Titik Awal Islam di Bumi Tidar


Di masa senjakalaning Majapahit yang perkasa, terjadilah goro-goro dan huru-hara di segenap sisi kehidupan manusia Nusantara. Keamanan menjadi rawan karena perebutan kekuasaan dan politik diantara para raja kecil yang berontak ingin melepaskan kekuasaan sentralistik pemerintah pusat. Tanah tandus dan masa paceklik menambah kemelaratan rakyat dan meluluh-lantakkan perekonomian negara. Para rampok dan gerombolan penjahat bersimaharaja-lela! Norma, nilai, aturan hukum, hingga peradaban semakin tenggelam ditelan keangkara-murkaan.

Pom NaikTidar

Alkisah Khidzir adalah kekasih Allah, nabiyullah. Kekaribannya dengan Allah menjadikan Allah berkenan menginformasikan kepadanya pengetahuan tentang masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa lalu tersimbolisasi dalam peristiwa penegakkan dinding miring, masa kini dalam peristiwa perusakan kapal penyeberangan, dan masa depan lewat kisah pembunuhan atas seorang bocah yang tidak berdosa. Dengan demikian, segala perbuatan Khidzir tidak lepas dari informasi dari Allah langsung dan dengan demikian merupakan perintah-Nya pula. Khidzir adalah sosok pencerah jaman yang akan selalu mendobrak sejarah untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran peradabannya.

Dalam masa akhir pemerintahan Majapahit, peran sosok Khidzir kembali mangejawantah dalam diri Sunan Kalijaga. Melihat gelagat kehancuran dinasti besar, Kalijaga segera tandang gawe, melakukan beberapa hal untuk mempersiapkan transformasi kepemerintahan Hindu-Budha menjadi pemerintahan berdasarkan syariat Islam. Tindakan pertama adalah mengislamkan Mpu Supo sebagai pembuat senjata kerajaan yang menjadi tulang punggung kekuatan militer. Selanjutnya para wakil rakyat dan pejabat teras utama istana dan keluarganya, satu persatu dibimbingnya menuju Islam.

Payaman1 Kauman2

Tatkala Girindrawardana dari Kediri merebut tahta Majapahit, maka Demak melakukan penyerangan demi  tuntutan atas tahta bagi para putra Brawijaya. Sunan Ngudung dipilih sebagai panglima perang armada Demak. Namun penyerangan kali ini gagal, bahkan sang panglima gugur di tangan Raden Timbal. Penyerangan ke dua dipimpin oleh Sunan Kudus. Taktik Sunan Kalijaga adalah memerintahkan Sunan Kudus untuk menjemput Raden Timbal guna diangkat sebagai panglima perang Demak. Maka ketika Raden Timbal dipersaudarakan dengan Sunan Kudus dan menerima maaf atas tindakannya membunuh Sunan Ngudung, iapun bergabung ke Demak sebagai panglima agung tanpa mengalami perendahan dan penghinaan sedikitpun. Bahkan ia dimuliakan sebagai kakak tertua Sultan Demak.

Para putra Brawijaya V yang berjumlah 147, satu per satu dilimpahi kekuasaan atas tanah perdikan yang memiliki otonomi luas atas wilayahnya masing-masing. Ini merupakan dekonstruksi sejarah dari kerajaan kesatuan Majapahit yang sentralistik, menuju kepada kerajaan federasi Demak Bintoro. Raden Patah sebagai putra ke 13 kemudian dinobatkan sebagai raja Demak pertama dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar I. Pemilihan atas diri Raden Patah merupakan langkah jitu untuk memperlancar dakwah penyebarluasan Islam, karena Raden Patah dinilai memiliki kecakapan kepemerintahan dan sangat tawadlu kepada para Wali Songo. Hal ini lebih merupakan strategi untuk memastikan bahwa kekuasaan politik akan bersinergi dengan kaum ulama dalam rangka pengembangan Islam. Di sisi lain, kekuasaan raja atas kerajaan akan semakin kuat dengan legitimasi dari para wali.

