Nyadran Dusun Tanggul Angin


Nyadran konon kata berasal dari istilah Sansekerta sradha. Sradha dapat diartikan sebagai suatu prosesi penghormatan terhadap roh nenek moyang. Kitab Negara Kertagama pertama kali mengisahkan pelaksanaan upacara sradha oleh Ratu Tribuana Tunggadewi, raja ke tiga Majapahit, untuk memberikan penghormatan kepada arwah Ramanda Diah Sanggramawijaya dan ketiga ibu prameswari.

Setelah era Islam Demak, para wali mengadopsi istilah sradha menjadi nyradha dalam konteks birul walidain, mendoakan arwah para leluhur yang telah meninggal. Maka nyradha kemudian dibumikan dalam bahasa Jawa menjadi nyadran, dan pelaksanaannya dipaskan dengan bulan Arwah atau Ruwah. Bulan Ruwah, atau dalam bahasa Arab disebut Sya’ban, merupakan bulan persiapan untuk memasuki rangkaian ibadah Ramadhan.

Diriwayatkan oleh Kanjeng Nabi bahwasanya salah satu amalan yang tidak akan terputus pahalanya meskipun seseorang sudah meninggal adalah doa anak yang sholeh kepada orang tuanya. Dengan demikian dalam rangka pengamalan sunnah tersebut, upacara nyadran menjadi bermakna ritual. Deso mowo cara, negara mowo tata. Begitu pula halnya dengan nyadran, dari desa ke dusun muncul berbagai corak dan ragam pelaksanaan nyadran.

Tanggul Angin bukan berarti benteng tinggi untuk menghalau angin, karena jelas anginpun tak dapat dijaring. Tanggul Angin jelas juga bukan tolak angin pengusir masuk angin. Pun Tanggul Angin juga bukan Saepi Angin, ajian pamungkasnya si Kethek Putih Hanuman. Tanggul Angin adalah sebuah dusun terpencil di wilayah sudut Kecamatan Secang Magelang.

Berada di tengah alam yang perawan dan asri menjadikan Tanggul Angin memiliki tradisi dengan mowo coronya sendiri. Nilai kearifan lokal sebagai pusaka warisan para sesepuh masih diuri-uri, dijaga kelestariannya. Dan salah satu nilai itu adalah tradisi nyadran.

Nyadran di Desa Tanggul Angin biasa dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 20 Sya’ban setiap tahunnya. Sebagaimana adat kebiasaan yang telah berlangsung, acara diadakan di jalan masuk makam trah Tanggul Angin.

Mulai terbit fajar telah datang merayap, para peziarah dengan bawaan bakul dan tenong(rantang) yang berisi daharan  sak ubo rampe-nya. Nasi, sayur, ayam ingkung, bakmi, sayur kentang atau krecek merupakan menu yang telah dipersiapkan sejak jago kluruk pertama terdengar dini hari.

Kebanyakan diantara para hadirin terdiri atas kaum laki-laki. Beberapa kaum ibu memang datang, namun bisa dihitung dengan jari. Adapun anak-anak, baik laki maupun perempuan ada yang sengaja diajak orang tuanya untuk memperkenalkan tradisi leluhur. Tidak kurang dari seratusan orang memadati sepanjang jalan makam.

Setelah dirasa segenap warga hadir,  acara inti diawali dengan tahlilan bersama yang dipimpin oleh Mbah KH Abdulqodir.

Selepas pembacaan tahlil, acara dilanjutkan dengan kembul bujono dengan alas daun pisang utuh yang telah disediakan di tengah kalangan. Nasi putih segera dicecer di tepian daun pisang. Ayam ingkung segera dicuwel, satu per satu dibagi rata. Sayur krecek dan bakmi segera tertebar menyelimuti nasi putih. Kemudian hadirinpun dipersilakan makan bersama. Makan dengan cara demikian merupakan perwujudan semangat kebersamaan, rasa gotong royong dan keguyuban diantara sesama warga. Inilah harta karun paling berharga yang diwariskan para pendahulu bangsa kepada anak cucunya. Mangan ora mangan sing penting kumpul.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Nyadran Dusun Tanggul Angin

  1. Ikhsan berkata:

    Kalo di tempatku dusun gejiwan, krasak, salaman. Nyadran tiap hari minggu di minggu pertama bulan ruwah,
    Sampeyan masih trah tanggul angin jg mas?

    Suka

  2. mysukmana berkata:

    klo didaerahku mas, klo nyadarn di kuburan. orang-orang pada doain mbah2 dan keluarga yang udah meninggal…btw kangen makan bareng-bareng diatas daun pisang tuh.photonya bikin mupeng 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s