Ramadhan Bulan Kemunafikan


Ramadhan memang bulan nan suci dan mulia. Dalam waktu satu bulan penuh ummat Islam diberikan peluang untuk lebih mengintensifkan amalan ibadahnya, mensucikan diri dan menggapai kemuliaan. Kesempatan panen pahala menjadi pemacu ummat untuk kembali mengunjungi masjid, sholat tarawih, kembali nderes alias tadarus Qur’an, memperbanyak infaq dan shadaqoh, dan masih banyak lagi amalan sunnah yang lainnya. Kemurahan pahala diberikan oleh Allah dengan pelipatgandaan pahala, bahkan amalan-amalan yang sunnah diberikan ganjaran selayaknya amalan wajib di bulan-bulan yang lainnya.

AttaqwaCirebon

Bagi seorang mukmin yang paham mengenai tuntunan dan berbagai keistimewaan bulan Ramadhan, sudah pasti bulan ini menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Bagi mereka, keseharian yang memang selalu dihiasi dengan aneka ragam ibadah, akan mencapai puncaknya di bulan ini. Maka meskipun di bulan-bulan yang lain mereka telah berusaha konsisten sholat atau istiqomah dalam beribadah, seperti berjamaah sholat di masjid atau mushola, membaca dan mengkaji kitab suci, aktif dalam berbagai majlis ta’lim, termasuk mengamalkan amalan-amalan yang lainnya, kedatangan Ramadhan akan menjadi sebuah anugerah terindah untuk lebih meningkatkan amalan-amalan tersebut. Ramadhan adalah sebuah kesempatan dan ladang emas untuk terus memacu diri menggapai derajat taqwa yang lebih tinggi.

Ummat Islam yang lain, yang di bulan-bulan lain biasanya hanya beribadah ala kadarnya, dengan datangnya Ramadhan juga terpacu untuk lebih giat melakukan ibadah. Ummat yang biasanya jarang beribadah ke masjid, jarang membaca dan mengkaji kitab suci, jarang mengikuti pengajian, dll, di bulan ini serasa memiliki energi untuk mengisi hari  dengan aktivitas full ibadah. Maka betapa Ramadhan membawa sebuah suasana yang berbeda dengan semarak syiar agama yang lebih meriah. Lihat saja bagaimana masjid-masjid menjadi penuh dan ramai oleh jamaah yang ingin melaksanakan sholat tarawih. Jamaah membludak hingga ke serambi, teras, bahkan pelataran dan jalanan lorong-lorong di sekitar masjid.

Masjid yang pada hari –hari biasa hanya sekedar diistilah sebagai “masjid mung geri bangunane”, masjid yang hanya tinggal sebagai sebuah bangunan dan kurang lagi memerankan fungsi strategisnya sebagaimana dicontohkan oleh Kanjeng Nabi, kini nampak “makmur” dengan berbagai aktivitas. Pengajian, kuliah Subuh, ta’jilan, tarawih atau qiyammul lail, tadarusan, juga i’tikaf di masa akhir bulan, menghiasi masjid dan mushola di segenap tanah air. Intinya masjid lebih ramai, lebih hidup, lebih semarak dibandingkan waktu-waktu di bulan selain bulan Ramadhan. Ramadhan memberikan nuansa tersendiri. Nuansa dan suasana yang lebih “religius”.

Tidak hanya masjid, suasana religius juga nampak di pusat perbelanjaan, pasar-pasar, termasuk di media massa kita, seperti tv dan radio. Ramadhan seolah telah menyulap semua orang, berikut lingkungan di sekitarnya menjadi religius. Tengok sejenak tayangan di tv kita. Talkshow, tayangan musik, hingga sinetron, semua mengemas content “religiusitas”. Artis-artis sontak menjadi sosok alim dan “agamis”. Tak kalah meriahnya, acara pengajian menempati porsi waktu yang bertambah. Aneka ustadz dan penceramah mementaskan dakwah dengan berbagai gaya dan kemasan.

Puasa sejatinya adalah menahan melakukan hal-hal yang sebelumnya menjadi keinginan atau sesuatu yang sebelumnya tidak dilarang. Makan, minum, merokok, hingga hubungan suami-istri, di luar waktu puasa dihalalkan. Namun pada saat berpuasa, meskipun halal hal-hal tersebut untuk sementara waktu dari terbit fajar hingga matahari tenggelam “diharamkan”.

