Maneges Syahadat Selepas Tarawih


Desa mawa cara, negara mawa tata. Demikian para leluhur bertutur. Maksudnya adalah bahwa suatu daerah atau wilayah senantiasa memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda-beda. Begitupun dengan rangkaian peribadatan di bulan suci Ramadhan ini. Mulai dari kebiasaan penyambutan puasa, menjelang sahur, menunggu saat berbuka puasa hingga pelaksanaan sholat tarawih.

Adalah dusun kami yang semenjak dulu melaksanakan sholat tarawih dan witir sebanyak sebelas rakaat. Setelah adzan Isya’ dikumandangkan, warga dusun segera bergegas menuju masjid atau musholla tempat tarawih. Sebelum iqomad, sambil menunggu jama’ah berkumpul biasanya dilantunkan pepujian. Adapun pujian khusus pada bulan Ramadhan menjelang tarawih adalah syair:

Allahumma innaka ‘afu’un, tukhibbul ‘affa fa’fu’anni,

Allahumma innaka ‘afu’un karim, tukhibbul ‘affa fa’fu’anni

Begitu iqomad dikumandangkan sang bilal, sholatpun dimulai dengan sholat Isya’ terlebih dulu. Setelah selesai kemudian doa bersama dilanjutkan sholat sunnah ba’diyah, baru kemudian sholat tarawih delapan rakaat yang kemudian dilanjutkan sholat witir sebanyak tiga rakaat dilaksanakan secara berurutan. Sehabis witir diucapkanlah sedikit dzikir witir, doa dan pengucapan niat puasa untuk keesokan harinya. Menutup rangkaian tarawih dilagukanlah lagon penegasan syahadat tauhid dan rasul. Adapun syair yang dilafalkan adalah sebagai berikut:

 Ashadu alla illa ha illallah, wa ashadu anna muhammadarrasulullah,

Anekseni ingsun saktuhune mboten wonten pangeran,

Ingkang sinembah,

kelawan sakbenere,

ing ndalem ujude,

anning Allah!

Anekseni ingsun saktuhune Kanjeng Nabi Muhammad iku,

Utusane Allah!

Kawulane Allah,

Kang rama Raden Abdullah,

Kang ibu Dewi Aminah,

Ingkang dhohir wonten Mekah, jumeneng Rasul wonten Mekah,

Pindah ning Medinah,

Gerah ning Medinah,

Seda ning Medinah,

Sinarekaken ning Medinah,

Bangsane bangsa Arab,

Bangsa rasuuuul bangsa Quraisy.

 

Syair tersebut di atas kurang lebih mempunyai arti:”Hamba bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan hamba bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Hamba bersaksi dengan sesungguhnya tidak ada Tuhan yang disembah, dengan sesungguhnya, dalam wujud-Nya, kecuali Allah! Hamba bersaksi dengan sesungguhnya bahwa Kanjeng Nabi Muhammad utusan Allah, yang bapaknya bernama Raden Abdullah, yang ibunya bernama Dewi Aminah, yang lahir di Mekah, yang diangkat Rasul di Mekah, pindah ke Medinah, sakit di Medinah, wafat di Medinah, dikuburkan di Medinah. Bangsanya bangsa Arab, bangsa Rasul, bangsa Quraisy.

Sampai di sini kemudian dilanjutkan dengan saling salam-salaman menbentuk formasi melingkar sambil berdiri. Tak lupa mengucapkan syair “allahumma shooli’ala Muhammad, iyya rabbisa li‘ala hiwassalim, wa’ala alihi-wa’ala alihi washobbihi wassalam” yang diiringi dengan tabuhan bedug. Alunan bedug pengiring sering diistilahkan dengan jedor atau tiduran.

Selesai saling bersalaman, para jamaah  selanjutnya duduk kembali dalam lingkaran besar dan beberapa diantaranya tetap membentuk barisan shof. Sambil duduk beristirahat, diisilah acara santapan rohani sekedar tujuh menit. Sambil mendengarkan ceramah, para pemudapun muncul menghidangkan jaburan sebagai santapan pelepas dahaga.

