Ramadhan Bulan Ujian


Ramadhan tahun ini tengah menapaki paruh waktunya. Lihatlah langit di tengah malam. Sang rembulan akan hadir penuh  keteduhan cahaya temaramnya. Ibarat penggalan akhir tembang Lir-ilir yang dicipta Kanjeng Sunan Kalijaga, mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, yo soraka sorak hiyo. Mumpung Ramadhan. Mumpung pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Mumpung setan dibelenggu sekencang-kencangnya. Isilah Ramadhan dengan sebanyak-banyaknya amalan ibadah.

Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah. Sepuluh hari pertama penuh dengan rahmat Allah, sepuluh hari yang kedua penuh dengan maghfirah Tuhan, serta sepuluh hari di penghujungnya merupakan saat pembebasan manusia dari siksa api neraka jahanam, itqum minannar. Di samping itu, banyak ulama dan ustadz dalam setiap ceramahnya juga seringkali mengingatkan bahwa bulan Ramadhan menjadi istimewa diantaranya karena dilipatgandakannya pahala setiap amalan ibadah yang di lakukan kaum muslimin pada bulan ini. Setiap amalan wajib akan diganjar pahala tujuh puluh hingga tujuh ratus kali nilai kebajikan dibandingkan di luar bulan Ramadhan. Demikian halnya untuk amalan sunnah akan dihitung sebagaimana pahala amalan wajib di bulan lain.

Betapa Maha Pemurahnya Gusti Allah. Ramadhan adalah bulan obral pahala, diskon besar-besaran Rahman dan Rahiim-Nya. Bahkan Allah SWT masih memberikan super mega bonus kepada siapapun ummat Islam yang mendapatkan kemuliaan lailatul qadar, malam mulia yang lebih mulia daripada seribu bulan. Maka benar kiranya jika Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban bulannya Rasulullah, sedangkan Ramadhan menjadi bulannya ummat Kanjeng Nabi Muhammad SAW, ya kita-kita ini.

Jikalau ummat-ummat Islam sebelum masa kenabian Muhammad SAW, mereka ummat Nuh, Ibrahim, Musa, Sulaiman, hingga Isa diberikan umur lebih panjang sebagai kesempatan untuk beramal ibadah dalam masa  yang lebih lama, maka ummat Muhammad yang rata-rata berumur lebih pendek justru diberikan kesempatan menjumpai keistimewaan lailatul qadar. Inilah bukti betapa Maha Adilnya Allah SWT.

Sebagain besar diantara ummat Islam tentu saja sangat menyadari betapa tipisnya iman dan ketaqwaan di dalam diri dan jiwa kita. Jangankan berkelimpahan amal ibadah dan akhlakul karimah, diri kita senantiasa dilumuri oleh tindak kemunkaran, kemunafikan, dan seribu satu jenis kejahatan duniawi. Manusia lebih bergelimang dosa dibandingkan pahala. Tentu saja hal ini sangat manusiawi. Tetapi kemudian apa yang kita lakukan jikalau Tuhan kemudian memberikan kesempatan pertaubatan massal dengan kemurahan obral dan diskon pahalanya di bulan Ramadhan ini? Apakah kita akan mengambil kesempatan emas ini untuk beribadah sebanyak-banyaknya, ataukah kita tetap acuh tak acuh ataupun cuek dengan panggilan-Nya tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting untuk kita renungkan. Fakta di berbagai masjid-masjid kita saat ini justru semakin mengalami “kemajuan” shaf-shaf tarawihnya. Lantunan jamaah yang bertadarus Qur’anpun semakin lemah. Padahal Ramadhan baru berjalan sepertiganya! Padahal obral pahala itu belum selesai! Padahal masih akan datang lailatul qadar! Apa yang terjadi dengan ummat Islam, khususnya di negeri kita ini?

Di mimbar kultum, khutbah jumat, ataupun pengajian para penceramah seringkali menyatakan bahwa Ramadhan adalah bulan latihan untuk menggembleng ummat Islam, melandasi hati dan jiwa dengan iman taqwa melalui berbagai amalan ibadah, sebagai bekal menjalani sebelas bulan yang lain. Rumusan itu memang logis dan benar. Bagaimana kaitannya dengan bulan penuh bonus pahala tadi? Bagaimana mungkin setelah memiliki bekal yang diperoleh di bulan Ramadhan, ibadah kita seringkali merosot lagi beriring dengan datangnya Syawal yang semestinya berarti “peningkatan”?