Jika berbicara secara jujur dari kedalaman hati nurani, taraf puasa kita sebenarnya baru sekedar belajar untuk menirukan orang yang berpuasa. Puasa yang sesungguhnya adalah mempuasai segala hal yang menurutkan hawa nafsu kita tanpa batasan waktu. Kita baru mulai berpuasa di kala fajar sambil dengan sangat serius mempersiapkan berbuka di kala matahari tenggelam. Sebagian yang lain justru sudah mempersiapkan kebutuhan berbuka untuk anak, cucu, cicit, hingga jangka waktu ke depan yang sangat panjang.

Sementara di luar sana, banyak saudara-saudara kita yang berpuasa di sepanjang hidupnya tanpa pernah tahu kapan dia sampai kepada saat berbuka. Tidak hanya puasa dalam artian makan dan minum, mereka berpuasa dari akses pendidikan yang terjangkau, puasa terhadap sarana pelayanan kesehatan yang murah, puasa terhadap tegaknya hukum dan peraturan,  puasa terhadap hadirnya pemimpin yang amanah dan adil, dan seribu satu macam puasa yang seharusnya di-buka-kan oleh pemerintah dan negara ini.

Maka jika tahapan puasa yang kita jalani masih sebatas menirukan lelaku para pelaku puasa sejati sebatas waktu fajar hingga matahari terbenam, kita hanya bisa berharap semoga melalui pembelajaran ini kita bisa beristiqomah untuk tetap mengamalkan ibadah-ibadah yang pada saat Ramadhan begitu “kekeh” kita laksanakan agar di luar Ramadhan juga bisa menjadi amalan harian kita. Jika di bulan ini kita rajin sholat berjamaah di masjid, maka setelah ini kitapun harus berusaha untuk tetap mengamalkannya. Jika di bulan ini kita rajin bertadarus Al Qur’an, maka setelah ini kita harus tetap bertahanan melakukannya.

Ramadhan datang untuk menggembleng kita. Ramadhan bukan sebuah tren sesaat yang hampa makna. Jika saat Ramadhan seolah kita mendapat hidayah petunjuk-Nya, maka petunjuk itu harus juga dipertahankan di luar Ramadhan. Jika kita hanya ikut-ikutan dalam beramal ibadah di bulan suci ini, terlebih hanya merasa malu terhadap orang lain, menjaga image, apalagi jika ada maksud kepentingan duniawi sesaat, maka kita sebenarnya telah terjebak dalam kepalsuan. Kepalsuan-kepalsuan yang kita lakukan atas nama agama justru merupakan sebuah bahaya peradaban manusia yang sangat serius.  Kepalsuan menjerumuskan manusia ke lembah kebohongan, keingkaran dan pengkhianatan. Jika demikian yang terjadi, justru Ramadhan telah kita jadikan sebagai bulan kemunafikan!

Selagi Ramadhan baru dimulai, marilah kita luruskan niat untuk tidak terjebak dalam kemunafikan dengan baju ibadah dan agama, tetapi segala amal ibadah hendaknya diniatkan dalam rangka menggapai ridho Allah SWT.

Lor Kedhaton, 10 juli 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Ramadhan Bulan Kemunafikan

  1. Bahtiar berkata:

    Reblogged this on penikmat : sepeda, kereta listrik, dan angkot and commented:
    must read !

    Suka

  2. undercover berkata:

    emangnya merokok di luar waktu puasa dihalalkan?

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Konteks kalimat terkait dengan merokok adalah bahwa merokok dapat membatalkan puasa jika dilakukan pada saat seseorang tengah menjalankan puasa.
      Terkait isu rokok halal atau haram, memang tidak ada permufakatan atau fatwa yang bulat tentang rokok. Ada kalangan yang menghalalkan ada juga yang mengharamkan. Namun tulisan ini tidak dalam konteks pembahasan hal tersebut. Demikian, terima kasih berkenan mampir….

      Suka

  3. Lee Shin berkata:

    setuju mas….bulan ramadhan harus menggembleng kita dan tetap istiqomah di bulan-bulan berikutnya. matur nuwun dah njawil….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s