Kata Tanpa Makna


KangSobariDalam salah satu sesi  acara Kenduri Cinta edisi Juni 2013 yang digelar di pelataran Taman Ismail Marzuki malam itu, hadirin langsung tersenyum simpul saat melihat Mohammad Sobari merapat ke muka panggung. Dia memang bukan seorang pelawak, namun perawakannya yang gembul bin gendut bulat laksana tubuh tambun Kiai Semar Bodronoyo dalam kisah pewayangan khas Tanah Jawa selalu nampak lucu dan memancing untuk turut tertawa riang seolah tengah menemukan suatu kegembiraan yang tiada tara.

Menanggapi kupasan mengenai puisi dan syair-syair karya cipta Sutardji Calzoum Bachri yang rata-rata seolah hanya merupakan permainan bunyi kata-kata, sehingga seolah kata-kata menjadi hilang maknanya menjadi kata-kata tanpa makna, ia mengajak para hadirin untuk mulai malam itu tidak saling mempercayai satu sama lain. “Mari kita tidak saling percaya malam ini,” tegasnya ringan. Jika kemudian kata-kata yang kita ucapkan setiap hari dan setiap saat itu dimanipulasi, disamarkan, bahkan didustakan dan diingkari sehingga yang putih tidak lagi menjadi putih, yang merah tidak lagi merah, untuk apa sesuatu diucapkan.

Jika negara tidak lagi dapat melindungi dan mensejahterakan rakyatnya, jika seorang presiden tidak lagi dapat amanah menjalankan tugas-tugasnya dalam melayani rakyatnya, jika rakyat kebanyakan yang semestinya mengeluhkan permasalahannya kepada pemerintah namun kemudian yang terjadi adalah justru pejabat di pucuk pemerintahan yang lebih sering mengeluh dan sambat kepada rakyatnya, buat apa ada negara, buat apa ada pemerintahan, buat apa? Apakah kata sudah sedemikian tanpa makna?

“Mari kita tidak saling percaya malam ini,” ujar Pak Sobary, “Apa gunanya percaya pada saya, wong kepada Tuhan saja nggak percaya. Jangan baca buku-buku saya! Bukunya Gusti Allah saja nggak dibaca. Dan kalau dibaca, semakin dibaca malah semakin munafik.”

“Wolak-waliking jaman itu momentum ketika kita percaya kepada orang-orang yang disebut beragama; padahal ternyata dia yang paling duluan mengkhianati agama. Agama bukan lagi dijadikan kritik sosial tapi justru dijadikan alat pengkultusan bagi para pelakunya. Saya agak keberatan ahli agama disebut sebagai rohaniwan. Memangnya orang ke masjid itu pasti berurusan sama rohani? Belum tentu!”

“Sekarang ini pemimpin tak mau dikritik, misalnya dalam soal penghargaan kemarin. Menurut saya itu lebih tepat disebut sebagai hadiah, karena penghargaan itu diberikan kepada mereka yang berharga, berkarya, dan berjasa. Dalam hal yang disebutkan pada penghargaan itu, harga nol, karya nol dan jasa nol. Jadi lebih tepatnya disebut sebagai hadiah saja.”

“Ada yang membuatkan jalan menuju hadiah itu, mereka menjilat-jilat. Padahal harga itu adanya di dalam hati. Kalau Anda menghargai saya, tidak akan mengubah kanjeng yang di dalam hati saya. Kalau Anda mengharapkan datangnya suatu balasan atas jasa yang tak pernah Anda lakukan, berarti Anda sudah memasuki kehidupan yang gelap banget.”

Dari uraian Kang Sobari tersebut, Cak Nun kemudian menguraika poin-poin penting. “Ma’rifat adalah wilayah yang ditembus oleh seorang arif. Bahasa Jawanya pamrikso. Sebenarnya artinya ‘tahu’, sama dengan alim (orang yang mengetahui). Bedanya, alim itu di wilayah pengetahuan, sementara arif di wilayah ilmu. Majlis taklim tidak akan menghasilkan ma’rifat-ma’rifat, karena hanya berurusan dengan pengetahuan. Dan orang yang tahu belum tentu mau, orang yang mau belum tentu bisa, orang yang bisa belum tentu diperkenankan, dan orang yang diperkenankan belum tentu kabul.”

