City of Makassar


Tak lebih enam bulan berselang setelah pelaksanaan Kopdar Blogger Nusantara yang mengantarkan saya menginjakkan kaki di Bhumi Anging Mamiri pertama kali, saya kembali berkesempatan diperjalankan ke Kota Makassar. Makassar merupakan kota dengan pertumbuhan paling pesat di Kawasan Timur Indonesia, sehingga dengan peranan dan posisinya yang sangat strategis tersebut menjadikan Makassar sebagai pusat perkembangan dan pertumbuhan pembangunan, mulai dari sektor ekonomi, pariwisata, pendidikan, hingga kelautan dan kemaritiman.

Losari1

Menurut catatan sejarah, Makassar berkembang dari kelanjutan Kerajaan Gowa. Pada masa Raja Gowa VI, kerajaan dipecah menjadi dua untuk diwariskan kepada dua orang pangeran putra raja. Masing-masing menjadi Raja Gowa VII dan Raja Tallo I. Di masa Raja Gowa X terjadi penyatuan kembali dua kerajaan kembar tersebut menjadi Kerajaan Gowa-Tallo. Hasil penyatuan tersebut kemudian dikenal sebagai Kerajaan Makassar. Raja Gowa X menjadi Raja Makassar, sedangkan Raja Tallo memangku jabatan sebagai Mangku Bumi atau perdana menteri.

Makassar berkembang sebagai pelabuhan utama semenjak bangsa-bangsa barat menjelajah bumi timur Indonesia untuk memburu rempah-rempah hingga di Kepulauan Maluku. Selain sebagai pelabuhan transit sebelum ataupun sesudah kapal-kapal armada dagang Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis, menuju Maluku, Makassar juga menjadi ibukota pemerintahan Kerajaan Makassar. Oleh karena itu, untuk memperkuat pertahanan dan keamanan, kerajaan membangun benteng pertahanan di kawasan Jungpandang yang memiliki bentuk kura-kura atau penyu raksasa.

Islam mulai masuk ke Makassar pada masa pemerintahan Raja Alauddin, sebagai raja Makassar yang memakai gelar sultan untuk pertama kali. Keturunan Alauddin yang paling masyur adalah Sultan Hasanuddin. Hasanudin terkenal sangat gigih melakukan perlawanan terhadapan Kompeni VOC yang memaksakan praktik monopoli atas komoditas hasil bumi dan rempah-rempah yang sangat penting bagi perekonomian Makassar. Atas peranan Arupalaka dari Kerajaan Bone yang pada waktu itu mendukung Kompeni, Hasanuddin dipaksa takhluk dan menandatangi Perjanjian Bongaya. Maka sepeninggalnya, tidak ada lagi raja yang termasyur dan melawan Belanda dengan gigih sebagaimana sang Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

Losari4 Losari3

Makassar merupakan kota besar dengan perpaduan penduduk yang terdiri atas suku Makassar, Bugis, Mandar, Toraja, Jawa, dan China. Sebagai kota pelabuhan penting, hingga kinipun Makassar tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pantainya di sepanjang sisi pesisir Selat Makassar. Tidak mengherankan pula, jika pembangunan beragam pusat ekonomi, perdagangan dan pariwisata di sepanjang pantai kini juga tumbuh dengan pesat. Anda semua bisa melihat kawasan dari titik pantai Arkarena, Trans Studio, Rumah Sakit Siloam, Masjid Apung, Pantai Losari, Sombaopu, Benteng Fort Rotterdam, Kawasan Lampu Merah, hingga pelabuhan laut Soekarno-Hatta.

Khusus di garis kawasan Pantai Losari, pada saat Kang Sowoeng mengantarkan saya dan Henri berjalan ria di sela acara Kopdar Blogger Nusantara tahun lalu, beberapa bagian masih tertutup rapat dengan pagar seng yang menandakan masih berlangsungnya proyek pembangunan. Kawasan Losari merupakan pantai yang ditata menjadi titik area ruang publik dan kawasan wisata. Konon dulunya kawasan ini kurang tertata dan menjadi garis pantai yang kurang terjaga kebersihannya. Seiring dengan visi pengembangan kepariwisataan Pemerintahan Kota Makassar, reklamasi dan penataan dilakukan untuk menjadikan kawasan ini sebagai spot wisata yang menarik.

