Mengenang Hamid Jabbar


DALAM TIGA BELAS TAHUN KEBERSAMAAN KENDURI CINTA

Tanpa backdrop atau baliho yang memuat tema kendurian sebagaimana Kenduri Cinta biasanya, malam itu balai-balai alias amben di depan hadirin nampak memberikan kesan sedikit kelam dan muram. Tetapi keceriaan para bocah yang mengawali acara dengan lantunan ayat-ayat suci dan sholawat atas Kanjeng Nabi pelan-pelan membuka aura keceriaan berselimutkan nuansa religiositas yang semakin terasa kental menjelang puncak malam. Semenjak sesi pembukaan, Muhammad Sholeh alias si Madura Swasta telah mengajak jamaah untuk mengenangkan beberapa nama perintis dan penggagas Kenduri Cinta. Ada Cak Nun, Bang Jose Rizal Manua, “Presiden Penyair” Sutardji Calzoum Bachri, dan tentu saja nama almarhum “Pahlawan Puisi” Hamid Jabbar.

CN13KC

Lebih dalam mengenai sosok yang terakhir, Hamid Jabbar, apakah Anda mengenalnya? Awal sesi Kenduri Cinta malam itu berusaha mendalami kenangan mengenai sosok penyair yang dijuluki sebagai “Pahlawan Puisi” oleh Sutradji Calzoum Bachri. Tak tanggung-tanggung, bahkan Sutardji dan Jose Rizal Manua pada kendurian itu secara langsung memberikan catatan-catatan pentingnya mengenai sosok Hamid Jabbar.

Hamid Jabbar, dilahirkan di Koto Gadang, Bukittinggi, pada 27 Juli 1949. Selepas menjalani masa kecilnya di Ranah Minang, ia merantau ke Sukabumi, Bandung, dan Jakarta.  Di Bandung ia “nyantrik” atau magang kepada Sutardji yang kala itu menjadi pengasuh Indonesia Ekspress. Dalam keseharian, Hamid Jabbar mengetikkan Credo Puisinya Sutardji yang kala itu dicetak stensil. “Ia orang yang sangat rajin dan tekun”, kenang Sutardji sambil berkaca-kaca. Dan energi itu seolah menjadi daya kreativitas untuk karya puisinya, bahkan cara dia membacakannya di atas pentas.

hamidjabbar

Dalam catatan Jose Rizal Manua, Hamid Jabbar adalah sosok yang sangat religius dan sarat dengan kritik sosial yang sangat tajam kepada penguasa dan kekuasaan yang menindas rakyat. Sebut saja puisinya yang berjudul Astaghfirullah atau Aroma Maut yang menghadirkan realitas sosial kehidupan dan kepasrahan kepada Tuhan. Dalam diri seorang Hamid Jabbar, ia merasa sendiri, sunyi, dan sepi yang membuatnya merasa lemah di hadapan Tuhannya. Tengok juga puisinya Proklamasi 2 yang diproklamasikannya 25 Maret 1992. Ia seolah mendapati masyarakat di lingkungan sekitarnya tengah menikmati “kemerdekaan palsu” yang belum bisa memerdekakan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan penindasan oleh para penguasa yang seharusnya memberikan jaminan kesejahteraan kepadanya. Maka dari itu, ia merasa perlu Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya untuk yang kedua kalinya.

Untuk mendekatkan puisi kepada para pelajar, Hamid Jabbar menginisiasi ide gerakan Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab. Tak lelah dan tak bosan-bosannya, ia dan beberapa rekan penyairnya keluar masuk dari satu sekolah ke sekolah lain untuk bersama-sama mengapresiasi karya puisi. Malam itupun hadirin menikmati suguhan baris-baris puisi karya almarhum Hamid Jabbar yang dibawakan secara apik dan sangat atraktif oleh Jose Rizal Manua dan Sutardji Calzoum Bachri.

SCB JRM

Semakin mencapai puncak malam itu, jamaah Kenduri Cinta semakin dibawa hanyut dalam kenangan mengenai sosok Hamid Jabbar. Hamid Jabbar meninggal di atas pentas pada saat melakukan pembacaan puisi dalam rangka Dies Natalis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, pada 29 Mei 2004. Sebelum membacakan puisinya terakhir kali itu, ia sempat berkata bahwa, “Saya janji, habis membaca puisi saya akan benar-benar pulang”. Ternyata malam itu ia benar-benar menghadap Tuhan untuk selama-lamanya. Kedahsyatan momentum seorang penyair yang meninggal di saat ia tengah membacakan karya emasnya di tengah pementasan yang dikelilingi para penikmatnya adalah sebuah kemewahan yang sangat luar biasa bagi diri seorang penyair. Sebuah momentum kematian yang sangat indah. Sutardji kemudian menjuluki Hamid Jabbar sebagai “Pahlawan Puisi”, adapun Emha Ainun Nadjib mengibaratkan kematian Hamid itu “bak panglima perang yang meninggal di titik pusat medan peperangan”.

CN&SCB&JRM

Jum’at Malam, 7 Juni 2013 yang lalu merupakan momentum yang sangat istimewa bagi sedulur Komunitas Kenduri Cinta Jakarta. Berawal di pertengahan tahun 2000, atas inisiatif para tokoh di atas mulai digelarlah acara Kenduri Cinta. Kenduri Cinta merupakan salah satu simpul lingkaran maiyah anak negeri yang diselenggarakan secara rutin maupun tentatif di beberapa tempat. Berawal dari pengajian Padhang Mbulan di Menturo, lahirlah diantaranya forum Mocopat Syafaat di Jogja, Gambang Syafaat di Semarang, Bangbang Wetan di Surabaya, Paparandeng Ate di Mandar, termasuk Kenduri Cinta di Jakarta.

Menandai kebersamaan perjalanan silaturahmi jamaah di Kenduri Cinta yang telah berlangsung 13 tahun, di sesi akhir acara selepas pembacaan doa dilakukan pemotongan tumpeng secara bergantian oleh Sutardji, Cak Nun, Jose Rizal, Ikranagara, Kang Sobari dan beberapa tokoh lain, yang dilanjutkan dengan kembul bujono oleh semua jamaah yang hadir hingga dini hari tersebut. Jamaah benar-benar menikmati anugerah santapan rohani yang teramat langka di negeri yang tengah dirundung kegalauan hidup ini.

Ngisor Blimbing, 8 Juni 2013

Beberapa referensi pendukung:

  1. http://melayuonline.com

http://asepsambodja.blogspot.com

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Mengenang Hamid Jabbar

  1. infosuporter berkata:

    saya kelingan, pertama kasi saya cangkruk di KC adalah pas 40 hari meninggalnya Hamid Jabar.

    Suka

  2. Utroq Trieha berkata:

    Tigabelas tahun…
    Hemmm… Gak terasa yaaa….
    Ada Kang Sobary lagiiii… Kurang mBah Jiwo Tedjo tuhhh 🙂

    Emha Ainun Nadjib… Selalu ada yang bisa digali dan memunculkan “kecerdasan” untuk selalu bertanya bahkan adu argumentasi… Termasuk pas ke Lapindo sekalipun 🙂
    Thanks Kang Nang

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s