Demokrasi Hari Ini, “Demokrasi Ndadi”


Demokrasi di negara kita? Akh, semakin kita coba perdalam permenungan dan pemahaman kita tentang makna demokrasi, kok justru semakin sulit kita mempertautkan antara teori dan realitas demokrasi. Jurang kesenjangan teramat dalam dan lebar. Katanya demokrasi bisa mengantarkan rakyat menikmati kesejahteraan dan keadilan, tetapi kenapa justru di negara kita yang katanya demokratis ini harga-harga barang kebutuhan semakin melambung tinggi, lapangan perkejaan kian sulit dicari, pendidikan semakin tak terjangkau oleh rakyat kecil, kesehatan menjadi barang mahal dan hanya bisa dinikmati kaum berada. Apa yang terjadi dengan demokrasi kita?

AnakNegeri

Di masa bangku sekolah dulu, para guru mengajarkan bahwa demokrasi berasal dari bahasa Latin, demos dan cratos. Intinya sebuah pengaturan pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Demokrasi adalah cara, metode, atau jalan untuk mencapai cita-cita negara, yaitu terwujudnya masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Ketika negeri kita terbebas dari belenggu penjajahan kolonialisme, para pendiri bangsa ini memilih model demokrasi yang sengaja kita contek dari dunia barat. Amerika Serikat dianggap sebagai sebagai negara kiblat kita dalam berdemokrasi. Namun sadarkah kita apa yang telah dicapai bangsa kiblat demokrasi tersebut dibandingkan negara kita yang belum genap satu abad ini? Dalam sejarah panjang negeri Paman Sam, mereka belum pernah sakalipun memiliki presiden perempuan! Kita telah berani menetapkan kuota minimal 30 persen anggota legislatif kita diisi perempuan. Apakah mereka seakomodatif sebagaimana bangsa kita dalam mengakomodir isu gender ini? Mereka hanya memiliki dua partai sebagai pelaksana pemerintahan dan satunya berposisi sebagai oposisi. Sementara kita memiliki banyak sekali partai yang patah tumbuh hilang berganti untuk menampung dan menyalurkan aspirasi dari beragam keinginan konstituen. Bukankah lebih ruwet dan kompleks mengatur banyak partai dengan berbagai kepentingan? Tetapi kita mampu hidup dengan “kekacauan-kekacauan” perpolitikan yang di negeri asalnya belum tentu dapat meredamnya!

DamaiArtsDalam diskusi Kenduri Cinta edisi Juli 2013 yang mengangkat tema “Demokrasi Jaran Kepang”, banyak sisi-sisi dan seluk-beluk demokrasi di negara kita yang dicermati secara lebih seksama. Demokrasi kita sekarang ini apakah benar demokrasi yang sesungguhnya? Demokrasi di masa kini mengalami pergeseran-pergeseran makna yang sangat substansial. Demokrasi seolah bukan lagi menjadi cara dan jalan, namun justru demokrasi sudah menjadi tujuan politik dari partai politik dan politikus kita. Kepentingan praktis mereka, justru telah mengkerdilkan makna demokrasi itu sendiri dengan praktik transaksional jual-beli dari tingkat pencalonan caleg, pemilikada hingga pilpres, termasuk proses-proses yang terjadi di gedung parlemen.

Coba kita cermati beragam baliho, spanduk atau iklan-iklan para caleg yang bertengger memenuhi pinggiran kanan-kiri jalan kita? Berani, jujur dan amanah! Ora ngapusi, mboten korupsi! Pro rakyat dan anti kapitalisme! Partainya wong cilik! Demikian kira-kira beberapa cuplikan iklan “ngecap” mereka untuk mendapatkan simpati rakyat pemilih. Apakah benar janji-jani kampanye itu kelak diwujudkan setelah mereka menggenggam kekuasaan politik? Akh, mimpi kali ye!

Karena demokrasi yang kita lakoni sekedar demokrasi transaksional, jangan heran jika seorang caleg menghabiskan milyaran hingga triliunan rupiah sebagai “mahar” posisi incarannya. Gebleknya lagi, di kalangan rakyat pemilih juga mematok tarif. Untuk partai anu cepek! Partai agak bau gopek! Partai yang bau, lebih mahal lagi! Hubungan pengamanahan kekuasaan sebagai alat untuk mensejahterakan dan memajukan bangsa terkerdili dengan transaksional suap-menyuap, sogok-menyogok, politik uang, dan cara-cara kotor yang menghalalkan segala cara. Kita seolah menjadi silau harta dan jabatan duniawi. Kita tengah kehilangan pijakan kesadaran rasionalitas pikir, kesucian nurani dan moralitas. Kita seolah sedang menjalani peran “ndadi”, menjadi sesuatu yang bukan diri kita! Sebuah krisis jati diri yang sudah sampai pada tahap sangat kritis!

