Kereta Tua Sisa Sejarah di Museum Perhubungan


MusHub1

Salah satu anak kandung revolusi industri yang mendorong terjadinya percepatan modernisasi adalah teknologi transportasi atau perhubungan.  Pasca penemuan mesin uap oleh James Watt pada akhir abad XIX, salah alat transportasi massal yang menggunakan tenaga dari mesin uap adalah kereta api. Lokomotif atau mesin kereta uap membangkitkan uap dari air dengan pemanasan menggunakan bahan bakar kayu maupun batu bara. Air yang ditampung dalam bejana besar akan mengalami pendidihan dan penguapan setelah melampaui suhu 1000C. Uap bertekanan tinggi disalurkan melalui katup-katup untuk menggerakkan poros dan engkel mesin yang selanjutnya dikopel ke roda-roda besi yang menjalankan gerbong-gerbong.

Kereta uap dalam bahasa Belanda disebut spoor. Lidah masyarakat Jawa kemudian lebih familiar dengan sepur. Dari kata sepur ini, timbul othak-athik gathuk jarwa dhosok yang mengartikan sepur sebagai asepe metu ndhuwur. Maksudnya, sebuah kereta uap atau kereta api pada saat memanaskan air untuk menghasilkan uap, melakukan pembakaran kayu atau batu bara. Dari proses pembakaran ini, di samping dibangkitkan panas, juga terdapat produk sisa pembakaran berupa asap hitam. Asap hitam yang mengepul melalui lubang uap di atas lokomif inilah yang disebut “asep”, dan karena keluarnya selalu ke arah atas, maka dikatakan asepe metu ndhuwur tadi.

MusHub8Perkembangan perkeretaapian di Nusantara sudah dimulai semenjak dibukanya Jalur Jalan Raya Pos Anyer – Penarukan pada masa pemerintahan Willem Herman Daendels. Pasca Perang Diponegoro (1825-1830) diberlakukanlah sistem tanam paksa atau Cultur Stelsel di masa Gubernur Jenderal Baro van Den Bosh. Sistem penjajahan tradisional bertransisi kepada sistem modern dalam artian mulai mengalirnya modal-modal asing untuk membuka perkebunan-perkebunan besar, seperti kopi, teh, tebu, tembakau, nilai dan komoditas lain yang kemudian menjadikan negeri Hindia Belanda sebagai produsen produk pertanian dan perkebunan yang terkemuka di dunia. Untuk memperlancar pengangkutan hasil pertanian itulah mulai giat dibangun jalur kereta api. Inilah awal tanda-tanda munculnya “kemakmuran” setelah pulau Jawa memakai “ sabuk besi” sebagaimana pernah diramalkan dalam Jangka Jayabaya yang banyak dipercaya oleh nenek moyang kita.

Kini masa kejayaan kereta api sudah berlalu. Generasi muda dan anak-anak yang lahir kemudian, tentu saja sudah tidak lagi menjumpai adanya angkutan kereta api uap. Kereta tua dengan lokomotif tua dan lengkingan peluit uapnya hanya tersisa beberapa saja sebagai media wisata seperti Kereta Jaladara yang terdapat di Solo maupun sebuah loko tua di Ambarawa. Namun kemanakah bekas lokomotif-lokomotif tua itu kini berada?

MusHub3Sebagian dari sisa-sisa kejayaan kereta api uap, khususnya yang berupa mesin lokomotif bekas masih bisa kita jumpai di museum. Museum kereta api terbesar adalah Museum Kereta Api Ambarawa yang menempati area bekas stasiun setempat. Di samping itu, generasi masa kini juga dapat menikmati eksotika kereta api tua di area Taman Mini Indonesia Indah, tepatnya di kompleks Museum Perhubungan.

Museum Perhubungan sebenarnya secara lebih luas merupakan media pembelajaran untuk semua moda transportasi, baik darat, air, maupun udara. Dengan penataan tata ruang yang memadukan keasrian alam dengan keberadaan rel yang mengelilingi kompleks museum sesungguhnya menjadi daya tarik yang dapat memacu rasa ingin tahu, khususnya pada anak-anak. Dengan rasa ingin tahu itulah sebenarnya anak-anak dapat belajar lebih dalam untuk mengeksplorasi ilmu, pengetahuan dan teknologi yang berkaitan langsung dengan sarana dan prasarana transportasi.

Salah satu hal yang paling istimewa di area museum ini adalah keberadaan bangsal kereta api yang memajang deretan mesin lokomotif tua yang pernah merajai pulau Jawa. Berbagai macam ukuran, bentuk, model dan jenis lokomotif melengkapi bangsal ini. Deretan yang berjajar rapi sungguh merupakan sebuah penggambaran hiruk pikuk keramaian sebuah stasiun di masa lalu. Bangsal ini digambarkan sebagai kembaran stasiun Willem I atau yang lebih dikenal sebagai stasiun Ambarawa.