“Jadi kalau disebut ma’rifat, maka namanya majlis ta’rif bukan majlis ta’lim. InsyaAllah Kenduri Cinta ini adalah majlis ta’rif meskipun di tengah ta’rif itu dibutuhkan ta’lim juga.”

“Pak Sobary ini lahir di Jogja Selatan, di daerah yang sekarang namanya Bantul. Sesungguhnya dulu namanya daerah Mangiran. Di situ dulu ada anaknya Brawijaya nomor 43 yang bernama Ki Ageng Mangir. Kalau Anda pergi ke Bantul, di situ ada kuburan Panembahan Bodho. Panembahan Bodho ini punya anak turun namanya Sobary. Panembahan Bodho ini anak nomor 2 dari 117 anak Prabu Brawijaya V. Ini saya mohon maaf kepada Pak Ikra dari Bali, Pak Sutardji dari Riau, Beliau punya alur sendiri untuk memahami Indonesia. Saya mau pakai alur Jawa lima abad. Sebab yang diomongkan Sobary akan berkaitan dengan Indonesia harus disusun kembali.”

“Panembahan Bodho adalah panglima perang Majapahit yang terakhir, kemudian diboyong Sunan Kalijaga menjadi panglima perang Kerajaan Demak di daerah Glagahwangi. Kemudian 2 tahun dia pensiun dini, dia merasa bersalah telah membunuh bapaknya Sunan Kudus yang namanya Sunan Ngudung. Pembunuhan itu sudah dimaafkan oleh Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga; bahka pembunuhan itu menjadi pemicu perdamaian dan kebersamaan pada seluruh yang terlibat di dalam transformasi dari Kerajaan Majapahit ke Demak.”

“Yang menyebut Panembahan Bodho adalah dirinya sendiri. Dan tidak ada orang yang tingkat ma’rifatnya melebihi orang yang sanggup menyebut dirinya sendiri Panembahan Bodho.  Beliau waskitha. Wahyu itu maksudnya Allah bertajalli, Allah mewujudkan Diri-Nya pada rojulun mulham, orang yang menerima ilham. Allah bertajalli pada setiap orang. Tidak ada orang yang orisinal, karena setiap orang adalah wadah bagi tajalli Allah. Setiap orang dibimbing melalui gelombang yang memancar di atas ubun-ubunnya.”

IanBert

“Sobary pada tahun-tahun terakhir adalah orang yang sangat mencari, dan dia sudah menjadi Panembahan Bodho sekarang, orang yang sudah menertawakan masa lalunya, menertawakan kebesaran-kebesaran yang pernah dia capai, orang yang sudah melihat dunia sangat kecil di dalam genggamannya. Dia adalah Panembahan Bodho seri II.”

“Untuk pelajaran keindonesiaan, waktu itu yang menjadi pemimpin adalah Ki Ageng Mangir; Mangir Wonoboyo II. Wonoboyo ini cucunya Brawijaya dari anaknya yang jadi Ki Ageng Gunungkidul. Jadi anaknya Brawijaya ini dibagi menjadi Kupang sampai Denpasar, Sulawesi, sampai mana-mana, untuk menjalankan prinsip commonwealth, negara persemakmuran.”

“Sejak Gajahmada, kerajaan di Nusantara ini memakai sistem kenegaraan persemakmuran. Jadi kalau ibarat perusahaan, owner seluruh tanah di Jawa adalah Hayam Wuruk. Dia pemegang saham utama, dia rajanya, tapi dia tidak mau menjalankan pemerintahan maka dia mengangkat perdana menteri yang bernama Gajahmada. Gajahmada ini eksekutor, tak punya saham. Dia hanya punya kesetiaan. Dan dia menjadi patih dua kali sebelum Majapahit, plus sekali pada Majapahit. Selama sekian periode, Majapahit melakukan persemakmuran.”