Jika bulan Ramadhan adalah bulan latihan dan penggemblengan, ibarat seorang petani, maka Ramadhan adalah bulan berlatih cocok tanam. Adapun sebelas bulan yang lain adalah bulan bagi manusia untuk menanam. Lalu kapan saat panenannya? Jika kita telaah lebih dalam, bahwa Ramadhan, Syawal, Dulqoidah, Dzulhijah, Muharram, dan seterusnya hingga Ramadhan kembali adalah sebuah rangkaian siklus kehidupan. Maka sejatinya sepanjang hidup manusia di alam dunia ini ya isinya adalah latihan beribadah dan beribadah itu sendiri. Beribadah tidak mengenal batasan waktu dan umur. Sepanjang hayat dikandung badan, maka sepanjang itu pulalah manusia harus senantiasa beribadah. Nikmat dan dampak positif manusia yang taat beribadah tentu saja dapat dirasakan semenjak ia menjalani kehidupan di dunia ini. Ada yang berwujud ketentraman hati, kelapangan jiwa, kelimpahan rejeki, keberkahan harta benda, keshalehan pasangan hidup, kedamaian keluarga, dan lain sebagainya.

Pemikiran di atas memang benar, tetapi apakah dapat menjelaskan semakin sepinya masjid kita, suasana ibadah kita, lingkungan sosial budaya kita di saat Ramadhan berjalan menuju puncaknya? Andaikan kita mengambil sudut pandang yang lain, bagaimana jika Ramadhan kita anggap sebagai bulan ujian. Sebelas bulan di luar Ramadhan anggap saja sebagai bulan latihan. Dengan cara pandang ini, maka di luar Ramadhan kita tetap berusaha istiqomah untuk beramal ibadah. Sikap istiqomah dalam beribadah inilah yang kita jadikan landasan, dasar, dan pembelajaran untuk menyambut kemuliaan berkah Ramadhan.

Memasuki Ramadhan, dengan landasan iman yang dihasilkan dari sikap istiqomah tadi, kita siap memasuki masa ujian dan pendadaran untuk mengukur apakah kita layak meraih predikat peningkatan ketaqwaan sebagaimana maksud diperintahkannya puasa. Ramadhan sebagai masa ujian yang beriringan dengan bulan mega bonus pahala, tentu akan kita maknai untuk lebih ketat beristiqomah mengisinya dengan amalan ibadah dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan pada saat latihan di bulan yang lain. Kita tentu saja khawatir jika kita berleha-leha, terlena, bahkan  semakin malas mengisi Ramadhan dengan ibadah, maka kita tentu saja tidak akan lulus ujian. Rugi besar jika Ramadhan lewat begitu saja! Tanpa makna, tanpa ibadah yang berarti. Bukankah begitu?

Bayangkan jika Ramadhan adalah bulan latihan dan penggemblengan, sedangkan kita tidak memiliki landasan sikap istiqomah ibadah di bulan-bulan sebelumnya! Biasanya tidak puasa di siang hari, kini diperintahkan untuk berlapar-lapar dan haus. Biasanya malam asyik diisi dengan nonton tivi, kini harus melaksanakan sholat tarawih. Biasanya tidak tadarus, kini kita paksakan diri untuk nderes Qur’an, dan lain sebagainya. Di awal-awal bulan bisa jadi kita semangat dan masih enerjik. Segala hal yang masih baru, biasanya kita memang mudah gumunan dan yak-yak’a, bersikap sok atau berlebihan. Namun hari-hari selanjutnya, tetapkah kita mampu menjaga stamina jiwa dan raga kita? Jika tidak, mungkin amalan sunnah kita pelan tapi pasti ya rontok dan bubar di tengah jalan. Tarawih kendor, tadarus macet, qiyamul lail bubar, dan mungkin yang tersisa ya tinggal puasanya karena hukumnya wajib. Manusia kini memang lebih sering nasdem, panas adem dalam menjalani sesuatu yang memerlukan konsistensi dalam rentang waktu yang panjang.

Hal yang berbeda jika kita menjalani Ramadhan sebagai sebuah proses ujian. Jika kita lulus menjalani ujian Ramadhan, maka kita akan naik ke kelas tingkat taqwa yang lebih tinggi. Sebagaimana anak sekolahan, maka kita akan duduk di bangku kelas yang lebih tinggi. Di bangku yang baru itupun kemudian kita belajar lagi sepanjang tahun untuk kemudian menjalani ujian lagi di Ramadhan yang datang berikutnya. Demikian seterusnya dan dari waktu ke waktu, sepanjang umur kita akan senantiasa terjadi peningkatan rasa iman dan ketaqwaan kita. Ramadhanpun semoga akan senantiasa semarak oleh amalan ibadah kita yang semakin meningkat intensitas dan kualitasnya hingga mencapai puncaknya. Dengan cara demikian, yakinlah dunia akan menjadi semakin baik oleh cahaya akhakul karimah dari kaum muslimin sebagai hasil proses ujian bulan Ramadhan.

Ngisor Blimbing, 21 Juli 2013

Kaligrafi dari sini.

Gambar diambil dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s