun baru dalam skala sangat mikro jika dibandingkan api neraka. Namun yang paling luar biasa adalah kesimpulan yang diambil si Ponang, “Berarti mulai sekarang aku harus lebih rajin sholat, ngaji, beramal baik ya Pak? Biar jadi sholeh.”

Bukan mengada-ada, tatkala sholat Jumat di Masjid Agung pada siang hari selepas peristiwa tragedi tersebut terjadi, si Kecil bertanya, “Gusti Alloh itu apa laki-laki? Opo Gusti Alloh perempuan? Gusti Alloh itu apa sih Pak? Opo Gusti Alloh mesjid? Opo huruf arab?” Sayapun sudah pasti hanya menggelengkan kepala tidak tahu harus menjawab apa, tetapi saya selalu hanya bisa menekankan bahwa saya belum pernah ketemu dengan Gusti Alloh. Besok kalau Bapak sudah ketemu saya janji akan cerita kepadanya.

Saya tidak tahu persis apa latar belakang seorang bocah cilik bertanya terlampau mendalam mengenai logika ketuhanan. Namun pada saat saya desak kenapa ia bertanya demikian. Si Ponang menjawab, “Tadi pada saat ledakan apinya besarrrrr sekali, setinggi genteng tetangga. Tiba-tiba ada bayangan putih Pak, masuk ke dalam tubuhku, mengendalikan tubuhku dan menyuruhkan untuk sujud di tanah.” Subhanallah……. Sayapun tidak berani mengambil kesimpulan apa-apa.

Tepi Merapi, 7 Agustus 2013

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

23 Balasan ke Tragedi Jelang Hari Fitri

  1. Lee Shin berkata:

    Subhanallah….pasti ada hikmah dari sebuah kejadian. Sekarang sampun sembuh mas?

    Suka

  2. paknenaya berkata:

    subhanallah…..
    syukurlah Ponang tidak apa2 mas…. semoga Mas Nanang cepat sembuh..

    Suka

  3. Agus Mulyadi berkata:

    Dan alhamdulilah, saiki wis mari… wis bagus meneh hehe…

    Suka

  4. peduli lingkungan berkata:

    Sebagai pelajaran bahwa membakar sampah itu tidak baik…selain itu asapnya juga menggangu lingkungan sekitarnya,sampean yg membakar sampah masak tetangga ikut menghirup asapnya…mohon semakin bijak dalam kepedulian lingkungan…sampah bisa dibuang ke tukang pengumpul sampah dan tidak perlu dibakar…

    Suka

  5. Mualim Sukethi berkata:

    Turut prihatin mas. Semoga lekas sembuh dan pulih spt sediakala.

    Suka

  6. usaha mahasiswa berkata:

    cepat semuh mas

    Suka

  7. dobelden berkata:

    innalillahi, moga cepat sembuh kang

    @pedulilingkungan : Setidaknya anda berempati sama yang kena musibah dulu mas/pak/bu, setelah itu ajari kami untuk peduli lingkungan

    Suka

  8. kalajeda berkata:

    Mas Nanang..aku turut berduka cita atas musibah ini, alhamdulillah si kecil nggak papa, semoga mas Nanang juga cepet sembuh ya

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Yang bisa kami lakukan hanya mengambil hikmahnya, mengambil indahnya dari pelajaran kejadian tersebut. Dan memang banyak pengetahuan “ngelmu tinggi” yang sengaja ditanamkan Tuhan kepada si Kecil melalui peristiwa ini.

      Suka

  9. kalajeda berkata:

    Oh iya, maaf lahir dan batin mas, salam buat keluarga

    Suka

  10. kang budi playit ing gisik segoro kidul berkata:

    slamet-slamet… sang nanang tambah nonong… he

    Suka

  11. infosuporter berkata:

    wah, salam buat si ponang mas. saya merasakan tulisan ini seperti cerita pak ageng dan beni santoso anaknya mister rigen di bukunya umar kayam. simple tapi dalem mas.

    Suka

  12. Ping balik: Tiga Pekan Pasca Tragedi Jelang Hari Fitri | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s