Leadership 3.0: Kepemimpinan Tanpa Mahkota


SBYNegara kita adalah Negara yang kaya raya. Siapa yang menyangsikan itu? Padi, jagung, segala macam jenis palawija dan sayur-mayur dapat tumbuh subur di bumi Nusantara. Aneka jenis pepohonan unggul, mulai dari jati, ulin, mahoni, sonokeling, pinuspun menjadi jajaran barisan hijau yang tidak hanya menyejukkan anak negeri, bahkan juga diakui menjadi paru-paru dunia yang berkontribusi mensuplai oksigen dunia. Belum lagi bicara tentang kandungan tambang dan mineral di permukaan hungga kedalaman bumi. Pun termasuk kekayaaan lautan kita yang maha luas dengan terumbu karang terindahnya, dengan aneka jenis ikan dan binatang laut yang merupakan sumber daya yang sangat potensial untuk dapat memberikan kemakmuran bagi seluruh tumpah darah Indonesia.

Nusantara. Sebuah negeri yang apanjang-punjung wukir, gemah ripah loh jinawi. Tata, titi, tentrem kerta raharja. Urip kang sarwa tinandur. Gambaran kemakmuran sebuah negeri Nusantara dari Ki Dalang yang mengisahkan betapa Nusantara adalah negeri yang subur makmur oleh tebaran abu vulkanik gunung berapi yang menjadi pupuk alamiah bagi pertanian kita. Dengan anugerah kesuburan itulah segala jenis macam tanaman dapat ditumbuhkembangkan di negeri kita. Kesuburan dapat menjadi penjamin tercapainya kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang tenang, damai, dan tentram dalam tingkat kesejahteraan yang tercukupi.

Namun benarkah negeri Nusantara di hadapan kita hari ini adalah sebuah negeri sebagaimana dimetaforakan Ki Dalang tadi? Secara jujur kita mungkin hanya berkomentar, jauh panggang daripada api. Negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam, dengan keanekaragaman kekayaan sosial budaya, dengan manusia-manusia sejati yang memiliki potensi daya kreasi dan inovasi tinggi justru terpuruk pada kondisi krisis multidimensional yang kian tak berujung. Apa persoalannya?

Beberapa pakar menyatakan bahwa negeri yang kaya raya namun tidak mampu memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyatnya disebabkan karena kesalahan manajemen. Ketidaktepatan pengelolaan semua potensi sumber daya tersebut. Dalam bahasa lebih lugas negeri ini mengalami salah urus. Lebih spesifik kita seolah kehilangan kepemimpinan nasional yang bisa meyakinkan rakyat bahwa kita adalah sebuah keluarga besar dalam satu ikatan tanah air, bangsa dan bahasa sebagaimana diikrarkan para pemuda di dalam Sumpang Pemudanya 85 tahun silam. Negara bahkan seolah berjalan tanpa pimpinan yang berwibawa dan berpengaruh. Sebuah Negara autopilot!

Dalam kondisi krisis multidimensional seperti sekarang ini, seperti apakah pemimpin yang kita dambakan untuk dapat membangkitkan negeri yang terpuruk? Apakah memang benar kita membutuhkan hadirnya sang satrio piningit? Satrio piningit merupakan penggambaran sosok pemimpin ideal yang terampil dalam segala hal permasalahan, sehingga ia mampu memberikan resep-resep, formulasi-formulasi, format dan program untuk membangun negeri besar ini. Apakah itu saja cukup?

Kompleksitas sisi sosioantropologis manusia Indonesia, nampaknya kualifikasi seorang satrio piningit saja belum cukup. Kita memerlukan seorang satrio piningit plus. Seorang satrio piningit yang sinisihan wahyu. Seseorang yang memiliki segala macam kualifikasi ilmu kepemimpinan yang telah dirumuskan banyak ahli ilmu kepemimpinan namun juga mendapatkan “mandat” langsung dari Tuhan. Kualifikasi yang terakhir ini mungkin memang sulit diukur, namun bagi semua rakyat yang masih memiliki kesucian nurani tentu sangat bisa merasakannya. Seorang pemimpin yang sinisihan wahyu akan memiliki pancaran aura kewibawaan dan kharisma yang mampu mempengaruhi dan menggerakkan rakyat untuk bersatu padu dalam membangun negeri.

Menarik membandingkan konsep pemimpin satrio piningit sinisihan wahyu dengan teori seni kepemimpinan horizontal untuk semua orang yang pernah dituangkan dalam buku Leadership 3.0 terbitan MarkPlus Institute tahun 2012 lalu. Dalam buku tersebut diperkenalkan teori kepemimpinan dalam jenjang Leadership 1.0; Leadership 2.0; dan Leadership 3.0. Apa maksud dari masing-masing tipikal kepemimpinan tersebut?