Losari2

Losari merupakan salah satu landmark Kota Makassar yang sangat terkenal. Tulisan balok besi berwarna putih setinggi satu meter memberi petunjuk bagi siapapun mengenai keberadaan Pantai Losari. Para pengunjung, baik lokal maupun luar kota seringkali bergaya dan mengambil foto di depan tulisan tersebut mengabadikan kenjungannya ke kawasan pantai yang hampir selalu ramai pengunjung semenjak pagi hari hingga tengah malam ini.

Kini perluasaan penataan di sisi selatan Pantai Losari telah selesai dilakukan. Hal ini menambah panjang garis pantai Losari hingga mencapai 1 km lebih. Menambah keindahan semburat warna lembayung matahari yang menjelang pulang, berdiri dengan anggung Masjid Apung. Penataan tempat parkir bagi kendaraan pengunjungpun menempati area yang cukup luas dengan penataan nan rapi menjadikan pengunjung mendapatkan kesan keamanaan yang terjamin. Di samping landmark dengan latar tulisan “PANTAI LOSARI” kini juga terdapat tulisan landmark dengan huruf-huruf berwarna merah dengan tulisan “CITY OF MAKASSAR”. Ada pula tulisan yang menunjukkan keberadaan dua suku utama penduduk di Kota Makassar, yaitu Makassar dan Bugis.

MasjidApung1 MasjidApung2

Beberapa ornamen penataan ruang terbuka yang memberikan ciri khas Makassar secara khusus, maupun kekayaan budaya Sulawesi Selatan juga menghiasi beberapa titik. Memasuki pintu gerbang masuk di sisi jalur parkiran kendaraan, pengunjung langsung akan menjumpai patung beberapa lelaki kekar nan trampil yang tengah memainkan bola yang terbuat dari anyaman rotan. Dengan pakaian khas adat dan ikat kepala runcingnya, mereka tengah asyik menarikan tarian pangkarena. Ada pula berdiri menjulang penggalan layar kapal Pinisi yang termasyur menjelajah samudera nan luas semenjak dari jaman nenek moyang kita memang para pelaut ulung.

Apa yang dapat kita nikmati di Kawasan Pantai Losari? Datang di Losari pada pagi haripun kita akan disambut dengan suasana pantai yang diwarnai kicauan burung camar yang mengawali hari-harinya. Terlebih di hari minggu, di kawasan ini senantiasa diadakan acara Car Freeday. Sebagian besar masyarakat Makassar akan tumpah ke kawasan ini untuk sekedar bersantai, berolah raga ringan, jongging, sepeda gembira, hingga senam aerobik secara massal. Di momentum inilah, masyarakat bersatu padu dalam kegembiraan bersama. Acara semacam ini memang sangat penting untuk mendekatkan hati diantara elemen masyarakat dan berbagai komunitas.

Losari5

Siang hingga senja menjelang, pantai inipun senantiasa penuh dengan pengunjung. Anda bisa mengunjungi Masjid Apung, berkeliling menikmati pemandangan laut, atau bisa juga turut menyewa perahu untuk bercengkrama dengan hempasan air laut mengelilingi area pantai. Bagi yang gemar berwisata kuliner khas Makassar, Anda dapat menemukan pisang epek, saraba, hingga coto dan conro Makassar. Duduk bersantai sambil menikmati tenggelamnya sang mentari di kala senja dengan ditemani hidangan pisang epek bertabur parutan keju atau siraman kental coklat akan menjadi sebuah sensasi tersendiri yang tidak akan pernah terlupakan. Ingin ke Makassar, singgahlah di Kawasan Losari!

Ngisor Blimbing, 15 Juni 2013

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s