Kemana Lagi Layang-layang Hendak Melayang?


Cempé-cempé undangna barat gedhé, tak opahi banyu tapé.  Apakah sampeyan ingat atau tahu maksud dari kata-kata tersebut. Bukan sembarangan rangkaian kata dan kalimat, ucapan kalimat tersebut sesungguhnya merupakan sebuah “mantra” sakti. Mantra sakti? Akh bercanda kali? Masak nggak tahu to?

Layang2

Saya sendiri hafal bunyi mantra tersebut semenjak jaman masih bocah. Kala itu pada setiap pertengahan musim kemarau menjelang mangsa ketiga, tibalah waktu bagi para bocah dusun untuk nguluke atau ngumbulke layangan. Aneka ragam bentuk layangan tercipta dari daya kreativitas dan ketrampilan para bocah. Ya, anak dusun memang lebih terbiasa membuat layangannya sendiri daripada membeli layangan jadi di warung. Kerangka bilahan bambu tipis, benang, kertas “wajik mbandung”, dan lem merupakan bahan dasar yang tidak terlalu sulit dicari, meskipun kami tinggal di pelosok desa.

Kuambil benang sepasang.
Kuambil buluh sebatang;
Kupotong sama panjang;
Kuraut dan kutimbang dengan benang;
Kujadikan layang-layang;

Bermain berlari;
Bermain layang-layang;
Berlari kubawa ke tanah lapang;
Hatiku riang dan senang.

Syair lagu di atas merupakan sebuah nyanyian para bocah yang sering dikudang-kan oleh Bapak kepada kami anak-anaknya. Sambil menggendong atau menggoyang-goyangkan tubuh kecil kami, Bapak senantiasa mengantarkan tidur kami dengan lagu maupun tetembangan. Lagu bermain layang-layang tersebut termasuk yang sering dinyanyikan Bapak.

Layang5b Layang5a Layang5c

Jika diamati lebih cermat, syair lagu tersebut di samping memberikan gambaran keceriaan para bocah yang bermain atau memainkan layang-layang, sesungguhnya juga berisi petunjuk atau ngelmu menciptakan layang-layang. Dengan ketrampilan tangan yang tidak terlalu sulit untuk dipelajari tersebut, anak-anak dapat memanfaatkan sesuatu yang berada di sekitar lingkungannya untuk membuat sebuah alat permaian.

Perhatikan dengan seksama bagian bait pertama dari syair lagu di atas. Kuambil benang sepasang, buluh sebatang, dan kupotong sama panjang. Kemudian kuraut dan kutimbang kerangka dari bilah bambu tipis untuk selanjutnya dipasangkan kertas dan dijadikan layang-layang. Bukanlah melalui bagian syair ini, anak-anak kita diajari dan diberikan petunjuk serta rumusan bagaimana membuat sebuah layang-layang?

Layang4 Layang1

Selanjutnya pada syair bagian bait kedua diberikan gambaran bagaiman jika seorang bocah tengah berlarian dalam memainkan permainan layangannya. Di kala sang mentari mulai lingsir di sisi barat, anak-anak bergegas menuju tanah lapang. Puluhan kumpulan anak-anak menjadi penguasa tanah lapang. Dengan berharap datangnya angin kencang yang akan menaikkan layangannya, anak-anak secara turun-temurun diajari bagaimana mereka harus memanggil datangnya angin. Ya mantra sakti itulah yang digumamkan anak-anak yang bermain layangan. Cempé-cempé undangna barat gedhé, tak opahi banyu tapé.

Cempé adalah sebutan untuk anak kambing. Tidak begitu jelas kenapa cempé bisa memanggil angin untuk datang. Mungkin rengekan suara cempé yang miris menyayat kalbu itu dapat meruntuhkan keangkuhan Dewa Bayu, sehingga untuk menghibur si cempé didatangkanlah semilir angin yang membawa kesejukan dan kedamaian jiwa. Tetapi bagaimana mungkin si cempé doyan minum air tape? Akh…..mungkin saya terlalu memaksa memaknai setiap kata dengan makna harfiahnya, padahal khususnya bangsa Jawa, sangat kental dalam membuat sebuah perumpaan, simbol dan sanepa pada setiap fenomena kehidupan di dunia ini. Percaya nggak percaya, kami para bocah di kala itu tetap dengan penuh keyakinan menyenandungkan mantra itu sambil berlarian di tanah lapang untuk menerbangkan layangan kami masing-masing.

