Juara dan Piala Semu


Tropi1Menjadi juara dari sebuah lomba atau pertandingan yang kita ikuti? Tentu saja sangat membanggakan dan menjadi dambaan bagi setiap peserta suatu kejuaraan. Penghargaan atau pengakuan sebuah prestasi atau kemampuan yang selama ini ditekuni adalah sebuah anugerah yang indah. Kerja keras, disiplin, konsistensi dalam menekuni sesuatu, seakan terbayarkan dengan prestasi tersebut. Sebuah pembuktian perjalanan panjang yang tidak sia-sia.

Yang namanya lomba, kejuaraan, kompetisi, turnamen, hingga olimpiade saat ini sudah menjamur dengan aneka tema dalam berbagai bidang. Lihat saja lomba mewarnai, menggambar, menari, deklamasi, menyanyi, hingga berbagai olah raga, termasuk aneka warna game untuk anak-anak dari usia balita hingga remaja. Anak-anak di masa sekarang termasuk beruntung dengan banyaknya digelar aneka lomba tersebut.

Beberapa dekade lalu boleh dibilang masih sangat sedikit lomba-lomba yang dilaksanakan. Untuk anak usia sekolah, mungkin hanya jenis perlombaan yang digelar dalam rangka Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni) menjelang Agustusan yang dikenal. Jadi sangat bisa dibayangkan masih sangat terbatasnya ajang untuk memupuk, dan menunjukkan prestasi seorang anak semenjak usia dini. Perlombaan merupakan sarana dan wadah untuk mengembangkan minat, bakat dan prestasi anak-anak kita.

Jaman memang sudah berubah sedemikian cepat dan pesatnya. Aneka lomba dengan berbagai media yang semakin modern dapat dijumpai setiap saat. Kesadaran manusia sekarang di samping merasa perlunya sebuah perlombaan atau pertandingan untuk memupuk minat, bakat ataupun hobi, ada juga dorongan sifat narsisme manusia yang ingin selalu tampil untuk mendapatkan eksistensi dan pangakuan keberadaan dirinya di mata orang lain. Maka jangan heran jika jenis lomba-lomba sekarang sangat beragam, mulai dari hal yang sangat sepele, tidak serius, hingga lomba olimpiade ilmiah di bidang Fisika dan Matematika. 

Jika kita sempat mengamati dengan cermat pada saat bertamu atau singgah di rumah teman, rekan, ataupun saudara, adakah pernah melihat tropi ataupun piala yang terpajang rapi di ruang tamu? Kadang tidak hanya satu, namun berderet-deret, lengkap dengan piagam dan foto ditata sedemikian indahnya. Saya jadi membayangkan dan mbatin dalam hati, alangkah pandainya anak-anak sekarang! Banyak berbagai prestasi sudah mereka torehkan semenjak usia belia. Kesempatan lomba memang lebih banyak di masa sekarang. Hal-hal yang sekecil apapun bisa diperlombakan untuk mendorong anak-anak berprestasi. Alangkah beruntungnya anak-anak kita!

Namun suatu ketika saya mendapati sebuah kenyataan yang membuat saya mempertanyakan, bahkan ngelus dada merasa prihatin dengan piala-piala itu. Apa pasalnya?

Begini sedulur, suatu ketika anak saya yang masih duduk di TK Kecil mendapat undangan untuk acara wisuda dan pelepasan kakak-kakak kelasnya yang telah menyelesaikan masa studi pra sekolahnya untuk segera memasuki bangku sekolah dasar. Bersamaan undangan tersebut, disampaikanlah rincian biaya yang harus dibayarkan oleh setiap wali siswa berkenaan dengan kegiatan tersebut. Nah, mata saya sempat terbelalak. Saya membaca pada sebuah baris ada rincian mengenai tropi dan sertifikat lomba mewarnai, juara satu sekian rupiah, juara ke dua sekian rupiah, juara ke tiga sekian rupiah, harapan satu, harapan dua, harapan tiga bla….bla….bla! Lho kok? Apakah untuk bisa memiliki tropi dan piagam juara, anak kita bisa membelinya dari sekolah? Apakah hal ini hanya sebuah kasustik kecil, atau jangan-jangan sudah gebyah uyah dan menjadi fenomena umum dimana-mana ya?

Tropi2

Tidak tahu mengapa, tetapi kok nurani ini serasa ingin berontak mendapati kenyataan sederhana itu. Beberapa kali sempat berbagi cerita tersebut dengan rekan dan kawan yang memiliki anak usia sebaya, ternyata merekapun mengalami hal yang serupa. Ada yang merasa hal itu sebagai sebuah kewajaran. bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa hal itu untuk memupuk kebanggaan dan kepercayaan diri si anak. Bahkan ada yang menganggap hal tersebut adalah sebuah kebanggan bagi para orang tua. Welha dalah! Namun masih ada juga yang merasa prihatin dengan kepalsuan tersebut.