Sebagaimana tradisi peninggalan leluhur yang lain, kebiasaan penegasan syahadat setelah selesai tarawih inipun tentunya mempunyai pesan moral yang luhur. Paling tidak syair yang dilantunkan tersebut merupakan pengikraran kembali dua kalimat syahadat yang merupakan identitas manusia muslim. Di dalam setiap pelaksaanaan sholat, kita tentu juga membaca dua kalimat syahadat tersebut pada saat tasyahud. Namun demikian bukankah bacaan tersebut tidak dilafalkan secara keras atau hanya dibaca syiir saja. Oleh karena itu secara otomatis, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita menjadi jarang melafalkan secara keras ucapan syahadat tersebut. Dan kebanyakan dari kita paling banter menucapkan syahadat secara keras pada saat menghadap penghulu. Inipun paling banter juga sekali dalam seumur hidup, meski beberapa diantara kita bisa juga menghadap penghulu beberapa kali.

Intinya adalah bahwa kita diingatkan kembali akan tujuan pengabdian hidup kita hanya kepada Allah. Dengan pengucapan beserta artinya, diharapkan kalimat tersebut mampu lebih meresap ke lubuk sanubari, hingga mampu memberikan sentuhan ruhani dalam setiap dada dan jiwa setiap insan. Kemudian dengan terpatrinya kalimat syahadat dalam hati secara kuat, diharapkan akan menjadi sumber dari segala sumber perbuatan yang baik dengan dilandasi sikap keimanan dan ketaqwaan hanya semata-mata kepada Allah. Ujungnya adalah agar setiap perbuatan kita senantiasa dalam rangka ketauhidan kepada Allah. Dengan demikian akan terbentuk pribadi muslim yang kuat iman dan Islamnya, serta berakhlak mulia dalam rangka menggapai kebahagiaan fi dunya wal akhirat.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Maneges Syahadat Selepas Tarawih

  1. ivanpurnawan berkata:

    Dengan jumlah rakaat yang sama, hingga saat ini hanya satu Musholla saja yang memakainya di kampung Seneng Banyurojo, tempat dimana sang pengomen ini tinggal. Lainnya masih setia dengan 23 rakaat. Namun semuanya boleh dan memiliki dalil, hanya saja dalam rangkain pelaksanaannya untuk 11 rakaat sekarang ini mengalami kemajuan tak hanya 4 rakaat-4 rakaat dengan 3 witir layaknya kanuragan yang biasa di pakai mereka para jebolan PDM Mc Donald (Baca : sebut saja demikian biar lebih nyaman).

    Untuk tahun ini para imam dan jamaah sesekali melaksanakannya dengan formasi 2 rakaat-2 rakaat dengan 3 witir. Tentunya tanpa Maneges Syahadat, karena tak terbiasa dengannya (kecuali dahulu kala). Namun tentang bagaimana hukumnya, wallohu’alam… monggo di kaji lebih lanjut, dan saya tidak memakainya meskipun bapak, emak dan keluarga masih nikmat melafadzkannya. 🙂

    Suka

    • sang nanang berkata:

      “Namun tentang bagaimana hukumnya, wallohu’alam… monggo di kaji lebih lanjut”
      Sedari awal tulisan ini menyampaikan, hal itu hanya sebuah tradisi, tidak ada seorangpun yang menyatakan bahwa itu merupakan bagian rangkaian ibadah yang wajib dan harus dilakukan serta dosa jika tidak dilakukan. Tradisi itupun dilakukan di luar rukun sholat, so what wrong? Bahkan setelah sholat, beolpun tidak dilarang to? Lha sekrang kita punya tradisi online, berinternet ria, hukumnya apa? Tradisi jangan hanya diartikan kepada hal-hal yang diproduk di masa lalu oleh para nenek moyang. Manusia modernpun banyak menciptakan tradisi baru yang kita tidak pernah kita pertanyakan hukumnya, karena memang konteksnya di luar ibadah mahdzoh dan memiliki kemanfaatan serta kemaslakhatan to?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s