Pengislaman atas pulau Jawa selepas kekuasaan Majapahit runtuh, dapat dibedakan menjadi tiga wilayah keislaman masyarakatnya. Islam materialisme dimana Sunan Kudus menjadi tokoh utamanya, berkembang di daerah pesisir utara. Islam abangan berkembang di wilayah tengah, termasuk Brawijaya yang mesanggrah di candi Cetho, sekitar lereng Gunung Lawu. Golongan ke tiga adalah orang Jawa tulen, mereka melakukan pelarian di wilayah selatan. Diantara mereka adalah Sabdo Palon dan Noyogenggong, serta Ki Ageng Mangir.

Mangir adalah putra Brawijaya ke-43, ia menjadi penguasa di perdikan Mangir sekitar muara Kali Progo. Kegemarannya adalah nanggap tayub dan berpesta makan bersama rakyatnya. Dalam kepemerintahan tanah perdikan yang otonom dan ekslusif, Mangir adalah daerah yang makmur tanpa ada kemelaratan dan kelaparan. Ki Agengpun memerintah dengan adil. Satu hal yang sangat disayangkan oleh Sunan Kalijaga adalah Mangir belum mau masuk Islam.

Sunan Kalijaga kemudian melakukan penyamaran dan menyusup ke wilayah Mangir. Ia membo rupo menjadi seorang gelandangan melarat yang sangat kumuh dan rambut gimbal yang sangat bau. Di saat Mangir menggelar pesta makan-makan, Kanjeng Sunan ikut bergabung dan segera makan dengan sangat rakusnya, seakan ia tidak pernah berjumpa dengan makanan selama sekian windu. Ki Ageng Mangir menghampiri dan bertanya tentang asal-usul orang gembel tersebut. Dengan ramah ia kemudian mempersilakan tamu anehnya untuk melanjutkan menikmati segala hidangan yang ada.

Demi melihat kerakusan sang tamu yang kumuh tersebut, semua orang menjadi heran. Sang gembel tidak peduli dengan perhatian orang di sekitarnya, ia makan dan makan terus, seakan semua makanan amblas ke dalam perutnya. Setelah perut menggelembung dan ngglegeken, sang gembel tiba-tiba melesat hilang ditelan angin. Kejadian ini tidak luput dari perhatian mata tajam Ki Ageng Mangir.

Hari berganti hari, namun Mangir belum juga masuk Islam. Pada kesempatan pesta bulan selanjutnya, Sunan Kalijaga menyamar sebagai orang kaya raya, lengkap dengan kereta kencana dan baju kebesarannya. Kedatangan tamu mulia disambut dengan ramah oleh Mangir dan segenap warga perdikan. Kali ini Kanjeng Sunan hanya mencicipi beberapa makanan, kemudian bagai orang kesurupan ia melumurkan segala macam makanan yang ada ke sekujur baju indahnya. Baju itupun kemudian belepotan dengan kotoran berbagai makanan, bahkan sampai ke kuah dan lemak-lemaknya. Semua orang memperhatikan, bahkan Mangir sendiri sangat heran. Ia seakan pernah melihat wajah orang gila di hadapannya. Beberapa waktu lalu, si gembel gila! Kali ini si kaya raya yang juga gila! Namun kenapa selintas ada kemiripan wajah antara keduanya?

Setelah puas mengacau-balau suasana pesta, sang tamu misterius segera melesat lari menjauhi arena pesta. Mangir yang merasa penasaran mengejar di belakangnya. Namun dengan sekuat tenaga dikejar, Mangir malah kehilangan jejak. Segera ia kembali ke rumah dan menitahkan kepada Wonoboyo, sang menantu, untuk menggantikannya sebagai penguasa perdikan dengan gelar Ki Ageng Mangir Wonoboyo I. Ia sendiri akan mengejar hingga ke ujung dunia untuk berguru kepada tamu misteriusnya.

Sekian lama berjalan dan berlari untuk mendapatkan orang sakti yang akan diangkatnya sebagai guru, Mangir akhirnya bertemu dengan Sunan Kalijaga di lereng Tidar. Sunan Kalijaga kemudian berkisah tentang segala kejadian yang baru dialami oleh Mangir. Akhirnya Mangir diangkat sebagai murid oleh Sunan Kalijaga dengan syarat bahwa ia harus bertapa dan menjelma menjadi naga raksasa untuk mengelilingi Gunung Merapi. Inilah makna perintah agar Mangir menyebarkan Islam di wilayah Bhumi Panca Arga.  Dan inilah awal mula dakwah penyebaran Islam di wilayah Magelang Raya.

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s