Saya menjadi tidak habis pikir! Sebuah prestasi keunggulan sang juara yang kemudian diwujudkan dalam penghargaan berupa tropi ataupun sertifikat, adalah sebuah hasil kerja keras yang tidak main-main sekecil apapun skala sebuah kejuaraan atau lomba. Menang dan kalah dalam sebuah kompetisi adalah hal yang lumrah.

Bagi si pemenang, predikat juara adalah sebuah penghargaan atas prestasi yang diraih dengan penuh kerja keras yang dilandasi semangat sportivitas. Predikat itupun akan memupuk rasa percaya diri yang tinggi dan menambah semangat untuk meningkatkan prestasi yang lebih tinggi lagi. Demikian halnya bagi peserta yang belum berkesempatan menjadi juara, sebuah kejuaraan akan menjadi pelajaran berharga bagi si anak untuk lebih meningkatkan belajar, latihan, dan kedisiplinannya. Dari sebuah kejuaraan juga seorang anak diajarkan mengenal rasa sportivitas, bahwa para juara berhasil mendapatkan piala karena mereka lebih rajin, lebih giat, disiplin dan kerja keras dalam mempersiapkan perlombaan. Maka pelajaran terpenting adalah bagaimana meneladani mereka untuk meningkatkan prestasi di masa depan.

Dalam sebuah kejuaraan juga ada pembelajaran mengenai kejujuran. Mencapai suatu tujuan harus dilakukan dalam koridor ketentuan peraturan dan rambu-rambu yang telah disepakati bersama. Obyektivitas dalam sebuah lomba akan hadir manakala semua pihak yang terlibat, baik peserta, penilai ataupun juri, bahkan penonton semuanya menjunjun tinggi kejujuran. Inilah pembelajaran yang sangat penting!

Nah, bagaimana mungkin kepalsuan dan kebohongan kini sudah diajarkan oleh para guru, bahkan pada tingkat pendidikan yang paling-paling dasar? Ataukah tropi berderet dan piagam akan menjadi kehilangan makna “kesakralannya” dan hanya menjadi sebuah produk kebohongan bersama. Atau jangan-jangan masalah ini sudah “dibisniskan” oleh sekolah-sekolah kita, untuk membangun gengsi, prestise, bahkan kebanggan semu nan palsu? Bagaimana mungkin pendidikan kita mampu menghasilkan generasi berkualitas dan berakhlak mulia, jika mereka justru telah diajarkan tentang kebohongan berjamaah? Ah, semoga itu semua hanya menjadi kegelisahan saya yang tidak beralasan dan moga fenomena ini hanya sebatas yang saya temui saja. Saya yakin masih banyak anomali kejujuran di lingkar masyarakat kita.

Ngisor Blimbing, 23 Juni 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Juara dan Piala Semu

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Padahal dulu yg namanya status juara dari sebuah kompetisi itu punya nilai sangat tinggi, bahkan bisa buat tambahan nilai masuk sekolah paporit. (juara dewasa malah bisa sebagai jalan masuk jadi pegawe negeri)… Tapi kalau sekarang, pengakuan juara pun bisa dibeli, trophi bisa dicari, semuanya hanya demi sesuatu bernama gengsi….

    Oalah, jan pendidikan generasi Platinum ki selot maju, tapi selot akeh sing palsu,

    Suka

  2. Utroq Trieha berkata:

    Hemm, hihii….
    Mengenai “piala” yang dikatakan sebagai “tanda penghargaan” jadi teringat bahwa acapkali saya menggarisbawahi “Tak semua penghargaan wajib untuk di hargai..!” Entah itu anak kecil atau presiden sekalipun.

    Ikhwal tema dari tulisan kang Nanang di atas,
    Ada yang membuat saya kembali tertunduk lesu melihat sistem pendidikan negeri ini. Anak didik hanya dicetak berdasarkan nilai dan angka, sama sekali bukan lagi bakat ataupun kemampuan.
    Bukan pada “dasar angka”nya yang salah. Namun lebih pada patokan pendidikan itu sendiri. Arahnya mau kemana…?
    Apa iya nek wis bijine kabeh 7 trus njamin bakal dadi jalma kang migunani lan manpangati marang kemajuan menungsa…?
    Kenapa gak sedari dini lebih mementingkan pada “pencarian bakat” ketimbang mematok ketentuan “syarat minimal angka kelulusan” pada sebuah jenjang pendidikan…?
    Nuwun kang

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Setuju banget pendapat sampeyan Mas Tri,
      Setiap anak manusia memiliki katurangggan (sifat, minat, bakat, potensi dll) yang unik dan khas masing-masing. Tugas dunia pendidikan sebenarnya adalah “niteni” katuranggan tersebut, dan memberikan arahan utk mengembangkannya lebih optimal, sehingga kelak mereka bisa benar-benar menjadi “manusia” yang manusiawi.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s