MusHub5 MusHub2

Dua jalur rel yang menjelujur sejajar benar-benar menggambarkan sebuah perlintasan rel kereta api yang seolah tidak mengenal ujung dan pangkal. Bahkan salah satu diantara jalur rel tersebut menembus sebuah terowongan yang tepat berada di bawah pintu gerbang Museum Perhubungan. Di samping deretan mesin loko-loko tua, terdapat pula sebuah lokomotif bermesin disel yang sudah merupakan perkembangan lebih lanjut setelah era kereta uap. Kereta disel tersebut menempati salah satu jalur di sisi kiri jalur masuk museum.

Ada pula sebuah prasarana yang sangat menarik bagi anak-anak. Sarana ini dulunya sangat penting dalam sistem operasional perkeretaapian di area depo ataupun stasiun kereta api. Sebuah kolam berbentuk lingkaran yang senantiasa kering dari air, di bagian tengahnya terdapat lajur rel yang membentang sepanjang diameter lingkaran kolam tersebut. Tepat di atas rel, bertengger dua buah lokomotif yang saling membelangaki satu sama lain. Sarana ini yang dikenal anak-anak melalui serial Thomas dan temannya sebagai kolam pelangsiran lokomotif.

MusHub6Langsiran ini di masa lalu berguna untuk memutar arah sebuah lokomotif yang dilepaskan dari rangkaian gerbong-gerbongnya. Pada saat sebuah lokomotif akan dilangsir, loko tersebut akan ditempatkan di jalur rel di tengah kolam langsiran tersebut. Sejurus kemudian, rel tersebut akan diputar menurut arah jalur rel yang diinginkan dengan mengacu kepada titik poros yang terletak tepat di tengah atau pusat kolam langsiran.

Kereta teristimewa yang terdapat di area ini adalah kereta api kepresidenan yang masih lengkap, berupa lokomotif dengan rangkaian empat gerbongnya. Kereta inilah yang di masa revolusi mengantarkan Presiden Soekarno dan jajaran menterinya pada saat mereka berkunjung ke daerah. Hal inilah yang menjadikan museum ini menyimpan banyak nilai sejarah dalam perkembangan eksistensi Republik Indonesia.

Berkunjung ke Museum Perhubungan, khususnya di bangsal kereta apinya akan mengantarkan pengunjung ke nuansa masa lalu, serba jadul alias jaman dulu. Suasana khas dan klasik inilah yang menjadikan beberapa calon pasangan pengantin mengabadikan momentum pre-wedding mereka di sela-sela jalur rel dan deretan lokomotif tua di museum ini.

MusHub7Harga tiket masuk yang sangat murah, hanya Rp. 2.000,- sesungguhnya dapat menjadi daya tarik pengunjung TMII untuk mampir singgah di musuem ini. Sebuah harga yang sangat murah untuk suatu mutiara ilmu dan pengetahuan yang dapat diajarkan kepada anak-anak kita. Namun demikian, beberapa kali sempat dolan ke museum ini, kami senantiasa menjumpai suasana yang sunyi senyap, alias sepi pengunjung. Sudut museum ini mungkin hanya dikunjungi oleh kalangan wisatawan minat khusus ataupun wisatawan yang berkantong terbatas. Sungguh patut disayangkan. Maka jika Anda berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah, jangan lupa mampirlah di Museum Perhubungan untuk lebih mengamati secara lebih seksama sejarah masa lalu perkereta-apian di negara kita.

Ngisor Blimbing, 25 Juni 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Kereta Tua Sisa Sejarah di Museum Perhubungan

  1. Bahtiar berkata:

    Wah,
    kudu diparani iki 🙂

    Suka

  2. Hari Restumu berkata:

    Sebaiknya kereta api uap masa lalu dijadikan obyek wisata kuno karena dengan adanya obyek wisata kuno kereta api uap akan menambah devisa negara jika yang naik adalah Tourist asing yang ingin mengenang masa jaya nenek moyang mereka

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Sayangnya sebagian lokomotif tua yang ada sudah rusak dan tidak dapat dioperasikan lagi mas Hari. Di beberapa tempat, seperti Ambarawa, Surakarta, juga Bukittinggi ada loko tua yang dioperasikan untuk wisatawan. Akan tetapi biaya operasional sangat tinggi, sehingga harga tiketnya juga jadi mahal. Mungkin perlu promosi lebih optimal untuk menjaring turis asing yang mendatangkan devisa mas…

      Suka

  3. sulistiani berkata:

    sangat menarik membawa anak2 kesini,, karena koleksi lokomotifnya lumayan banyak… tapi sayang lokomotifnya udah gk bisa beroperasi yah

    Suka

    • sang nanang berkata:

      kini lokomotif kereta uap yang kadang-kdang masih dijalankan tinggal yang di museum Ambarawa serta kereta Jaladara di Surakarta

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s