Leadership2Leadership 1.0 merupakan jenis kepemimpinan yang sifatnya diwariskan, diterima tanpa kerja keras dan perjuangan. Karena leluhur memiliki kekuasaan, baik secara politik maupun ekonomi, maka orang-orang “ di bawah” pun menuruti segala perintah dan permintaan sang pemimpin baik secara sukarela ataupu melalui paksaaan. Pengaruh kepemimpinan hadir atau muncul dengan “meminjam” nama besar para leluhurnya. Tipologi kepemimpinan jenis ini dapat dicontohkan dalam kepemimpinan trah kerajaan maupun “kerajaan” bisnis yang dipimpim secara turun-temurun antar generasi “trah” darah tertentu.

Sedangkan Leadership 2.0 adalah kepemimpinan yang didasarkan kepada gelar atau title, serta jabatan dalam suatu struktur kekuasaan tertentu. Orang-orang mengikuti pemimpin tipe ini karena mereka adalah para pelaksana, baik secara sukarela maupun karena keterpaksaan. Pemimpin 2.0 berposisi sebagai penentu dan pengambil kebijakan strategis. Pengaruh sang pemimpin muncul dari posisi jabatan pada struktur kekuasaan yang didudukinya.

Berbeda dengan Leadership 1.0 dan Leadership 2.0, Leadership 3.0 merupakan kepemimpinan yang didasarkan kepada kemampuan seseorang untuk menggerakkan orang lain di sekitarnya. Secara sukarela, tanpa paksaaan, orang-orang tersebut taat dan patuh dalam mengikuti setiap kebijakan atau kehendak sang pemimpin. Pengaruh kepemimpinan yang kuat muncul dari kualitas diri yang memancarkan kharisma internal yang ditunjukkannya. Pemimpin tipe ini tidak harus mewarisi kekuasaan secara turun-temurun ataupun memiliki jabatan dan posisi strategis dalam suatu struktur kekuasaan.  Merekapun sama sekali tidak mengandalkan title dan jabatan sama sekali. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak menggenggam kekuasaan namun bisa menjadi pemimpin? Apa kuncinya?

Stephen J. Samson (2011), seorang psikolog dan pionir Social Intelligence Skills, menyebutkan ada enam aspek yang mendukung kehadiran seorang Leadership 3.0., yaitu aspek physicality, intellectuality, emotionality, sociability, personability, dan moralability. Aspek physicality terkait dengan hal-hal fisik yang akan mempengaruhi persepsi orang lain tentang kemampuan kepemimpinan seseorang. Meskipun berada di bagian “permukaan”, aspek ini tetap tidak dapat diabaikan sama sekali. Aspek intellectuality terkait dengan kemampuan seorang pemimpin dalam mengelola cara piker sehingga bisa memberikan pengaruh yang lebih efektif kepada orang lain. Aspek ini berkaitan erat dengan kepandaian seseorang yang seringkali direpresentasikan dalam nilai IQ.

Aspek emotionality berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, baik emosi pribadi maupun orang lain sehingga dapat lebih mengoptimalkan pengaruh kepada orang lain. Bagaimana dengan aspek sociability? Aspek sociablity berhubungan dengan kemampauan untuk membangun jaringan social sebagai modal dasar dalam melebarkan pengaruh yang dimilikinya.

Adapun aspek personability, merupakan salah satu aspek yang menjadi pondasi sebuah kepemimpinan yang berkaitan dengan kesadaran tentang hakikat diri serta visi-misi pribadi yang akan diemban, diperjuangkan dan disebarluaskan kepada orang lain. Terakhir, tetapi tidak kalah penting, aspek morability. Aspek ini menjadi pondari sebuah kepemimpinan yang paling penting karena berkaitan dengan kesadaran kemampuan untuk menjaga integritas moral untuk dapat memberikan pengaruh kepada orang lain secara lebih berkelanjutan dan berjangka panjang.

Kembali kepada persoalan krisis kepemimpinan yang tengah melilit bangsa ini, pemimpin tipologi manakah yang kita perlukan? Jika kita kembali mengingat pilar berdirinya Negara kita, ada unsur pemerintah atau birokrat sebagai eksekutor program pembangunan, tentara sebagai pengawal keadulatan Negara, ulama dan kaum agamawan sebagai penjaga moral, para budayawan sebagai penegak peradaban, para bangsawan sebagai pemberi wakaf tanah dan kekuasaan, maka kita jelas-jelas memerlukan ketiga tipologi kepemimpinan dalam ranah bidang pengabdiannya masing-masing. Untuk level pimpinan nasional, alangkah lebih baiknya hadir presiden yang merupakan kombinasi Leadership 2.0 dan 3.0, syukur-syukur lengkap dengan Leadership 1.0.

Jika agama telah mengajarkan bahwa setiap diri kita adalah pemimpin, minimal pemimpin rumah tangga atau pemimpin bagi diri sendiri. Oleh karena itu laksanakanlah kepemimpinan kita di wilayah masing-masing secara amanah dan penuh rasa tanggung jawab. Ingat bahwa nantinya setiap manusia akan dipertanyakan pertanggungjawabannya atas kepemimpinan yang pernah dilaksanakanya.

Lor Kedhaton, 12 Juni 2012

Foto SBY diambil dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Leadership 3.0: Kepemimpinan Tanpa Mahkota

  1. randi berkata:

    Jokowi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s