Oase Bersama Jusuf Kalla


Saron1 Demung Saron2

Sore selepas Ashar itu kulangkahkan kaki di seputaran pusat pusaran negeri ini. Niat hati ingin sekedar singgah di Istiqlal, Masjid Negara kita. Memasuki gerbang sisi utara, nampak kerumunan banyak orang di sekitar pelataran utara masjid. Dengan sedikit rasa penasaran dan segumpal pertanyaan di dada, sayapun melangkah menuju keramaian tersebut. Sedikit lebih dekat, nampak ada dua orang bule mbak-mbak duduk bersila di hadapan sepasang saron diantara seorang lelaki yang menghadapi demung. Tepat di barisan belakang mereka, terdapat tiga orang lelaki dengan perangkat perkusinya, ada drum dan bedug.

JK1Di telinga terdengar semakin jelas seseorang sedang berkata-kata. Dari nada bicaranya dapat ditebak ia sedang menjawab wawancara. Suara yang termasuk saya kenal itu tak lain dan tak bukan adalah suara H. Mubarok, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal atau BPPMI. Ia secara runtut menjelaskan mengenai beraneka ragam agenda kegiatan ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan tahun ini. Ada sholat tarawih, tadarus Al Qur’an, kuliah Subuh, kursus baca tulis Al Qur’an, penyediaan takjilan, pelayanan zakat, infaq dan shodaqoh, i’tikaf, hingga persiapan malam takbiran dan pelaksanaan sholat Idhul Fitri. Di penghujung penjelasannya disampaikan bahwa untuk operasional semua agenda kegiatan tersebut dibutuhkan dana tidak kurang dari 2 Milyar rupiah. Semua pembiayaan tersebut berasal dari sumbangan infak dan shodaqoh dari jamaah semuanya.

Tak lama berselang, rombongan orang-orang yang diwawancara itupun turun dari lantai dua pintu masuk As Salam menuju ke selasar di depan pintu masuk. Ternyata ada sosok yang sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia. Tubuhnya memang lebih kecil dari rata-rata pria kita pada umum, demikian halnya tinggi badannya. Ia, lelaki berkumis tipis memakai peci hitam dengan kemeja lengan panjang berwarna putih yang menjadi kekhasannya. Dialah sosok Jusuf Kalla, mantan wakil presiden yang kini banyak bergelut di bidang sosial kemasyarakatan, mulai dari PMI hingga Dewan Masjid Indonesia.

JK2

Bukan sebuah kesengajaan maupun suatu kebetulan, jika beberapa hari menjelang hari itu kebetulan saya sempat membaca sebuah buku yang berjudul “Jalan Damai ala JK”. Sebuah buku yang disusun oleh Hamid Awaludin, mantan Menkumham dan Duta Besar RI di Rusia. Buku tersebut berisi catatan mengenai peran dan kiprah JK dalam proses rekonsiliasi perdamaian di Poso dan Ambon. Dari buku itu pula tercermin sosok JK yang visioner, tegas, berani mengambil risiko, dan ulung dalam berstrategi.

Dalam buku tersebut terungkap bagaimana kecerdsan dan kejelian JK dalam memediasi dua kelompok yang saling berhadapan sebagai musuh di tengah medan konflik. Konflik yang dipicu masalah agama dan keyakinan merupakan permasalahan yang sangat rumit karena menyangkut keyakinan hidup yang paling asasi dan hakiki. Masing-masing pihak yang berkonflik senantiasa merasa dirinya paling benar atas nama agama, bahkan mereka menjadikan tindakan mereka sebagai jihad, membela agama, dan jika meninggal akan mati syahid dan pasti masuk surga.

Menyikapi keyakinan tersebut, JK justru membalikkan logika pemikiran para pelaku konflik tersebut. Ia secara lantang menegaskan bahwa orang yang berkonflik, baik Islam, Kristen atau agama manapun tidak akan pernah masuk surga. Mereka semua justru akan masuk neraka. Tidak ada satupun agama di dunia ini yang membenarkan ummatnya melakukan tindak kekerasan, pengrusakan, pembakaran apalagi pembunuhan.

Bayangkan akibat dari api konflik yang mereka percikkan, berapa rumah dibakar, berapa tempat ibadah rata dengan tanah, berapa sekolah, ruko, toko, pasar dan sarana umum lainnya yang terbumi hangus oleh amarah dan dendam kesumat. Dimana rakyat akan tinggal dan berteduh? Bagaimana rakyat akan bekerja? Kemana mereka akan mencari penghidupan? Dimana anak-anak harus belajar untuk mempersiapkan masa depan mereka? Konflik tidak pernah membawa kemenangan! Konflik hanya mengantarkan manusia kepada lembah kehancuran, kesengsaraan, dan penderitaan hidup.

JK3Maka  JK yang kala itu menjabat sebagai Menkokesra memberikan tiga tawaran kepada mereka yang berkonflik. Pertama, mereka menghentikan konflik dan berunding untuk damai. Jika tidak mau berunding dan damai, pilihan kedua maka pemerintah akan mempersenjatai dua kubu yang berkonflik untuk saling bertempur dan berkelahi hingga titik darah terakhir. Atau pilihan ketiga, pemerintah melalui aparat keamanan akan menghancurkan kedua belah pihak. Aparat keamanan dengan persenjataan yang yang lebih lengkap, canggih dan serba terlatih tentu bukan pekerjaan sulit untuk menghancurkan para pengacau keamanan. Maka para pimpinan pelaku konflik dari kedua belah pihak memilih untuk berunding dan damai.

Membaca catatan-catatan tersebut, saya jadi baru tersadar dan tahu siapa sebenarnya dibalik peristiwa-peristiwa prestasi perwujudan kedamaian di Poso, Ambon maupun Aceh yang diklaim pemerintah dan sempat menjadi kebanggan menjelang kampanye 2009. Ternyata banyak fakta yang tertutupi, dan hal ini ternyata sangat berkorelasi dengan jalannya pemerintahan di saat ini. Hal ini saya kemukakan jelas bukan dalam rangka urusan politik dan lain sebagainya, tetapi sebagai sebuah refleksi bahwa ternyata pemerintahan kita telah kehilangan sosok tegas dan visioner yang semestinya bisa diandalkan dalam penyelesaian permasalahan bangsa yang semakin ruwet. Harapan kita semua, terkhusus di bulan Ramadhan yang suci ini adalah semoga Indonesia dilimpahi lagi sosok-sosok yang tegas, berani bertindak dan ikhlas dalam memanggul amanat rakyat dalam melaksanakan pembangunan nasional.

Lor Kedhaton, 19 Juli 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s