Layang3

Lain dulu tentu saja lain sekarang. Duren ya duren, roti ya roti. Mbiyen ya mbiyen, saiki ya saiki.  Anak-anak sekarang memang masih ada yang bermain layang-layang. Tidak di kota dan tidak pula di desa, tetap masih ada yang menerbangkannya. Akan tetapi anak-anak yang bermain layangan di jaman modern kini tentu sudah sangat jauh berkurang dibandingkan di masa lalu. Anak-anak kini lebih suka bermain game ala play station, ataupun game online seiring dengan kemajuan peralatan elektronik. Di samping itu, tanah lapang dimana anak-anak bisa bermain riang menerbangkan layang-layang juga sudah semakin menghilang. Tanah lapang telah disulap menjadi pertokoan, super mall, kawasan pabrik, ataupun area perumahan.

Adalah keluarga kecil kami  di Ndalem Ngisor Blimbing yang semakin terpinggirkan dari angkuhnya tembok ibukota, namun masih memiliki sedikit sisi nuansa desa yang masih tersisa meskipun entah sampai kapan. Di pinggiran kampung yang bersinggungan dengan raksasa super mall, anak-anak masih “memiliki” sepetak tanah lapang untuk sekedar bermain layang-layang. Maka jika musim “barat” datang, berbondong-bondonglah para bocah kampung menuju tanah lapang. Meski mereka kini tidak membuat layang-layangnya dengan sentuhan jari dan tangannya sendiri, namun mereka masih memiliki kemewahan bermain layang-layang yang semakin menghilang di tengah kota.

Sebenarnya banyak sisi positif dari kegiatan bermain layang-layang. Si anak akan dilatih sebuah kesabaran untuk menunggu datangnya angin yang akan menaikkan layang-layangnya. Dalam setiap langkah perjalanan hidup, manusia memerlukan momentum yang paling tepat untuk melejitkan prestasi yang mengantarkannya ke puncak kesuksesan. Pun jika angin terlalu kencang, naik-turun, goyang kanan-kiri adalah sesuatu hal yang biasa sebagai sebuah godaan dan rintangan kehidupan. Namun dalam suasana angin seperti apapun, sang pengendali layang-layang harus selalu pandai-pandai angon angin, sebisa mungkin beradaptasi dan menyesuaikan keadaan hidup, tetap tenang dan tidak grusa-grusu (bertindak ceroboh memperburuk keadaan), sehingga tetap lulus menjalani cobaan hidup. Kapan benang harus ditarik dan kapan benang mesti diulur untuk tetap mempertahankan keseimbangan layang-layang jika ingin tetap selamat mengarungi samudera angkasa raya, adalah sebuah lantunan seni kehidupan yang memiliki filosofi yang sangat tinggi.

Layang6

Demikian halnya dengan keberadaan layangan lain yang terkadang selalu menjadi perusuh bagi ketenangan sebuah layangan yang sedang mengudara penuh kedamaian. Dengan menyangkutkan benang, layangan yang lain terkadang menimbulkan gesekan permasalahan yang cukup tajam, bahkan bisa membawa korban. Ada orang baik, tentu saja juga ada orang yang jahat. Orang jahat senantiasa membuat kekeruhan suasana di tengah masyarakat. Melihat tetangganya meraih sebuah kesuksesan, tidak jarang timbul iri, dengki, dan sakit hati mereka. Penyakit hati inilah yang menimbulkan ketidaktentraman masyarakat.