BalteIrama

Maka kalkulasi politik di negeri ini adalah bagaimana mengembalikan modal, atau jika bisa meraup keuntungan dari sebuah kedudukan politik. Jangan bicara tentang kepentingan rakyat, kepentingan negara! Semua menjadi tidak lebih penting lagi dibandingkan kepentingan pribadi, golongan, dan partainya masing-masing! Lihat saja bahkan beberapa jabatan politik dipolitisir sedemikan rupa sebagai sumber dana partai. Bukankah semakin banyak modus korupsi oleh para tokoh politik dengan gaya ini yang semakin terungkap?  

Jika jaran kepang ndadi, maka penarinya dengan tanpa kesedarannya seolah mendapatkan “kesaktian” akibat entah kerasukan apa sehingga ia mampu mekan beling, mengupas dan memecah kelapa, minum air kembang, makan kemenyan, bahkan minum minyak tanah dan menyemburkan api, maka para koruptor bisa makan semen, aspal, batu, pasir, kerikil, kayu dan mineral, bahkan manusia memakan sesama manusia. Mereka eksploitasi semua kekayaan alam, bahan tambang, mineral, minyak bumi, gunung, hingga lautan hanya untuk memuaskan syahwat ambisi pribadi, menjadi kaya dan lebih kaya tanpa berpikir apakah hal tersebut menjadi haknya atau justru melanggar hak orang lain, bahkan melawan pranata hukum. Ndadi kita lebih gawat dari ndadinya jarang kepang.

CNMenurut Cak Nun, demokrasi menjadi kehilangan makna sejatinya tatkala dia meninggalkan pijakan sosial budayanya. Di dalam khasanah budaya Jawa atau bangsa Timur, kita mengenal terminologi padi, gabah, beras atau menir, dan nasi. Semua memiliki ketepatan peran dan posisi dalam ruang dan waktu yang paling sesuai. Sementara bangsa Barat, bangsa Eropa, mereka hanya mengenal satu istilah “rice”. Maka jika kita meminta mereka memberikan hidangan makan untuk kita, mereka pasti akan memberikan rice itu tadi. Rice yang mana? Ya, bisa padi, gabah atau beras! Jadi kita harus makan padi, gabah, atau beras? Padahal kita biasa makan nasi, bukan padi, gabah ataupun beras kan?

Demikian halnya dengan demokrasi. Demokrasi adalah padi atau gabah.  Jika bangsa kita ingin menyantap hidangan demokrasi, maka kita harus punya sikap, kebijakan, dan kearifan budaya untuk menumbuk atau menggiling padi atau gabah menjadi beras. Dari beras kitapun harus menanak, mentransformasi nilai demokrasi menjadi sajian nasi yang pulen dan empuk  dalam kadar ke-tanek-an tertentu untuk memenuhi nutrisi tubuh kita. Nah, yang sekarang ini terjadi kan bangsa ini menelan mentah-mentah gabah demokrasi yang ditawarkan oleh dunia Barat. Maka jika manusia Indonesia diberi makan gabah, ya yang terjadi adalah proses “ndadi” sebagaimana penari jaran kepang atau jathilan yang tengah kehilangan kesadaran dirinya itu.

Ndadi bukan bermakna menjadi sesuatu. Ndadi lebih cenderung memiliki arti seolah menjadi sesuatu jadi-jadian. Sebuah tindakan “kepalsuan” jika dikaitkan dengan demokrasi yang kita bahas tadi. Seolah presiden tetapi tidak bersikap dan bertindak sebagaimana mestinya presiden. Presiden yang mestinya bisa menjadi pemimpin dan penggerak seluruh komponen negara, justru sering mengeluh dan curhat kepada rakyat yang dipimpinnya. Hal ini bisa diperluas ke segala bidang kehidupan kita. Seorang ayah yang seharusnya melindugi anak gadisnya, justru memperkosa darah dagingnya sendiri. Anak membunuh orang tua, tetangga merampok tetangganya sendiri, pejabat mengkorup uang rakyat, bagaimana coba? Bayangkan, jika menteri bukan menteri, bupati bukan bupati, guru tidak lagi guru, orang tua tidak lagi menjadi orang tua. Semua ndadi, presiden, para menteri, gubernur, dan bupati juga ndadi. Masyarakat semua ndadi!

BebenJazz

Bisakah demokrasi bangkit dari ndadi? Dapatkah demokrasi yang sejati kita temukan kembali? Satu-satunya jalan adalah setiap komponen anak bangsa ini berusaha kembali menemukan hakekat kesejatian dirinya. Demokrasi, bagaimanapun hanya sekedar alat dan metode untuk mencapai tujuan. Jikapun suatu saat kita memilih untuk menempuh jalan yang lain juga nggak masalah-masalah amat to? Akh, semoga kita masih memiliki harapan itu.

Ngisor Blimbing, 13 Juli 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Demokrasi Hari Ini, “Demokrasi Ndadi”

  1. Bahtiar berkata:

    demokrasi setor rai liwat sepanduk 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s