“Bedanya persemakmuran dengan kesatuan apa? saya akan memohon Sobary ke Jogja untuk mengurusi ini, karena ini sangat serius untuk masyarakat Jogja selatan. Dan hanya Sobary yang bisa menyelamatkan karena dia turunan langsung dari Panembahan Bodho, dan berarti merupakan cucu langsung Prabu Brawijaya.”

“Kiai Gringsing itu pengurus asap di Gunung Merapi. Kalau pengurus laharnya Mbah Petruk; pengurus teritorialnya Syekh Jumadil Kubro. Ada kepala-kepala dinas.”

“Indonesia nggak bisa terus seperti ini. SBY itu nggak jelas dia kepala negara atau kepala pemerintahan. Bahkan dia menjadi pemilik Indonesia. Seharusnya, yang memiliki tanah Indonesia adalah rakyat – yang merupakan wakaf dari raja-raja jaman dahulu. Rakyat harus punya dewan negara; dulu disebut MPRS. Mereka punya majlis rendah bernama DPR yang mengurusi  masalah-masalah teknis berpartner dengan eksekutif. Jadi prinsip dari Gajahmada adalah kepala negara tidak boleh menjadi kepala pemerintahan.”

“Dalam prinsip commonwealth ini tidak ada upeti. Persemakmuran ini berlangsung sampai Demak. Bedanya, ketika Majapahit itu masih Hindu-Buddha, maka gelar kepala negara adalah Prabu, kemudian masuk Walisongo, ada transformasi ke Islam, maka gelar berubah menjadi Sultan. Sultan ini sampai Demak; yang terakhir adalah Sultan Hadiwijaya – Mbahnya Gus Dur nomor 13.”

“Begitu pindah ke Mataram, jadilah NKRI karena Mataram sesudah Pajang, yang menjadi raja bukan anak turunnya tapi anak angkatnya Mas Karebet, yaitu Danang Sutowijoyo. Dia menjadi Raja Mataram dan tidak meneruskan persemakmuran. Dia membikin negara kesatuan di mana semua wilayah harus taat sama dia dan harus kirim upeti kepada dia. Maka gelar dia bukan Prabu bukan Sultan, dan dia bingung, malah diberi gelar Panembahan. Di dalam tradisi Jawa tidak ada panembahan sama dengan raja. Panembahan itu spiritualis, tidak ada urusna politik praktis. Maka dimulailah jaman Jawa terpecah konsepnya, kehilangan maknanya mulai Kerajaan Mataram. Singkat kata, Pak Sobary ini orang Mangiran jadi yang mengurusi Mangiran, Bantul, itu adalah adiknya Panembahan Bodho; anak ke-43.”

“Mbahlik-nya Sobary adalah orang yang sangat sakti yang sangat ditakuti Raja Mataram. Ada dua daerah yang rajanya secara pribadi tidak mampu mengalahkan kesaktiannya, yaitu Madiun dan daerahnya Sobary. Maka dua daerah ini tidak bisa disuruh menjadi provinsi dari Mataram. Satu-satunya jalan adalah dengan subversi politik; anaknya disuruh ngamen, disuruh merayu Mbahlik-nya Sobary yaitu Ki Ageng Mangir Wonoboyo II sehingga jatuh cinta kemudian kawin. Begitu diajak sowan ke bapaknya, ternyata adalah Raja Mataram, begitu dia cium lututnya Raja dipukul dengan batu di belakang kepalanya lalu meninggal dunia. Begitu beratnya orang Jawa pada waktu itu untuk mempertahankan persemakmuran. Kalau kamu tidak berubah menjadi persemakmuran, kamu akan terus-menerus rancu seperti ini. Presiden bukan presiden, pemerintah bukan pemerintah, negara dan pemerintah tidak ada bedanya, orang tidak tahu TIM ini milik negara atau pemerintah DKI. Tidak jelas. Mereka menganggap ini milik pemerintah sehingga kalau Gubernur menyampaikan uang kepada rakyat, mereka sebut itu bantuan. Kalau membantu kan harusnya pakai uangnya sendiri. Ini kata tanpa makna lagi.”