Begitupun dengan benang penali layangan. Benang ibarat pegangan hidup seseorang. Barang siapa memegang pegangan hidup dengan erat dan kencang, sekeras apapun arus angin, bahkan badai yang menerjang ataupun menjadi perintang dan godaan hidup, maka hati akan senantiasa berpegang kepada pegangan hidup. Pegangang hidup itu bisa berupa nilai keimanan, kesabaran, kejujuran, keuletan, kerja keras, disiplin, bahkan pengalaman dan ilmu pengetahuan. Namun jika benang terputus, jika pegangangan hidup seseorang hilang, maka orang tersebut akan seperti sebuah layangan yang terputus. Kabur kleyangan, terbawa arus angin entah akan menuju kemana. Sebuah ketidakpastian hidup yang akan membawa kepada penderitaan yang berkepanjangan, baik di dunia hingga di alam akhirat.

Layangan dengan keceriaan permainannya, bukan saja sekedar dolanan bagi para bocah. Layang-layang menyimpan makna pesan pelajaran hidup yang sangat mendalam. Semua kembali kepada sudut pandang, jarak pandang dan cara pandang masing-masing anak manusia dalam menemukan himkah di balik permaianan layang-layang. Maka jika ruang dan waktu semakin membatasi keleluasaan gerak para bocah untuk bermain layang-layang, kemanakah mereka hendak melayang?

Ngisor Blimbing, 2 Juni 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

18 Balasan ke Kemana Lagi Layang-layang Hendak Melayang?

  1. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Aku biyen dolanan layangan nang galengan sawah mas. Kadang diseneni sing duwe sawah mergo ngrusak tanduran.

    Suka

  2. Agus Mulyadi berkata:

    Wah, jan Antiklimaks…. Lha dari awal tulisan, uraiannya sangat menunjukkan suasana desa dengan sawah dan lapangan pedesaan juga cempe-cempe-nya, serta dipenuhi oleh anak-anak yang main layangan… eh, di akhir malah ada gambar si Ponang yang berpose berlatarkan gedung pencakar langit khas kota metropolis… hilang deh suasana desa-nya…

    Suka

    • sang nanang berkata:

      desa semakin mengkota karena kuasa para pemilik modal Gus….
      jadilah suasana desa-desa(para desa, paradise) menjadi kenangan sekaligus impian sebagaimana surga yang dijanjikan

      Suka

  3. Bahtiar berkata:

    bocah-bocah saiki
    dolanan layangan neng layar monitor timezone mall-mall

    😦

    Suka

    • sang nanang berkata:

      permainan kini semakin instan dan mematikan kreativitas anak, njuk gimana hayo?

      Suka

      • Uji berkata:

        ibu-ibu kita minta jangan bekerja selama anak menjalani masa emasnya, supaya anak-anak kita ngerti banget apa yang mereka bakal butuhkan kelak.. tidak di kendalikan iklan produk mas..

        Suka

  4. Ryan berkata:

    beruntung saya pernah merasakan bagaimana “gedi-gedinan” lan “dowo-dowonan” buntut bikin layangan sendiri sama temen kampung. hehe…
    Ya, memang udah jarang anak-anak yang berlarian “ngolek” (mengejar layangan putus) sekarang. Jadi tak bisa berkata banyak ketika permainan digital lebih menguasai anak-anak jaman sekarang.
    Dan saya sedikit sedih, ketika lapangan di daerah kota Magelang sudah hampir punah. Semoga lapangan yang masih tersisa di Magelang bisa lestari, karena punya nilai historis yang tidak bisa dibeli oleh bagunan modern dan ruko …. 🙂

    Suka

  5. Adi Suryanto berkata:

    iyo,setuju banget ki………..jaman dulu layangan menjadi sebuah permainan sekaligus juga hiburan kala petang mejelang,aku masih ingat saat “ngulukke layangan neng ngarep deso” kalo ada yang terputus le ngoyak nganti rebutan ha3 ampe njungkel2 neng nggalengan wkwkwkwkwk 😦 tapi itu dulu, kini hanya bisa mengingat mengenang sambil tersenyum begitu polosnya kala itu. OKE BRADER terus berkarya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Suka

  6. Siluman Harimau berkata:

    Karena ga boleh panas-panas, saya main layangannya di indoor. Ngulukke nya pake kipas angin.

    Suka

  7. wah baru tau ada mantra seperti itu.. hehehe…. jadi ingat masa-masa menjadi anak layangan. sayangnya sekarang sudah tak banyak lahan bermain

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s