“Sekarang masyarakat Mangir, setelah enam abad, tidak berani punya sikap terhadap Mataram. Kalau misalnya kamu dipukul oleh orang, ada tiga kemungkinan yang bisa kamu lakukan. Oke, mungkin tidak berani membalas tapi berani bersikap melarangnya memukul kembali. Apakah orang Indonesia berani membalas penindasan terhadapnya? Apakah berani bersikap? Kalau SBY bersikap terhadap penindasan internasional dia tidak akan mendapat hadiah Nobel dan tidak akan menjadi Sekjen PBB. Karena dia tidak bersikap, taat, maka dia diangkat menjadi negarawan internasional. Kemungkinan ketiga : di dalam hati saya, di dalam pikiran saya, saya harus tetap punya pendapat bahwa dia bersikap dzalim. Yang hilang dari bangsa Indonesia sekarang adalah Anda tidak punya pendapat bahwa Anda sedang didzalimi. Rakyat sudah tidak mengerti bahwa itu tai, dan sudah berpendapat bahwa itu roti. Di KC ini yang kita perjuangkan sederhana kok. Oke, kita tidak bisa menangani Indonesia, atau ketika Anda bersikap melawan penindasan di Indonesia Anda tidak akan dimuat di koran-koran dan televisi, tapi yang dipastikan di KC adalah di dalam pikiran Anda, di dalam hati Anda, Anda punya pendapat dan keyakinan bahwa ini benar, itu salah – dan pendapat ini tak bisa diubah oleh apapun.”

“Sobary sekarang sudah meninggalkan dunia keraton dan sudah menjadi Panembahan Bodho. Kemarin Pak Sobary dan saya berdiskusi serius dengan tokoh Mangir yang sudah kehilangan pendapat bahwa mereka didzalimi oleh Panembahan Senopati karena mereka masih takut pada Sri Sultan X. Saya ingin Pak Sobary ke sana, saya undang orang-orang Mangir ke tempat saya, untuk menyikapi bahwa Mangir itu pahlawan kita. Maka dari dulu saya sudah membuat naskah-naskah drama tentang Mangir. Pokoknya allahuma ainal haqqa haqqa, tidak boleh haqqa bathila, tidak boleh bathila haqqa. Boleh tidak berani bersikap atau membalas, tapi harus tetap berpendapat.”

Ngisor Blimbing, 10 Juni 2013

Reportase lengkap di:

http://kenduricinta.com

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Kata Tanpa Makna

  1. Evi berkata:

    Pak Sobary kalau sudah bicara dalam sekali, selalu bikin otak saya megap-megap untuk memahaminya, Mas Nanang..:)

    Suka

    • sang nanang berkata:

      itulah kekuatan spirit dari seorang Panembahan Bodho jilid II yang tetep menghayati ke-klutuhuk-annya yang dari mBantul itu…

      Suka

  2. Maztrie berkata:

    Meski ulasan dari Kang Sobary dikit tapi cukup membuka wacana…
    Walau ada yang disampaikan oleh Cak Nun masih debatable, tetap menyegarkan pemikiran.

    Makasih banget Kang Nanang untuk ulasannya.
    Dah lama banget gak ke TIM apalagi ngikutin kajian Kenduri Cinta, DI Jogja juga belum kepikiran join macapat Syafa’at je…
    Next kudu join kembali.
    Nuuwn

    Suka

  3. 21INCHS berkata:

    Pak kalau kenduri cinta cak nun di TIM kapan lagi pak?
    mohon infonya ya pak..
    pengen ikutan nonton..

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Kenduri Cinta digelar rutin di TIM setiap bulan, bertepatan Jum’at malam Sabtu Minggu II, mulai pukul 20.00 – selesai
      Untuk Juli 2013, insya Allah tanggal 12….monggo silakan hadir

      Suka

  4. 21INCHS berkata:

    Waah udah puasa dong itu pak..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s